Postingan

Menampilkan postingan dengan label Secuil Memori

Parenting ala Pak Darif

Gambar
"Nduk, nanti kamu ke sini lagi yo! Kita harus nyangkruk kayak gini," kata bapak tua yang baru saja aku kenal malam ini. "Hadi, kamu nanti kabari aku ya kalo anak ini ke sini lagi, jangan sampai enggak!" perintahnya pada temannya, Hadi si tukang las dan tukang bubut kayu. "Iya, Pak, InsyaAllah ya. Kalau saya ngerjain tugas yang butuh las/bubut kayu pasti ke sini kok" "He, jangan pas tugas tok, kalau senggang aja.." "Hehe" ... "Mbak, saya heran, kenapa sampeyan kok mau ngobrol sama sopir-sopir ini? Kan biasanya mahasiswa apalagi yang cewek, mana mau gumbulan sama sopir gini?" "Lah, emang gitu Pak? Kalau saya memang suka ngobrol sama siapa saja." ***      Ingatan itu tiba-tiba saja muncul ketika aku dan mbakku diskusi mengenai alasan kenapa member Keluarga Darif kebanyakan ekstrovert dan mudah sekali bergaul dengan banyak orang. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya kami mempertanyakan hal ini. Hampir semua anggota kelua...

Tentang Panpan dan Lautan

Gambar
Bersama ikan-ikan. Apakah ada Panpan di sana? Aku melayang menyusuri semak lautan. Keindahannya setara dengan hutan di pegunungan. Ikan-ikan itu berkumpul mencari makan atau bergosip pagi bak sekelompok burung di hutan. Aku seperti benda asing yang mengambang di lautan. Mereka tidak menghiraukanku tapi juga tidak memperbolehkanku untuk join dalam percakapan mereka atau sebenarnya lebih pantas disebut gunjingan di pagi hari bersama tukang sayur. Kulanjutkan perjalananku menyusuri lautan ini. Seekor ikan datang menghampiriku. Ikan itu seperti tidak takut pada benda asing ini. Melihatnya aku jadi teringat ikan kecilku yang aku beli di pasar kaget, namanya Panpan. Tapi, apakah Panpan bereinkarnasi menjadi ikan di lautan? Semoga, karena tempat ini cocok untuknya. Di sini ada banyak teman, indah, banyak makanan, luas (tidak terbatas di akuarium), alami, dan pasti impian ikan-ikan hias yang dijual para manusia. Ataukah Panpan sudah menjadi burung di langit sana seperti impiannya selama ini? P...

Random Things that I Wanna Tell You

Gambar
Hari ini aku sudah siap untuk menceritakan bagaimana perjalananku akan terus berlanjut. Hmm, dari mana ya aku akan memulai kisah ini. Mungkin aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Aku adalah Dinda. Dari dulu aku tau bagaimana sebenarnya aku ini. Aku memiliki keinginan yang kuat walaupun sebenarnya kecerdasan otakku pas-pasan. Aku suka sekali mempelajari sesuatu. Aku suka mengeksplor banyak hal bahkan sampai sekarang. Mungkin itu menjadi sifat yang melekat dalam diriku sejak lahir. Sejak kecil aku suka sekali membaca, bukan kutu buku tapi memang suka saja. Sejak kecil juga aku belajar berdoa, belajar agama yang menjadi agamaku sampai sekarang. Sejujurnya aku punya otak yang cukup aneh. Aku dengan mudah mengingat hal-hal sepele yang jarang ter- notice oleh orang lain. Tapi bertolak belakang dengan itu, aku justru dengan mudah melupakan wajah orang. Keluarga besarku bukanlah keluarga yang agamis. Jadi aku belajar tata cara berdoa dan ilmu agama justru dari tempat ngajiku. Keluar...

