Jurnal Perjalanan: Ijen-Baluran (Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo)
Jember, 09 Juni 2023
Pukul 12.30 WIB.
Aku baru saja pulang kerja. Terlihat dua temanku dari Pasuruan sudah datang dan adikku sedang bersiap-siap untuk perjalanan panjang kami. Aku segera masuk rumah, mandi, berganti baju, serta sembahyang. Oh iya, siram bunga! Aku bergegas ke lantai dua untuk menyiram bunga. Ke depan, ke belakang, ke depan lagi, lalu yang terakhir yaitu menyiram tanaman di lantai 1. Setelah menyiram bunga-bunga, aku menghidupkan air tandon kemudian packing barang-barang sambil meneliti satu-satu agar tidak ada yang tertinggal. Karena merasa kelebihan barang bawaan, aku meninggalkan satu sleepingbag dan hanya membawa satu. Sebenarnya saat itu aku ingin sekali meninggalkan jaketku karena aku sudah membawa 2 pakaian. Tapi tidak jadi. Tiba-tiba air tandon rumah luber, aku segera ke dapur dan mematikan air tandon. Tidak lupa aku mengunci pintu belakang & pintu kamar, membawa barang bawaan ke depan, mengeluarkan motor, mengunci pintu depan, serta menggembok pagar rumah. Lalu kami meninggalkan rumah.
Bondowoso, 09 Juni 2023
Pukul 13.27 WIB.
Kami mengemudikan motor. Aku dan adikku berboncengan, aku yang menyetir menggunakan motor bebek Revo. Nurul dan Hanin berboncengan, Nurul yang menyetir menggunakan motor matic Vario. Selang beberapa menit, aku berhenti di pompa ban dekat Indomaret sekitar rumah. Kemudian tiba-tiba Nurul minta tukar motor karena katanya rem motor kirinya tidak enak. Sebenarnya aku pun merasa begitu, rem motor Vario milik papaku itu kurang "makan". Tapi kata papaku, sudah diservis jadi aku pikir tidak apa-apa. Kami pun melanjutkan perjalanan.
Pukul 14.23 WIB.
![]() |
| Ketika di Indomaret (dokumentasi pribadi) |
Kami berhenti di Indomaret Bondowoso sebelah pom bensin terakhir. Adikku izin ingin buang air kecil dan aku suruh dia untuk membeli air minum. Hanin ikut adikku masuk ke Indomaret, entah mau beli sesuatu atau juga ingin buang air kecil. Aku dan Nurul menunggu di luar sambil berbincang mengenai Hanin minta ganti motor karena trauma rem blong sewaktu di Bromo beberapa bulan lalu (bersamaku juga waktu itu). Kemudian Nurul masuk ke Indomaret juga untuk membeli roti. Aku menunggu beberapa menit di luar. Akhirnya mereka pun keluar bersama.
Pukul 14.45 WIB.
Kami sampai di pintu masuk atau pos pertama Ijen. Di sana terlihat banyak petani yang hendak pulang. Adikku sibuk bermain dengan kucing di sana, Nurul memotret pemandangan, aku berbincang dengan para petani, dan Hanin disuruh mencatat nama serta plat nomer motor yang kami bawa. Setelah selesai berhenti di pos, kami melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan adikku sangat takjub melihat pemandangan jalan menuju Ijen itu. Aku pun begitu, meskipun ini bukan pertama kali, aku selalu suka. Di pos kedua kami berhenti lagi dan mengobrol dengan bapak penjaga pos. Nurul penasaran dengan jenis kopi yang ditanam dan harganya berapa. Kalau tidak salah ini jenis Arabica dan seharga 150 ribu perkilo. Aku dan teman-teman dibuat kaget karena mengira itu harga tiket masuk Ijen. Oke, kami benar-benar tidak "dong". Hanya adikku yang nyambung. Terus kami tertawa bersama. Aku juga ingat kedua bapak penjaga pos menyuruh kami untuk kemah di sekitar pos aja karena nanti malam akan dibuatkan api unggun, terus salah satu bapak di sana juga guyon soal celana yang aku pakai katanya mirip celana temannya yang hilang itu. "Oleh teko endi celonomu iku?" - "Iki? Nemu nang kono. Hahaha".
Pukul 16.41 WIB.
![]() |
| Sunset di Kalipait (dokumentasi pribadi) |
Sunset terlihat indah dari tempat itu. Katanya hidden gem padahal semua orang tau, Air Terjun Kalipait. Bau belerang sudah mulai tercium dari tempat itu. Air belerang berwarna hijau dan ditambah pantulan sinar matahari di pohon itu terlihat indah berwarna kuning. Tapi di sana aku lebih tertarik untuk memotret sunset. Indah sekali. Beberapa kali kami selfie di tempat ini. Oh iya, kami juga bertemu dengan rombongan dari daerah barat (Surabaya, Probolinggo, dan.... aku lupa).
Sampai di parkiran Ijen kira-kira sudah hampir maghrib. Nurul dan Hanin bergegas untuk sembahyang. Aku dan adikku menyiapkan tenda.
Pukul 06.48 WIB.
