Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian V: Bola Sepak yang Robek)

 "Huuu...Huuu...hiks, hiks," suara tangisan terdengar dari suatu sudut di dalam kelas 3. Padahal kelas ini begitu ramai, tapi terkadang telinga Eon memang cukup peka. Seperti suara anak nangis, tapi dimana? Eonoia mulai berjalan ke arah sumber suara tangisan itu. Dia mulai menyusuri setiap barisan bangku di dalam kelas. Ternyata sumber suara itu ada di pojok bangku baris keempat. Di sana terlihat seorang anak laki-laki berseragam putih merah sedang memeluk lututnya. Ternyata Aksa!

"He-" belum sempat Eonoia memanggil Aksa, tiba-tiba.. BRAK! "Mana Aksa?" teriak salah seorang anak sambil membanting pintu. Rupanya Leo. Semua mata langsung tertuju kepada Leo, termasuk Eon. Suaranya keras dan terdengar marah. "HE! MANA AKSA?" semua anak di dalam kelas terdiam dan tidak menjawab. Eon yang tadi berpaling langsung kembali melihat ke pojok bangku dimana Aksa meringkuk. Tangisannya terhenti tapi dia terlihat lebih takut dari sebelumnya.

Leo dan teman-temannya langsung berpencar ke dalam kelas untuk mencari Aksa. Apaan sih ini? Leo dan Gara berulah lagi/? 

Gara adalah teman dekat Leo, nama sebenarnya Gahara tapi karena terlalu panjang dan sukanya cari gara-gara, Gahara lebih sering dipanggil Gara. Oke, akan aku jelaskan tentang kedua anak ini, hm mungkin tiga dengan Aksa tapi sebenarnya Aksa seperti anak pada umumnya sih dan Eon juga tidak terlalu kenal, oke dua! Leo adalah teman sekelas Eon. Mereka tidak terlalu dekat tapi cukup dekat karena selalu bersaing matematika di kelas. Anaknya badung dan bertingkah seperti preman kelas. Dia suka sekali memalak teman sekelasnya. Eon pun juga pernah dipalaknya, kadang diberi kadang tidak. Begitu juga Gara. Gara adalah teman dekat Leo, saking dekatnya perilaku mereka mirip. Sama-sama preman. Leo jadi jago kandang gara-gara punya teman si Gara ini. Tubuh Gara yang besar dan Leo yang selalu bersikap kasar, cukup membuat teman-temannya takut. Eon pun kadang juga takut menghadapi mereka.

Gara berjalan menuju lorong bangku tempat Eon berdiri. Wajahnya sama-sama terlihat marah. Eon hanya memandangnya dengan mata kesal. "Minggir!" Gara menabrak Eon sampai tangan Eon terbentur meja. Ah!

"INI AKSA!" wajahnya mendadak sumringah. Tapi Aksa semakin takut melihat Gara menemukannya. Leo yang tadinya menyusuri lorong bangku kedua, langsung bergegas mendatangi Gara. Gara langsung menarik lengan Aksa dengan kasar.
"Sini kamu!" Leo merangkul leher Aksa dan langsung membawanya keluar kelas. Gara melototi Eon dan kemudian berjalan menyusul mereka. Teman-teman sekelas Eon yang tadi sedikit mengerubungi lorong bangku keempat langsung menyingkir ketika mereka lewat dan juga menyusul mereka keluar.
Haish, lagi-lagi! Eon mengepalkan tangannya sambil mencakarkan kuku ibu jarinya pada jari tengah. Eon sepertinya sangat kesal dengan apa yang dilakukan Gara. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Entah mereka membawa Aksa kemana. Eon berusaha tidak peduli. Semua anak yang tersisa di dalam kelas langsung berkumpul dan mengobrolkan tentang apa yang baru saja terjadi. Eon juga ditanya mereka karena Eon-lah yang berada di TKP. Tapi seperti biasa, Eon memilih untuk tidak membicarakannya dan kembali ke bangkunya.