Menuju "Baik"

Sebelum kalian membaca tulisan ini lebih jauh dan sebelum saya menulis lebih dalam, saya ingin memberitahu terlebih dahulu bahwa disini saya tidak bermaksud menjelekkan, memihak, maupun mengajak siapapun untuk mempercayai tulisan saya. Disini saya hanya ingin menuliskan isi pikiran saya. Kalian boleh banget mengutarakan pendapat kalian disini, saya sangat menyukai diskusi yang sehat. Selamat membaca~ ... Pada hari yang berawan, saat itu saya dan ayah saya berboncengan untuk pulang. Di perjalanan, tiba-tiba ayah saya menanyakan sesuatu pada saya. Entahlah, sebenarnya pertanyaan itu ditujukan pada saya atau pada dirinya sendiri. "Papa ini tidak tahu ya, sebenarnya menjadi manusia itu harusnya seperti apa? Apa yang baik seperti pakdhemu itu tapi terkesan bodoh karena kalau dijahati orang lain dia diam saja, atau seperti papa gini?" Saya cukup memahami maksud ayah saya ini. Karena pakdhe saya itu orangnya sangat baik dan tulus, tapi saking baiknya dia pernah ditipu temannya tapi ...

Pagi untuk Dinda

Gambar
Ada banyak yang terjadi di pagi hari. Bisa saja saya memberi judul tulisan ini dengan: Undercover Pagi Hari, Untold Story of Morning , atau apapun itu yang menceritakan tentang sesuatu yang jarang dipandang mengenai pagi hari. Sebelum bercerita tentang pagi, izinkan saya untuk bercerita sedikit mengenai malam. Malam adalah waktu bagi banyak makhluk beristirahat. Tapi malam bukan hanya sekadar soal istirahat, tapi malam memiliki ceritanya sendiri. Makhluk nokturnal selalu melakukan aktivitasnya di malam hari. Ketika terbangun untuk melihat bintang jatuh, saya selalu mendengar suara kelelawar, kucing-kucing yang sibuk, dan beberapa anjing berkeliling. Manusia pun begitu. Masih mengoceh di warung kopi untuk membicarakan tentang konspirasi, dunia, filosofi, dan spiritualisme. Ada juga yang sibuk bekerja di pabrik karena shift malam atau sebagai kupu-kupu malam. Di diskotik atau clubbing juga mungkin memilih mabuk agar masalah di siang hari bisa segera dia lupakan sementara. Dan masih bany...

Jurnal Perjalanan: Ijen-Baluran (Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo)

Gambar
Jember, 09 Juni 2023 Pukul 12.30 WIB. Aku baru saja pulang kerja. Terlihat dua temanku dari Pasuruan sudah datang dan adikku sedang bersiap-siap untuk perjalanan panjang kami. Aku segera masuk rumah, mandi, berganti baju, serta sembahyang. Oh iya, siram bunga! Aku bergegas ke lantai dua untuk menyiram bunga. Ke depan, ke belakang, ke depan lagi, lalu yang terakhir yaitu menyiram tanaman di lantai 1. Setelah menyiram bunga-bunga, aku menghidupkan air tandon kemudian packing barang-barang sambil meneliti satu-satu agar tidak ada yang tertinggal. Karena merasa kelebihan barang bawaan, aku meninggalkan satu sleepingbag dan hanya membawa satu. Sebenarnya saat itu aku ingin sekali meninggalkan jaketku karena aku sudah membawa 2 pakaian. Tapi tidak jadi. Tiba-tiba air tandon rumah luber, aku segera ke dapur dan mematikan air tandon. Tidak lupa aku mengunci pintu belakang & pintu kamar, membawa barang bawaan ke depan, mengeluarkan motor, mengunci pintu depan, serta menggembok pagar rumah...

Jeda

Aku duduk dibawah kedipan bintang-bintang pepohonan yang rimbun dan langit yang hitam pekat Aku ingin tinggal lebih lama disini Nyala api unggun meredup kelabu Kedipan bintang berubah menjadi sebuah tatapan Teman-teman disebelahku terdiam Terima kasih atas suasana tengah malam ini Aku ingin berdiskusi dengan Tuhan dan Semesta Kuhentikan waktu, kuberi sedikit jeda pada malam ini Tuhan, ini aku, anak Semesta Izinkan aku bertanya kepada-Mu dan tolong jawab semua pertanyaan yang kuajukan Ada beribu, berjuta, dan bahkan tak terhingga Tuhan, mengapa aku diciptakan? Padahal Kau tahu manusia akan merusak semesta ini Lalu mengapa aku diciptakan? Padahal Kau tahu aku tidak akan pernah se-patuh malaikat, makhluk ciptaan-Mu yang paling suci itu Dan mengapa aku diciptakan? Padahal manusia-manusia itu melihatku sebagai makhluk durhaka yang meragukan-Mu dengan pertanyaan-pertanyaan kurang ajar seperti ini Hah! Yang benar saja Ragu atau meyakinkan diri maksudku Masih ada banyak p...

