Jurnal Perjalanan: Ijen-Baluran (Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo)

Jember, 09 Juni 2023

Pukul 12.30 WIB.

Aku baru saja pulang kerja. Terlihat dua temanku dari Pasuruan sudah datang dan adikku sedang bersiap-siap untuk perjalanan panjang kami. Aku segera masuk rumah, mandi, berganti baju, serta sembahyang. Oh iya, siram bunga! Aku bergegas ke lantai dua untuk menyiram bunga. Ke depan, ke belakang, ke depan lagi, lalu yang terakhir yaitu menyiram tanaman di lantai 1. Setelah menyiram bunga-bunga, aku menghidupkan air tandon kemudian packing barang-barang sambil meneliti satu-satu agar tidak ada yang tertinggal. Karena merasa kelebihan barang bawaan, aku meninggalkan satu sleepingbag dan hanya membawa satu. Sebenarnya saat itu aku ingin sekali meninggalkan jaketku karena aku sudah membawa 2 pakaian. Tapi tidak jadi. Tiba-tiba air tandon rumah luber, aku segera ke dapur dan mematikan air tandon. Tidak lupa aku mengunci pintu belakang & pintu kamar, membawa barang bawaan ke depan, mengeluarkan motor, mengunci pintu depan, serta menggembok pagar rumah. Lalu kami meninggalkan rumah.

Bondowoso, 09 Juni 2023

Pukul 13.27 WIB.

Kami mengemudikan motor. Aku dan adikku berboncengan, aku yang menyetir menggunakan motor bebek Revo.  Nurul dan Hanin berboncengan, Nurul yang menyetir menggunakan motor matic Vario. Selang beberapa menit, aku berhenti di pompa ban dekat Indomaret sekitar rumah. Kemudian tiba-tiba Nurul minta tukar motor karena katanya rem motor kirinya tidak enak. Sebenarnya aku pun merasa begitu, rem motor Vario milik papaku itu kurang "makan". Tapi kata papaku, sudah diservis jadi aku pikir tidak apa-apa. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Pukul 14.23 WIB.

Ketika di Indomaret (dokumentasi pribadi) 

Kami berhenti di Indomaret Bondowoso sebelah pom bensin terakhir. Adikku izin ingin buang air kecil dan aku suruh dia untuk membeli air minum. Hanin ikut adikku masuk ke Indomaret, entah mau beli sesuatu atau juga ingin buang air kecil. Aku dan Nurul menunggu di luar sambil berbincang mengenai Hanin minta ganti motor karena trauma rem blong sewaktu di Bromo beberapa bulan lalu (bersamaku juga waktu itu). Kemudian Nurul masuk ke Indomaret juga untuk membeli roti. Aku menunggu beberapa menit di luar. Akhirnya mereka pun keluar bersama.

Pukul 14.45 WIB.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Kalderan Ijen (jalan menuju Kawah Ijen via Bondowoso). Aku sudah beberapa kali melewati jalan ini, jadi ini bukan yang pertama kali. Aku paling suka ketika kami sudah memasuki hutan. Ternyata namanya Kalderan Ijen.

Pukul 16.00 WIB.

Kami sampai di pintu masuk atau pos pertama Ijen. Di sana terlihat banyak petani yang hendak pulang. Adikku sibuk bermain dengan kucing di sana, Nurul memotret pemandangan, aku berbincang dengan para petani, dan Hanin disuruh mencatat nama serta plat nomer motor yang kami bawa. Setelah selesai berhenti di pos, kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan adikku sangat takjub melihat pemandangan jalan menuju Ijen itu. Aku pun begitu, meskipun ini bukan pertama kali, aku selalu suka. Di pos kedua kami berhenti lagi dan mengobrol dengan bapak penjaga pos. Nurul penasaran dengan jenis kopi yang ditanam dan harganya berapa. Kalau tidak salah ini jenis Arabica dan seharga 150 ribu perkilo. Aku dan teman-teman dibuat kaget karena mengira itu harga tiket masuk Ijen. Oke, kami benar-benar tidak "dong". Hanya adikku yang nyambung. Terus kami tertawa bersama. Aku juga ingat kedua bapak penjaga pos menyuruh kami untuk kemah di sekitar pos aja karena nanti malam akan dibuatkan api unggun, terus salah satu bapak di sana juga guyon soal celana yang aku pakai katanya mirip celana temannya yang hilang itu. "Oleh teko endi celonomu iku?" - "Iki? Nemu nang kono. Hahaha".