Beberapa menit setelah kejadian menjengkelkan itu, tiba-tiba Gabriel masuk ke kelas sambil terengah-engah.
"Hah.. hhh... Ternyata...hah.." Gabriel kembali berusaha mengambil napas. "Hhh.. Ternyata si Aksa habis merobek bola sepaknya Leo!" Kemudian Gabriel kembali lari menuju tempat Aksa dibawa oleh kedua anak badung itu. Beberapa anak yang mendengar langsung lari mengikutinya. Anak-anak yang bergosip di belakang tadi semakin ramai membicarakannya. Sesekali mereka melihat ke arah Eon. Eon masih duduk di tempat duduknya dengan perasaan tidak nyaman karena sedari tadi anak-anak itu membicarakannya.

Tak lama kemudian Eon berdiri. Dia juga keluar kelas dan menuju ke toilet. Di sebelah toilet banyak murid bergerombol. Ternyata Leo membawanya ke sini.. Tapi Eon tidak peduli dan malah masuk ke toilet. Di dalam toilet, Eon hanya membasuh mukanya. Di luar toilet terdengar ramai sekali. Entah ramai anak bergerombol dan saling bertanya "Ada apa? Ada apa?" atau ramai teriakan marah dari si Leo, Gara, dan beberapa gengnya mungkin. Dan, tangisan Aksa.

Dasar anak-anak SD ini, mereka terlalu banyak menonton sinetron. Kasus bullying seperti ini bahkan jadi hal yang lumrah di kalangan anak-anak SD, justru SD.

"KAMU ADA MASALAH SAMA AKU?" tiba-tiba terdengar teriakan Leo di tengah keramaian.
"Hiks, hiks..." Aksa tidak menjawabnya dan menangis. Aku bisa membayangkan betapa menakutkannya situasi itu.
"JAWAB!" teriak Gara.
"Jawab HE!" tambah yang lainnya.

Eon kembali membasuh mukanya dan kemudian langsung keluar dari toilet. Kerumunan itu semakin ramai tapi entah kenapa tidak ada guru yang melerai. Sepertinya guru-guru sedang rapat. Benar juga, dari tadi tidak ada guru yang masuk kelas setelah istirahat.

Bruak! Terdengar suara seseorang jatuh. Semua anak di kerumunan ini semakin mundur dan menabrak Eon yang lewat. Lengan Aksa diangkat dan ditarik kasar oleh Gara.
"HEH!!!" tiba-tiba Eon bangun dan berteriak dengan sangat keras. Dia segera memotong kerumunan dengan agak kasar dan menuju Gara yang sedang memegangi lengan Aksa. Langsung disenggolnya Gara dengan bahu kanannya, agak kasar. Gara hanya berpindah sedikit tapi mungkin lengannya jadi terasa sedikit sakit.

Jujur saja, kali ini aku tidak terlalu kaget karena Eon lumayan pendendam. Terutama ketika situasinya seperti ini. Banyak sekali yang memancingnya untuk turun tangan dan membalaskan kekesalannya. Mungkin perbuatannya bukanlah perbuatan terpuji, tapi menurutku kali ini dia ada benarnya.

Gara melotot marah dan melepaskan cengkeramannya dari lengan Aksa. Dia bergerak mendekati Eon dan segera mendorongnya. Belum sempat ia mendorong Eon. Bahunya langsung dipegang oleh Leo dengan maksud agar Gara tidak mendorongnya kembali. Leo langsung tertawa keras, "Hahaha, ngapain kamu di sini? Mau ikutan?"
Tatapannya seperti tatapan seorang psikopat. Seandainya aku memiliki kehendak dan bertubuh dewasa, mungkin sudah kuremas wajah anak itu.
"Dorong balas dorong, tadi Gara sudah mendorongku di kelas. Dan barusan," jawab Eon dengan nada tegas tapi sedikit bergetar. Dia seperti anak kerasukan setan, di matanya tidak terlihat ketakutan.
"Ya..ya..ya, udah pergi sana!" Leo mengangkat dagu untuk memberi isyarat agar Eon segera pergi. Tapi Eon tetap di tempat dan malah memandangi anak-anak di sekitarnya termasuk Leo dengan wajah badungnya, Gara yang masih sangat marah, Dewa.. Pras.. Bhama.
Leo yang tidak sabar segera menarik tangan Eon dan segera membawanya keluar dari kerumunan.

