Si Gila dari Gua Besi
Orang yang di mobil itu apa tidak pernah jalan kaki?
Baru saja aku terkena cipratan genangan air dari mobil yang lewat. Padahal aku sudah pakai payung. Tetap saja celanaku basah kuyup. Bukan lagi sekadar terkena cipratan. Benar-benar basah kuyup.
Aku tidak habis pikir dengan orang-orang yang mengendarai mobil tapi tetap ngebut di tengah hujan seperti ini. Apalagi jelas-jelas ada pejalan kaki di pinggir jalan. Dan dia pakai mobil lagi. Haish.
Mungkin saja dia punya alasan kenapa harus terburu-buru. Mungkin juga dia akan bilang tidak melihat orang yang berjalan di pinggir jalan. Dan mungkin dia akan menyalahkanku kenapa jalan di jalanan kendaraan yang meskipun dia tau bahwa tidak ada trotoar sama sekali di sini.
Masalah ini sebenarnya sepele. Solusinya juga sederhana: aku tinggal mandi dan ganti pakaian. Selesai. Tapi entah karena hujan, atau karena aku sedang ingin memikirkan hal ini lebih jauh, pikiranku malah berjalan ke mana-mana.
Kalau dipikir-pikir, pejalan kaki memang seperti anak tiri di negara ini. Ini bukan pertama kalinya aku terkena cipratan genangan air saat berjalan kaki. Rutinitasku jalan kaki di pagi hari pun selalu sebelum jam enam. Lewat dari itu, jalan sudah dipenuhi kendaraan bermotor yang ngebut. Orang berangkat kerja, orang tua mengantar anak sekolah. Dan para jamet pulang. (Jamet=orang-orang norak yang suka pakai knalpot brong dan mengebut di jalan manapun)
Dan jangan berharap ada trotoar di sepanjang rute jalanku. Tidak ada sama sekali. Oh, sebenarnya ada satu trotoar. Tepat di depan kantor air minum itu. Tapi lantainya dari keramik rumah. Tolonglah. Jangankan hujan, kena debu saja sudah pasti licin.
Kalau kupikir lagi, dulu waktu masih sekolah dan berangkat naik sepeda, aku pernah ditabrak pengendara motor yang juga terburu-buru karena hujan. Aku masih ingat betul, orang itu tidak meminta maaf, bahkan tidak menolongku sama sekali. Aku hanya bersyukur waktu itu masih bisa pulang ke rumah.
Semakin dipikir, rasanya semakin tidak masuk akal untuk memaklumi si penciprat tadi. Dia pakai mobil, jelas tidak kehujanan. Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk mengebut seperti itu. Atau mungkin begini: karena dia tidak merasakan apa yang orang lain rasakan, dia jadi tidak bisa berempati?
Berarti, apakah empati baru tumbuh ketika kita pernah merasakannya sendiri?
Aku berharap suatu hari nanti orang itu punya kebiasaan berjalan kaki.
-din
(Sleman, 15 Maret 2026. 17.58 WIB)
Komentar
Posting Komentar