Pukul 16.41 WIB.

Sunset di Kalipait (dokumentasi pribadi) 

Sunset terlihat indah dari tempat itu. Katanya hidden gem padahal semua orang tau, Air Terjun Kalipait. Bau belerang sudah mulai tercium dari tempat itu. Air belerang berwarna hijau dan ditambah pantulan sinar matahari di pohon itu terlihat indah berwarna kuning. Tapi di sana aku lebih tertarik untuk memotret sunset. Indah sekali. Beberapa kali kami selfie di tempat ini. Oh iya, kami juga bertemu dengan rombongan dari daerah barat (Surabaya, Probolinggo, dan.... aku lupa).

Sampai di parkiran Ijen kira-kira sudah hampir maghrib. Nurul dan Hanin bergegas untuk sembahyang. Aku dan adikku menyiapkan tenda.

Pukul 06.48 WIB. 

Makan malam di depan tenda (dokumentasi pribadi) 

Hawa dingin sudah menyelimuti gunung Ijen. Kami benar-benar kedinginan. Tenda yang harusnya khusus dua orang ini akhirnya diisi oleh 4 orang dan ya cukup, cukup membuat kami lebih hangat. Kami juga sempat makan malam pop mie dengan nugget dan nasi tadi sisa makan siang. Alhamdulillah, kenyang. Kami pun masuk ke tenda untuk tidur. Tetangga kami sangat berisik karena bernyanyi dan menikmati camping mereka. Kami lebih memilih untuk tidur karena perjalanan kami sangat melelahkan. Aku baru pulang kerja, Nurul dan Hanin baru datang dari Pasuruan, serta adikku menyiapkan perlengkapan. Tadinya kami menyumpahi mereka karena berisik "Jarno mereka rame, engkok pas mereka turu kene sing rame". Tapi salah satu dari mereka suaranya merdu kok. Aku suka mendengarnya menyanyikan lagu-lagu itu.

Pukul 20.00 WIB.

Aku terbangun karena ingin buang air kecil. Segera aku menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Hanin juga ikut ke kamar mandi ternyata. Di dekat kamar mandi ternyata bau bunga yang wangi sekali, entah itu bunga apa tapi ketika pagi bunga itu sudah tidak wangi. Aku melihat Hanin agak ketakutan ketika aku mulai membahas hal-hal klenik. Tapi sebenarnya itu sama sekali tidak menakutkan. Kami sembahyang di pinggir bangunan depan pos tiket. Kami sholat disitu karena mushollahnya sangat gelap.

Kami berjalan kembali menuju tenda. Hanin segera masuk tenda karena hawa dingin sedangkan aku sibuk menyiapkan tripod untuk memotret bintang. Bintangnya indah sekali. Aku sampai kesusahan mecari bintang kutub karena semua bintang sangat terlihat jelas di sini. Nurul pun terbangun dan ikut memotret bintang bersamaku. Kami mencari tempat yang tidak terkena polusi cahaya. Jujur saja, cahaya dari warung-warung mengganggu pandangan bintang-bintang itu. Tapi aku dapat jackpot yaitu Milky Way ternyata terlihat jelas di bulan Juni ini. Jpret!

Milky Way yang aku jepret (dokumentasi pribadi) 

Bondowoso/Banyuwangi, 10 Juni 2023

Pukul 04.00 WIB.

Aku, Nurul, dan Hanin segera bangun dan bersiap untuk mendaki. Kami membawa beberapa perlengkapan, sisanya ditinggal di tenda bersama adikku yang masih tidur. Perjalanan Ijen saat hari masih gelap memanglah yang terbaik. Aku lebih suka melihat tanpa senter karena ini sedang padang bulan. Indah tanpa cahaya buatan. Siluet pohon dan hiasan bintang-bintang di sekitarnya sangat indah, tapi sayang aku tidak bisa memotret karena terlalu banyak pengunjung sedangkan memotret bintang tidak sesimpel itu.


