Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2023

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian VI: Cokelat Setengah)

Sepulang sekolah hari ini Eon terlihat sangat marah. Jelas saja dia marah, aku pun ikut marah ketika mengingatnya. Bahkan rasanya ingin menangis. Ternyata dunia ini pun sama saja. Dia langsung menuju kamar tidur tengah. Dia segara berganti baju lalu naik ke kasur dan menutup wajahnya. Di kepalanya terngiang suatu kejadian yang tadi terjadi di sekolah. Sabar ya Eon. Dulu maupun kini, ternyata dunia tetap sama, tidak ada bedanya. Hanya individu manusialah yang berubah. Entah lebih baik atau justru lebih buruk. ------- Disemester kemarin, Eon mendapatkan nilai rapor yang cukup bagus. Kalau tidak salah 90 atau 92, aku tidak terlalu ingat. Tapi yang pasti saat itu Eon sangat bahagia. Bukan main, ia sendiri tidak menyangka akan mendapatkan nilai di atas 90 untuk nilai matematika. Padahal sebenarnya hanya nilai matematikanya yang bagus. Tapi ya aku senang melihatnya bahagia seperti itu. Dia tidak perlu murung melihat nilai bahasanya yang lumayan buruk. Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa...

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian V: Bola Sepak yang Robek)

 "Huuu...Huuu...hiks, hiks," suara tangisan terdengar dari suatu sudut di dalam kelas 3. Padahal kelas ini begitu ramai, tapi terkadang telinga Eon memang cukup peka.  Seperti suara anak nangis, tapi dimana? Eonoia mulai berjalan ke arah sumber suara tangisan itu. Dia mulai menyusuri setiap barisan bangku di dalam kelas. Ternyata sumber suara itu ada di pojok bangku baris keempat. Di sana terlihat seorang anak laki-laki berseragam putih merah sedang memeluk lututnya. Ternyata Aksa! "He-" belum sempat Eonoia memanggil Aksa, tiba-tiba.. BRAK! "Mana Aksa?" teriak salah seorang anak sambil membanting pintu. Rupanya Leo. Semua mata langsung tertuju kepada Leo, termasuk Eon. Suaranya keras dan terdengar marah. "HE! MANA AKSA?" semua anak di dalam kelas terdiam dan tidak menjawab. Eon yang tadi berpaling langsung kembali melihat ke pojok bangku dimana Aksa meringkuk. Tangisannya terhenti tapi dia terlihat lebih takut dari sebelumnya. Leo dan teman-teman...

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian IV: Pangkat dan Akar)

Eonoia bukan anak yang jenius tapi menurutku dia cukup pintar. Dia tidak pandai menghafal seperti kebanyakan temannya di sekolah. Dia pandai menghitung. Bahkan sejak balita dia sudah pandai menghitung angpao hari raya yang diberi oleh orang tua, om, tante, budhe, pakdhe, dan saudara-saudara lainnya. Orang tuanya tidak bisa mengakali anak itu. Di tahun ketiga dia hidup, orang tuanya sudah tidak bisa mengakali anak ini. Uang yang dia punya, dia hitung sendiri dan disimpannya di dalam celengan ayam. Aku kira dia akan tumbuh menjadi anak yang menyukai uang. Tapi aku tidak akan membiarkan itu. Dia bahkan lebih spesial daripada para penyembah uang itu. Sewaktu kelas 2 SD, Eon menyukai perkalian yang diajarkan oleh Pak Etno. Baginya materi perkalian sudah seperti ilmu terbaik di pelajaran Matematika. Hampir setiap akan tidur dia selalu menghitung dan mengingat materi perkalian yang diajarkan tadi pagi. Dia merasa kagum. "Jadi perkalian itu tentang kelipatan ya?" tanyanya pada ibunya...