Terima Kasih

Suara klakson dan kelip lampu kendaraan membangunkanku. Saya harus tersadar, saya tidak di rumah. Teringat ini perjalanan menuju tanah rantau. Mimpi indah di rumah harus berhenti sejenak. Karena kenyataan di perantauan tidak seindah impian di masa kecil. Kala itu saya pulang membawa luka dari tanah perjuangan. Bermaksud menyembuhkan, nyatanya belum sembuh total pun saya harus kembali. Kembali berjuang untuk menyelesaikan segala hal yang belum tuntas disana. Meski berat hati, tapi mau bagaimana lagi. Saya sudah memulainya. Hhh. Helaan napas menabrak angin AC mobil. Wanita dan pria asing di sebelah dapat tertidur pulas. Tapi saya tidak. Mungkin semenjak itu sudah tidak pernah pulas. Beban meninggi sementara saya  hanya bisa menuntaskan sedikit demi sedikit. Terlintas dipikiran untuk membiarkannya berjalan semaunya. Ingin pergi, menghilang, dan menikmati dunia ini sendiri. Tapi saya hidup tidak hanya untuk diri sendiri dan saya masih memiliki Tuhan. Berharap Tuhan memberika...

Jogja, 08:55 WIB

Gambar
19 Jan 2018 17 Jan 2018 Jogja, 08:55 WIB (Dinda Ayu Salsabila) Aku menatap hujan dari balik jendela kereta Pulang tanpa rindu terobati Sungguh sesak tertahan di dalam jiwa Andaikan aku mudah menangis Dengan luka tusuk rintik hujan Jogja Mengharap sembuh dengan syair penyemangat Tapi hanya tatapan sendu yang menghiasi wajah Kuhirup dalam aroma AC gerbong kereta Hhh... Bertahun stuck dalam rasa yang sama Sendiri aku merasa sepi Jember, 20 Januari 2018. 14:22 WIB

Hujan Turun dan Sewindu

Surabaya, 06 November 2017. 21:30 WIB. Hujan Turun, Dia kawanku, yang bernyanyi dengan amat keras, yang menggila di sepanjang jalan. Aku tahu dia sedang pilu. Menahan rasa untuk wanita yang meninggalkannya begitu saja. Dia umumkan rasa sakit itu pada semua orang. Mungkin mereka akan menganggapnya gila. Tidak dengan diriku. Kuikuti semua lagu yang dia lantunkan. Aku rasa, aku paham dengan perasaannya. Waktu Hujan turun, di sudut gelap mataku Begitu derasnya ‘kan kucoba bertahan -(Sheila On 7-Hujan Turun) Sewindu, Entah sudah berapa lama rasa itu menyelubungi dirinya. Entah sampai kapan dia akan membiarkan rasa sakit itu. Seperti seorang pecundang, dia hanya bisa mengumumkan pada dunia bahwa saat ini rasa sakit yang dia rasakan bukan main. Dan aku, menangis untuknya, untuk dirinya yang tak dapat meneteskan air mata. Semoga ini dapat meredam rasanya. Sesaat dia datang Pesona bagai pangeran dan beri kau harapan Ku halang cinta dan masa depan Engkau lupakan aku, semua usaha...

Empat Tahun Lalu

Gambar
Surabaya, 23:06 WIB 18/10/17 Dia liar. Seperti menari mengikuti irama dan lagu di lapangan. Aku melihatnya bebas. Permainan raket selalu membesarkannya. Shuttlecock dibuatnya terbang seperti jet dan jatuh mendarat di daerah lawan. Dia tersenyum kepadaku. Akhirnya aku melihat dirinya yang sesungguhnya. - empat tahun lalu 2013