Kawah Ijen (dokumentasi pribadi) 

Ketemu Galuh di puncak dan foto bersama Hanin dan Nurul (dokumentasi pribadi) 

Entah pukul berapa kami sampai di puncak gunung, tapi yang pasti matahari sudah terlihat di balik pungggung gunung Ijen, mungkin sekitar pukul 6 atau setengah 7. Aku duduk, memotret sedikit, kemudian memandangi kawah Ijen yang cerah tanpa awan. Rupanya belerang tidak naik seperti dulu, makanya bau belerang tidak sepekat dulu. Aku juga sedang menunggu temanku yang menyusul datang ke Ijen. Tapi kami tidak dapat berlama-lama disini. Harus lanjut ke Baluran sebelum pukul 12 siang. Untungnya kami bertemu di pukul.... sekitar pukul 8 mungkin. Kami berfoto sedikit dan kemudian aku, Hanin, dan Nurul langsung kembali. 

Di sepanjang perjalanan Nurul kembali dulu, kemudian aku, dan kami memang meninggalkan Hanin karena harus segera melipat tenda, berkemas, lalu ketika Hanin datang kita semua siap untuk melanjutkan perjalanan.

Pukul 09.50 WIB.

Jalur Ijen-Baluran (google maps) 

Dari sini cerita yang sesungguhnya dimulai. Aku sebenarnya agak lupa pukul berapa kami meninggalkan wisata kawah Ijen. Sepertinya hampir pukul 10 pagi. Aku bersama adikku mengenakan motor matic berada di depan, Nurul dan Hanin di belakang menggunakan motor bebek. Sepanjang perjalanan aku banyak mengobrol karena ini kali pertama kami melewati jalan ini. Sepertinya komoditas di sini (jalur Banyuwangi) agak berbeda dengan jalur Bondowoso. Jalanannya sepi, Hanya ada 2 motor yang melintas agak lambat. Jalannya lumayan rusak. Tapi aku agak paham kenapa jalan ini rusak. Jelas saja jalan ini sangat menurun, kadang jalan yang rusak lumayan membantu jalan yang curam. Setidaknya motor menjadi lebih lambat.

Jalur Erek-erek dan kayaknya ini yang disebut Sengkan Ijen (google.com) 

Selanjutnya kami melintasi jalan curam. Jalan ini yang ternyata disebut sebagai Sengkan Ijen. Jalannya curam, di cekungan terdapat jembatan, lalu tanjakan yang lebih tajam. Di sini firasatku sudah mulai mengatakan untuk kembali. Ternyata setelah tanjakan ini kami melewati jalan kecil di antara tebing.

Jalur yang mirip gua (youtube.com) 

Komoditas di sini sudah sangat berbeda. Sepertinya aku melewati jalan yang salah. Di dalam hati antara kagum dengan jenis tanaman di sini atau takut salam ambil jalan (fyi di tempat tertentu mataku agak nyeleweng). Di sini aku mulai meminta adikku untuk terus berdoa. Jalanan menikung dan curam. Di dekat pohon besar dengan penanda aku berehenti. Penanda itu bergambar tengkorak dan bertuliskan "Hati-hati, daerah rawan kecelakaan". Nurul dan Hanin melintas, aku menyuruhnya untuk duluan karena aku tau di sini susah untuk berhenti. Aku tau tempat ini singup. Warnanya coklat seperti di daerah Rayap dan tulisan itu menambah kesan angker. Sepertinya pintu kesingupan ini adalah jalan kecil yang dicapit tebing itu. Jujur, sebenarnya aku ragu untuk melanjutkan perjalanan ini. Tapi entah kenapa sifat nekadku lebih dominan. Akhirnya aku lanjutkan perjalanan ini. "Cik, berdoao semoga onok dalan sing datar sebelum curam!"

Sengkan Mayit (kumparan.com) 

Banyuwangi, 10 Juni 2023

Aku mulai menyalakan motor dan meninggalkan tempat ini. Benar saja jalanan ini datar, tapi hanya beberapa meter, setelah ini jalanan ini curam dan menikung tajam. Di depan terlihat tanda tengkorak lagi. Aku meminta adikku untuk bersiap. Tikungan tajam itu langsung ke jurang, hanya ada beberapa ban dan pembatas jalan yang kurang berguna. Dan aku baru tau namanya Sengkan Mayit. Di bawahnya juga ada tikungan tajam dengan karung-karung di sampingnya, sepertinya disiapkan karena ini adalah daerah rawan kecelakaan.