![]() |
| Makan malam di depan tenda (dokumentasi pribadi) |
Hawa dingin sudah menyelimuti gunung Ijen. Kami benar-benar kedinginan. Tenda yang harusnya khusus dua orang ini akhirnya diisi oleh 4 orang dan ya cukup, cukup membuat kami lebih hangat. Kami juga sempat makan malam pop mie dengan nugget dan nasi tadi sisa makan siang. Alhamdulillah, kenyang. Kami pun masuk ke tenda untuk tidur. Tetangga kami sangat berisik karena bernyanyi dan menikmati camping mereka. Kami lebih memilih untuk tidur karena perjalanan kami sangat melelahkan. Aku baru pulang kerja, Nurul dan Hanin baru datang dari Pasuruan, serta adikku menyiapkan perlengkapan. Tadinya kami menyumpahi mereka karena berisik "Jarno mereka rame, engkok pas mereka turu kene sing rame". Tapi salah satu dari mereka suaranya merdu kok. Aku suka mendengarnya menyanyikan lagu-lagu itu.
Pukul 20.00 WIB.
Aku terbangun karena ingin buang air kecil. Segera aku menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Hanin juga ikut ke kamar mandi ternyata. Di dekat kamar mandi ternyata bau bunga yang wangi sekali, entah itu bunga apa tapi ketika pagi bunga itu sudah tidak wangi. Aku melihat Hanin agak ketakutan ketika aku mulai membahas hal-hal klenik. Tapi sebenarnya itu sama sekali tidak menakutkan. Kami sembahyang di pinggir bangunan depan pos tiket. Kami sholat disitu karena mushollahnya sangat gelap.
Kami berjalan kembali menuju tenda. Hanin segera masuk tenda karena hawa dingin sedangkan aku sibuk menyiapkan tripod untuk memotret bintang. Bintangnya indah sekali. Aku sampai kesusahan mecari bintang kutub karena semua bintang sangat terlihat jelas di sini. Nurul pun terbangun dan ikut memotret bintang bersamaku. Kami mencari tempat yang tidak terkena polusi cahaya. Jujur saja, cahaya dari warung-warung mengganggu pandangan bintang-bintang itu. Tapi aku dapat jackpot yaitu Milky Way ternyata terlihat jelas di bulan Juni ini. Jpret!
![]() |
| Milky Way yang aku jepret (dokumentasi pribadi) |
Bondowoso/Banyuwangi, 10 Juni 2023
Pukul 04.00 WIB.
Aku, Nurul, dan Hanin segera bangun dan bersiap untuk mendaki. Kami membawa beberapa perlengkapan, sisanya ditinggal di tenda bersama adikku yang masih tidur. Perjalanan Ijen saat hari masih gelap memanglah yang terbaik. Aku lebih suka melihat tanpa senter karena ini sedang padang bulan. Indah tanpa cahaya buatan. Siluet pohon dan hiasan bintang-bintang di sekitarnya sangat indah, tapi sayang aku tidak bisa memotret karena terlalu banyak pengunjung sedangkan memotret bintang tidak sesimpel itu.
![]() |
| Kawah Ijen (dokumentasi pribadi) |
![]() |
| Ketemu Galuh di puncak dan foto bersama Hanin dan Nurul (dokumentasi pribadi) |
Entah pukul berapa kami sampai di puncak gunung, tapi yang pasti matahari sudah terlihat di balik pungggung gunung Ijen, mungkin sekitar pukul 6 atau setengah 7. Aku duduk, memotret sedikit, kemudian memandangi kawah Ijen yang cerah tanpa awan. Rupanya belerang tidak naik seperti dulu, makanya bau belerang tidak sepekat dulu. Aku juga sedang menunggu temanku yang menyusul datang ke Ijen. Tapi kami tidak dapat berlama-lama disini. Harus lanjut ke Baluran sebelum pukul 12 siang. Untungnya kami bertemu di pukul.... sekitar pukul 8 mungkin. Kami berfoto sedikit dan kemudian aku, Hanin, dan Nurul langsung kembali.
Di sepanjang perjalanan Nurul kembali dulu, kemudian aku, dan kami memang meninggalkan Hanin karena harus segera melipat tenda, berkemas, lalu ketika Hanin datang kita semua siap untuk melanjutkan perjalanan.
Pukul 09.50 WIB.
![]() |
| Jalur Ijen-Baluran (google maps) |
Dari sini cerita yang sesungguhnya dimulai. Aku sebenarnya agak lupa pukul berapa kami meninggalkan wisata kawah Ijen. Sepertinya hampir pukul 10 pagi. Aku bersama adikku mengenakan motor matic berada di depan, Nurul dan Hanin di belakang menggunakan motor bebek. Sepanjang perjalanan aku banyak mengobrol karena ini kali pertama kami melewati jalan ini. Sepertinya komoditas di sini (jalur Banyuwangi) agak berbeda dengan jalur Bondowoso. Jalanannya sepi, Hanya ada 2 motor yang melintas agak lambat. Jalannya lumayan rusak. Tapi aku agak paham kenapa jalan ini rusak. Jelas saja jalan ini sangat menurun, kadang jalan yang rusak lumayan membantu jalan yang curam. Setidaknya motor menjadi lebih lambat.
