Postingan

Menampilkan postingan dengan label Singkat

Perjalanan Singkat

Aku berjalan di sebuah pegunungan tandus. Di sana terdapat batu yang besar dan sangat keras. Aku bertanya pada batu yang diam di atas guguran daun pepohonan kering, "untuk apa kerasmu? Kenapa tidak melunak saja?" Batu itu menjawab, "aku ini batu, jadi wajar jika aku keras. Andaikan aku bukan batu, aku bersedia untuk melunak." Benar juga..  Aku lanjutkan perjalanan kecil ini. Di jalan cabang itu ada mawar yang mengering. Aku bertanya kepadanya, "kenapa durimu tajam? Bukankah warna cantikmu sudah memenuhi segalanya?" Mawar itu pun menjawab, "hanya duri ini yang bisa melindungiku bahkan ketika aku mengering seperti sekarang. Warnaku hanya sesaat." Lalu aku melihat goa yang gelap di ujung sana. Kuputuskan untuk beristirahat di dalam goa itu. Di dalam goa itu terdapat kilauan dari stalaktit kristal. Indah sekali. Kuambil sedikit untuk kubawa pulang. Segera kumasukkan dia dalam kantong yang kubawa ini.  "Tolong jangan bawa aku! Biarkan aku di sini...

Jeda

Aku duduk dibawah kedipan bintang-bintang pepohonan yang rimbun dan langit yang hitam pekat Aku ingin tinggal lebih lama disini Nyala api unggun meredup kelabu Kedipan bintang berubah menjadi sebuah tatapan Teman-teman disebelahku terdiam Terima kasih atas suasana tengah malam ini Aku ingin berdiskusi dengan Tuhan dan Semesta Kuhentikan waktu, kuberi sedikit jeda pada malam ini Tuhan, ini aku, anak Semesta Izinkan aku bertanya kepada-Mu dan tolong jawab semua pertanyaan yang kuajukan Ada beribu, berjuta, dan bahkan tak terhingga Tuhan, mengapa aku diciptakan? Padahal Kau tahu manusia akan merusak semesta ini Lalu mengapa aku diciptakan? Padahal Kau tahu aku tidak akan pernah se-patuh malaikat, makhluk ciptaan-Mu yang paling suci itu Dan mengapa aku diciptakan? Padahal manusia-manusia itu melihatku sebagai makhluk durhaka yang meragukan-Mu dengan pertanyaan-pertanyaan kurang ajar seperti ini Hah! Yang benar saja Ragu atau meyakinkan diri maksudku Masih ada banyak p...

Tahi!

Surabaya, 25 April 2017. 21:50 WIB. TAHI! Seperti melihat hal paling menjijikkan. Begitulah caranya menatapku. Mungkin jauh lebih menjijikkan dari setumpuk tahi di depan mata. Kalau aku jadi dia, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Melirik. Membuang pandang. Mau muntah. Menjauh. Ya, ketika ada hal yang paling menjijkkan dari tahi, tentunya akan ku buang jauh-jauh dari pandanganku dan kubersihkan dengan sabun paling wangi agar bau itu tak lagi mengikutiku. Saat ada tahi itu lagi di depan mataku. Berkali-kali. Mungkin aku hanya akan mengabaikannya dan menjauhinya. Karena hal menjijikkan tetaplah menjijikkan meskipun aku sudah terbiasa melihatnya. Seperti tahi.

Waktu.

Surabaya, 20 April 2017. 22:01 WIB Waktu. Waktu selalu berlalu lalang di depanku. Seakan dia sibuk akan tugasnya yang teramat berat itu. Dia harus membimbing semua manusia untuk tetap berjalan pada waktunya. Dia tak pernah membiarkan manusia untuk kembali di waktu sebelumnya. Tak sedetikpun. Dia juga tak akan mengijinkan siapapun mengintip masa depannya. Karena manusia harus pada waktunya. Sebagai manusia, aku sendiri pernah berpikir untuk kembali di waktu yang membuatku bahagia. Atau aku ingin kembali untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanku. Tapi, waktu tak mengijinkannya. Katanya, “Kau hanya lelah terhadap hal yang aku lakukan sekarang. Istirahatlah. Setelah itu, jalani saja pada waktumu.” Berkali-kali aku juga berpikir, apa aku bisa mengintip secercah waktu selanjutnya? Aku ingin tau. Kadang aku juga lelah dibuat penasaran oleh sang waktu. Aku juga sering meraba-raba dan membayangkan diriku di masa depan. Tapi, kata waktu, “Bersabarlah. Pasti ada saatnya waktumu tiba.”

Wahai Hati

Surabaya, 13 April 2017. 21:01 WIB Wahai hati, aku tau kau di sini. Di dalam diriku. Aku tau kita satu. Aku tau kau yang mengendalikanku. Wahai hati, perasaan ini tak akan pernah nyata. Aku tau "rasa" itu tidak nyata. Tapi ada. Wahai hati, yang selalu menciptakan bayang semu. Bahagia muncul setiap aku memikirkan rasa. Wahai hati, apa kau tau ini apa? Aneh. Geli saat bahagia datang, remuk saat sedih menghampiri. .......... Aku tidak yakin, tapi ini yang kurasakan ketika tiba-tiba dia ada, Wahai Hati.