Kayaknya yang ini Sengkan Saleh (youtube.com)

Jalan curam ini tidak berhenti sampai di sini. Terakhir jalan curam ini dinamakan Sengkan Saleh. Warnanya sudah bukan coklat, tapi hijau. Itu artinya jalan ini sudah tidak singup. Aku mulai lega. Kemudian aku mulai melihat cahaya jalan keluar, akhirnya kami pun keluar dari wilayah menegangkan ini yang disebut Erek-erek. Terlihat perkebunan warga, persis seperti di Cangar ke arah Batu. Indah. Disini motorku sudah mulai tidak beres. Rem kanan agak blong. Sepertinya dia kepanasan. Akhirnya aku pun berhenti lagi untuk istirahat. Beberapa menit setelahnya, aku kembali jalan karena ini sudah siang. Lalu kedua rem motor ini benar-benar blong dan tidak mau berhenti. Aku langsung berpikir untuk mengerem dengan kaki dan menjatuhkan motor ini. Tapi dimana? Terlihat di sebelah ini ada gungukan tanah dan rumput hijau yang lumayan tinggi. Aku sudah menemukan tempat yang pas untuk menjatuhkan motor ini. "Cik, siap-siap marine tak tibokno". Brak! Akhirnya motor kami jatuh dan untungnya kami langsung reflek untuk berdiri. Jujur sebenarnya aku bingung. Terlihat sepasang orang yang mau mendaki di Ijen melewati kami. Aku tau mereka sebenarnya khawatir. Kemudian tiba-tiba ada bapak yang sepertinya warga sekitar sini lewat. Dan bapak inilah yang menolong kami. Aku sangat berterima kasih, dunia ini masih ada dan bahkan banyak orang-orang baik.

TKP-nya setelah kafe-kafe ini (youtube.com) 

"Kenapa mbak?" tanya bapak itu pada kami berdua.
"Rem blong, Pak. Tadi habis dari Ijen, terus nyoba turun lewat hutan itu. Ternyata jalannya curam." Raut wajah bapak itu langsung berubah jadi agak takut dan panik.
"Sampeyan gakpopo?"
"Iya, untungnya gakpapa. Tapi remnya blong dua-duane."
"Untunge rem e sampeyan blong nang kene mbak. Soale nang Erek-erek iku rawan kecelakaan. Rem e akeh sing blong nang kono. Sampeyan berani turun pake motor ini?" tanya bapak itu pada saya.
"Enggak Pak, rem e iku blong dua-duane. Piye yo Pak?"
Bapak itu menggaruk dahinya menandakan sedikit kebingungan, "Yowes sampeyan pake motorku, nanti aku yang bawa motore sampeyan."
"Jangan Pak, bahaya. Bengkel jauh dari sini tah Pak?"
"Sek lumayan, Mbak. Gakpopo wes gitu ae sek sampe bengkel."
"Ya sudah kalau begitu.."

Pukul...

Aku dan adikku melanjutkan perjalanan menggunakan motor milik Bapak baik itu. Beberapa meter dari TKP, Bapak baik itu berdiri di pinggir jalan. Di sana terlihat motor matic kami sudah terjungkal di perkebunan. Melihat hal tersebut tentu saya langsung berhenti dan segera membantu. Saya tau kalau waktu itu Bapak baik itu merasa bersalah pada saya karena motor saya semakin rusak. Tapi saya tidak peduli, melihat Bapak baik itu selamat saja saya sudah lega, terlebih lagi bapaknya sudah membantu saya dan adik saya.