![]() |
| Jalur Erek-erek dan kayaknya ini yang disebut Sengkan Ijen (google.com) |
Selanjutnya kami melintasi jalan curam. Jalan ini yang ternyata disebut sebagai Sengkan Ijen. Jalannya curam, di cekungan terdapat jembatan, lalu tanjakan yang lebih tajam. Di sini firasatku sudah mulai mengatakan untuk kembali. Ternyata setelah tanjakan ini kami melewati jalan kecil di antara tebing.
![]() |
| Jalur yang mirip gua (youtube.com) |
Komoditas di sini sudah sangat berbeda. Sepertinya aku melewati jalan yang salah. Di dalam hati antara kagum dengan jenis tanaman di sini atau takut salam ambil jalan (fyi di tempat tertentu mataku agak nyeleweng). Di sini aku mulai meminta adikku untuk terus berdoa. Jalanan menikung dan curam. Di dekat pohon besar dengan penanda aku berehenti. Penanda itu bergambar tengkorak dan bertuliskan "Hati-hati, daerah rawan kecelakaan". Nurul dan Hanin melintas, aku menyuruhnya untuk duluan karena aku tau di sini susah untuk berhenti. Aku tau tempat ini singup. Warnanya coklat seperti di daerah Rayap dan tulisan itu menambah kesan angker. Sepertinya pintu kesingupan ini adalah jalan kecil yang dicapit tebing itu. Jujur, sebenarnya aku ragu untuk melanjutkan perjalanan ini. Tapi entah kenapa sifat nekadku lebih dominan. Akhirnya aku lanjutkan perjalanan ini. "Cik, berdoao semoga onok dalan sing datar sebelum curam!"
Sengkan Mayit (kumparan.com)
Banyuwangi, 10 Juni 2023
Aku mulai menyalakan motor dan meninggalkan tempat ini. Benar saja jalanan ini datar, tapi hanya beberapa meter, setelah ini jalanan ini curam dan menikung tajam. Di depan terlihat tanda tengkorak lagi. Aku meminta adikku untuk bersiap. Tikungan tajam itu langsung ke jurang, hanya ada beberapa ban dan pembatas jalan yang kurang berguna. Dan aku baru tau namanya Sengkan Mayit. Di bawahnya juga ada tikungan tajam dengan karung-karung di sampingnya, sepertinya disiapkan karena ini adalah daerah rawan kecelakaan.
![]() |
| Kayaknya yang ini Sengkan Saleh (youtube.com) |
Jalan curam ini tidak berhenti sampai di sini. Terakhir jalan curam ini dinamakan Sengkan Saleh. Warnanya sudah bukan coklat, tapi hijau. Itu artinya jalan ini sudah tidak singup. Aku mulai lega. Kemudian aku mulai melihat cahaya jalan keluar, akhirnya kami pun keluar dari wilayah menegangkan ini yang disebut Erek-erek. Terlihat perkebunan warga, persis seperti di Cangar ke arah Batu. Indah. Disini motorku sudah mulai tidak beres. Rem kanan agak blong. Sepertinya dia kepanasan. Akhirnya aku pun berhenti lagi untuk istirahat. Beberapa menit setelahnya, aku kembali jalan karena ini sudah siang. Lalu kedua rem motor ini benar-benar blong dan tidak mau berhenti. Aku langsung berpikir untuk mengerem dengan kaki dan menjatuhkan motor ini. Tapi dimana? Terlihat di sebelah ini ada gungukan tanah dan rumput hijau yang lumayan tinggi. Aku sudah menemukan tempat yang pas untuk menjatuhkan motor ini. "Cik, siap-siap marine tak tibokno". Brak! Akhirnya motor kami jatuh dan untungnya kami langsung reflek untuk berdiri. Jujur sebenarnya aku bingung. Terlihat sepasang orang yang mau mendaki di Ijen melewati kami. Aku tau mereka sebenarnya khawatir. Kemudian tiba-tiba ada bapak yang sepertinya warga sekitar sini lewat. Dan bapak inilah yang menolong kami. Aku sangat berterima kasih, dunia ini masih ada dan bahkan banyak orang-orang baik.
![]() |
| TKP-nya setelah kafe-kafe ini (youtube.com) |
Pukul...
Aku dan adikku melanjutkan perjalanan menggunakan motor milik Bapak baik itu. Beberapa meter dari TKP, Bapak baik itu berdiri di pinggir jalan. Di sana terlihat motor matic kami sudah terjungkal di perkebunan. Melihat hal tersebut tentu saya langsung berhenti dan segera membantu. Saya tau kalau waktu itu Bapak baik itu merasa bersalah pada saya karena motor saya semakin rusak. Tapi saya tidak peduli, melihat Bapak baik itu selamat saja saya sudah lega, terlebih lagi bapaknya sudah membantu saya dan adik saya.
![]() |
| Bengkel tempat motorku dibenerin (google maps) |







.jpeg)

.jpeg)



Komentar
Posting Komentar