"Mbak iki rem e blong loro karone"
"Iya Pak, makanya saya sudah gak berani naik motor itu. Terus gimana ya Pak? Apa naik pickup aja?"
Di sini saya sudah panik. Jujur saja sebenarnya saya sudah tidak ingin menyetir lagi. Saya malah berharap motornya dinaikkan pickup bersama saya dan adik saya. Jadi saya tidak perlu menyetir. Tapi saya juga memikirkan biaya karena pasti akan memakan banyak biaya.
Saya melihat Bapak baik itu benar-benar berpikir cara terbaik yang bisa kami lakukan.
"Gini ae wes mbak, sampeyan ikut aku nyari bengkel. Biar adeke sampeyan meneng kene sek."
"Iyawes Pak gitu ae"

Akhirnya saya bersama bapak baik itu berangkat untuk mencari bengkel terdekat. Tapi sayangnya bengkelnya tidak sedekat yang saya kira. Mungkin masih sekitar 5 km lebih dari TKP. Nama bengkelnya Opik Motor (saya lihat di google maps). Jujur saja saya tidak ingat nama bengkelnya. Yang saya ingat bahwa di sana ada tempat potong rambut dan ada wifinya. Di bagian depan bengkel ada lapangan hijau dengan pohon kecil dan sebelah kanannya seperti penginapan.

Bengkel tempat motorku dibenerin (google maps) 

"Opo'o?" tanya salah satu bapak yang sedang duduk di bangku depan Pangkas Rambut ABHIAND (entah namanya apa tapi nama wifi pangkas rambut itu namanya).
"Iki areke mari tibo. Mau ketemu aku nang pinggir dalan, jare mari teko ijen. Rem motore blong. Lah loro karone, iki gegerku sampe catu," jelas bapak baik itu pada temannya. Entah teman atau tetangga, yang jelas mereka saling kenal.
Saya ingat dengan jelas bahwa wajah bapak yang duduk itu sangat khawatir dan kaget.
"Kok awakmu sing catu?" katanya pada bapak baik
"Iyo, mau sempet ijol motor. Karepku tak gowo nang kene, tibake loro karone sing blong. Sek onok arek siji maneh nang dhuwur kono."
"Awakmu ndang nggowo alat rono bareng munggah," kata bapak yang sedang memangkas rambut pelanggannya di dalam. Sepertinya bapak itu pemilik bengkelnya. Mas bengkelnya dan bapak baik itu berangkat untuk menjemput adik saya dan motor saya.

"Lungguh kene nduk. Awakmu berdua tok tah?"
"Enggak Pak, ada teman saya di depan. Tapi tadi saya suruh duluan soalnya harus jaga jarak kan biar tidak selalu ngerem di atas," jawabku.
"Saiki telponen koncomu iku."
"Gak ada sinyal Pak."
Bapak itu langsung menyuruh bapak pemilik bengkel yang sedang memangkas rambut pelanggan untuk membagikan password wifi, "Arek iki wehono password wifi."
Setelah itu saya langsung mengubungi Nurul dan Hanin. Benar saja, sudah banyak missed call Whatsapp di Hp saya. Kemudian saya share lokasi dan mengatakan bahwa saya sedang di bengkel. Mereka pun langsung menyusul.
"Jarno wes koncomu cek ndang nyusul rene. Awakmu mau lewat Erek-erek?" tanya bapak itu.
"Saya dari Ijen Pak, terus lewat jalan Ijen via Banyuwangi itu. Namaya Erek-erek tah?"
"Iyo iku erek-erek nduk. Awakmu tibo nang endi?"
"Saya jatuh di perkebunan setelah keluar dari Erek-erek itu."
Tatapan bapak itu langsung berubah dari tegang menjadi tidak percaya, "Untung awakmu gak tibo nang Erek-erek. Soale akeh sing mati nang kono. Pirang dino wingi onok elf tibo nang jurang Sengkan Mayit."
Jujur saya sangat syok mendengarnya. Pantas saja di jalur itu dipenuhi tanda peringatan bahaya. Saat itu saya semakin tidak ingin menyetir motor.
"Iya Pak, untunge saya jatuhnya di deket kebun itu. Soalnya di hutan-hutan itu jalurnya ekstrem. Apa itu Sengkan Mayit?"
"Sengkan Mayit iku jalur sing sak marine dalan sing koyok gua. Onok ban-ban karo gambar tengkorak nang kono."
Aku langsung ingat jalur itu, jalur yang benar-benar ekstrem, "Oh iya! Itu medheni di sana. Saya sempat ngira salah jalan, tapi sewaktu tak liat ya bener jalannya cuma itu."

Tiba-tiba terdengar suara telepon masuk dari mamaku. Aku yang kaget langsung mengangkatnya dan menceritakan bahwa aku dan adikku baru saja kecelakaan. Pastinya orang tuaku juga kaget, tapi aku senang mereka tidak marah, mereka cuma bisa pasrah dan yakin aku bisa menyelesaikannya. Kami berbincang sedikit tentang kegiatan mereka di Bandung (oh iya, btw ini orang tuaku lagi di Bandung). Kemudian langsung aku matikan teleponnya.

"Aneh, masa mamaku tiba-tiba telepon?"
"Mungkin wes firasat iku Nduk"

Tidak lama setelah kami berbincang, Nurul dan Hanin datang. Kami membicarakan tentang kejadian itu lagi. Kemudian datanglah mas bengkel menggunakan motor saya dan disusul bapak baik itu dengan segala perlengkapan naik gunung milik saya. Tapi ada yang aneh...
"Loh, adik saya mana Pak?"
Bapak baik itu langsung bingung, "Loh areke gak rene? Tak kiro karo awakmu le" (*le ditujukan pada mas bengkel)
"Ora kok, mau areke nang mburi."
Aku bingung melihatnya. Nomor adikku juga tidak bisa dihubungi karena tidak ada sinyal sama sekali. Akhirnya bapak baik itu berinisiatif untuk mencarinya.

Setelah agak lama, ternyata adik saya belum ketemu. Lalu terdengar dering telepon Hpku.
"Halo! Lah, awakmu nangdi?"
Ternyata adikku nyasar lumayan jauh. Dia kebablas. Akhirnya kami ribet untuk video call sambil menunjukkan penampakan sekitar bengkel. Bapak yang tadi berbincang denganku juga membantu mengarahkan. Sampai akhirnya setiap orang yang lewat di sana diberitau, "Pokok nek onok arek wedok jaketan kuning dan gak kudungan, kongkonen rene!"
Bapak baik itu pun juga berusaha menyusul adikku yang ternyata sudah sampai di pertigaan Desa Osing. Akhirnya mereka pun terlihat... Aku sangat lega.

Kemudian bapak baik itu pamitan untuk pulang. Saya mengucapkan terima kasih banyak pada bapak baik itu. Jujur sebenarnya saya ingin memberinya uang, tapi waktu itu uang saya benar-benar tinggal sedikit dan hanya cukup untuk membayar bengkel maupun beli bensin. Tapi di sini saya benar-benar berterima kasih, saya tau uang pun tidak akan cukup untuk membayar rasa terima kasihku pada beliau. Terima kasih... Tuhan pasti akan menggantikan semua hal baik yang telah beliau lakukan, Aamiin.

Pukul 11.16 WIB.

Aku sudah sangat ingin pulang, tapi Nurul memaksa untuk tetap melanjutkan perjalanan di Baluran. Aku tidak menggubris keinginannya. Akhirnya kami berempat berdebat dan agak bertengkar apakah jadi melanjutkan liburan ini ke Baluran atau tidak.

Pukul 12.03 WIB.

Kami melanjutkan perjalanan. Aku cuma dikenakan tarif 60 ribu untuk kerusakan yang cukup parah. Mungkin bapak pemilik bengket kasihan melihat kami. Saya juga mengucapkan terima kasih banyak kepada semua orang yang ada di sana.
"Kalian jadi ke Baluran?"
"Gak tau Pak, tapi kami pasti pulang lewat Baluran, kalo ke Gumitir malah jauh dan rawan longsor."
"Iya sudah, hati-hati ya..."

Omong-omong aku lagi yang menyetir karena aku tau kalau adikku kurang mahir dalam menyetir motor matic dan Hanin masih trauma akan kecelakaan di depan matanya baru-baru ini, ditambah kejadian motor blong di Bromo, dan sekarang blong lagi. Di sepanjang perjalanan aku cukup deg-degan setiap melalui jalan turunan. Bahkan aku sempat takut untuk menyalip kendaraan di depan. Tapi lama kelamaan aku terbiasa. Dan lagi motornya diperbaiki dengan benar. Remnya sangat aman, bahkan jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Perjalanan ini ternyata masih jauh. Aku tidak menyangka bahwa kami masih harus melewati bagian kota Banyuwangi. Kami juga melewati pelabuhan, stasiun, dan pesisir. Pintu masuk Bangsring sudah terlewat. Aku baru sadar bahwa Bangsring ke Baluran masih sangat jauh. Selama ini aku mengira dekat, ternyata aku salah kira, makanya dulu aku dan teman-teman hampir ketinggalan jadwal kereta.

Pukul 12.45 WIB.

Kami sudah sampai Baluran lebih cepat daripada perkiraan. Akhirnya aku pun menuruti keinginan Nurul untuk mampir ke Baluran sambil istirahat makan siang. Benar saja masuk ke Baluran sekarang tidak terlalu memakan banyak waktu, hanya sekitar 20 menit sampai Savana. Di Evergreen aku melihat buru biru yang cantik dan di dekat Savana ada Banteng/Kerbau mandi. Niat untuk makan, eh monyet di sana sangat nakal. Mereka mengambil minuman dan jajan kami yang tertinggal di motor. Akhirnya kami pun tidak jadi makan. Nurul dan Hanin berfoto sebentar sedangkan aku dan adikku menjaga barang-barang di motor agar tidak dicuri monyet-monyet itu. Benar-benar sangat singkat karena kami sangat diburu waktu. Sebenarnya Nurul mengajak ke pantai, tapi tidak aku bolehkan karena waktunya sudah sangat mepet.

Pukul 14.05 WIB.

Sekitar pukul 2 siang akhirnya kami sampai di pintu masuk Baluran. Kami memutuskan untuk menjamak waktu sholat nanti Ashar di Situbondo/ Bondowoso. Sepanjang perjalanan pulang mau tidak mau kami harus mengebut, untungnya jalan ini agak sepi. Nurul dan Hanin pun sudah bablas di depan. Aku memang menyuruh mereka duluan dan jika sampai di Jember pukul 5, lebih baik langsung saja ke Stasiun. Aku tidak cukup berani untuk mengebut lebih dari ini, masih trauma. 

Di sepanjang perjalanan aku dan adikku menemui beberapa kecelakaan. Ada dua truk terguling. Di ujung jalan Baluran ada kecelakaan motor entah dengan apa. Sebenarnya aku tidak ingin melihat, tapi aku khawatir itu Hanin dan Nurul. Jadi akupun memberanikan diri untuk menengok. Untung bukan mereka, entah aku harus bilang untung atau tidak karena orang itu berdarah-darah. Seorang bapak-bapak penuh darah. Sepertinya tidak menggunakan helm tapi bisa juga helmnya terlepas.

Aku kembali mengegas motor agar cepat sampai. Ternyata Situbondo sangat amat panas dan terik. Belum lagi ternyata Situbondo sangat luas. 

Singkat cerita kami sudah melalui gang menuju Balderan Ijen. Tapi hari sudah sore. Sekitar pukul setengah 5 sore sepertinya. Beberapa kali kami berhenti untuk istirahat karena bokong sudah sangat panas dan butuh isi bensin juga. Karena lewat Situbondo yang terik, saya menjadi dehidrasi. Minum berkali-kali pun rasanya masih sangat haus.

Pukul 17.20 WIB.

Aku dan adikku masih sampai di perbatasan Bondowoso-Jember. Aku juga yakin Hanin dan Nurul masih di sekitar sini. Di sini jalanan sudah lumayan ramai. Mungkin karena ini malam minggu.

Pukul 18.00 WIB.

Hari sudah gelap tapi aku sampai di wilayah Patrang untuk istirahat sekaligun menelpon Hanin dan Nurul. Aku menyuruh mereka untuk langsung ke Stasiun. Sekitar pukul enam lebih aku sudah sampai Stasiun tapi Nurul dan Hanin belum sampai.

Pukul 18.30 WIB.

Hanin dan Nurul sampai di Stasiun Jember. Mereka berpamitan sekaligus untuk memberikan kunci motor. Di Jember gerimis.

Pukul 18.45 WIB.

Hanin dan Nurul naik kereta. Aku dan adikku sudah sampai rumah dengan selamat. Alhamdulillah.


-end


Perjalanan kali itu benar-benar sangat berkesan dan cukup membuat trauma. Tapi saat itu saya tidak punya waktu untuk trauma. Bagaimana bisa saya trauma di saat orang tua saya masih di Bandung dan tidak bisa menjemput ke Banyuwangi? Tapi ya inilah perjalanan. Tidak selalu baik/ buruk, tapi menjadi cerita tersendiri.





Komentar