Pak Gembul alias Pak Rudi, guru olahraga mereka datang. "Hei hei hei... ada apa ini? Ayo buyar, buyar!" Pak Gembul menyuruh anak-anak yang sedang berkerumun itu untuk bubar. Tapi anak-anak hanya menjauh sedikit. Eon melihat Zin yang berdiri dibalik Pak Gembul dan ikut menjauh sedikit. Rupanya Zin yang melapor ke guru. Mata Zin terlihat khawatir melihat Eon ikut dalam pertengkaran Leo, Gara, Aksa, dan gengnya itu. Terlebih lagi Eon sedang ditarik dengan cukup kasar oleh Leo.

Gara yang sedari tadi masih berdiri di samping Aksa segera menjauh. Leo masih mengenggam tangan Eon dengan erat. Eon segera melepas genggaman itu dan mengibas-ngibaskan tangannya yang masih terasa sakit.

"Ayo, ayo ini yang tengkar ikut ke ruang guru!" tegas Pak Gembul pada anak-anak. "Aksa, Leo, Gara, dan sekawanannya ini. Dan... yang cewek ini siapa? Ayo ikut juga!" Aksa segera jalan menuju ruang guru, Gara dan teman-temannya masih saling menyalahkan tapi Pak Gembul menyuruh mereka agar segera jalan. Leo melototi Eon tapi Eon hanya membuang pandangan.

Di ruang guru Eon, Aksa, Leo, Gara, Dewa, Pras, dan Bhama dimarahi habis-habisan. Aksa yang menjelaskan pertama kali kenapa mereka sampai bertengkar. Rupanya Aksa memang sengaja merobek bola milik Leo karena Leo sudah menendang bola ke arah Aksa dengan keras tapi tidak minta maaf dan malah mentertawakan. Leo langsung berusaha membela dirinya karena itu tidak sengaja. Gara hanya ikutan sebal karena bola sepak milik Leo akan dipakai untuk mereka latihan sepak bola hari ini. Begitu pula dengan Dewa, Pras, dan Bhama mereka hanya ikutan karena mereka satu geng.
"Lalu kamu? Yang cewek ini kenapa ikutan?" tanya Pak Gembul dengan nada yang lumayan menyebalkan. Ngapain bawa-bawa gender! Haish! Aku semakin kesal dengan guru olahraga satu ini. Dasar gembul!
Eon menjelaskan kejadian yang membuatnya kesal tadi.

Meskipun telah menjelaskan alasan masing-masing, Pak Gembul tetap memarahi mereka. Mereka disuruh untuk saling meminta maaf. Tiba-tiba bel pulang sekolah berbunyi. Karena ada rapat guru tadi, sekolah jadi dipulangkan lebih cepat tapi ketujuh anak ini masih disuruh untuk menulis surat minta maaf dan pernyataan agar tidak mengulangi perbuatan tercela mereka seperti tadi. Zin mengintip dari pintu ruang guru. Eon yang melihat Zin menintip, mengode agar Zin pulang duluan. Sambil mengangkat kertas dan pensil, Eon memberi isyarat bahwa dia masih disuruh untuk menulis surat permohonan maaf. Zin melotot dan mengode, "Gakpapa?" Eon menangangguk dan melambaikan tangan pada Zin.

Setelah surat permohonan maafnya selesai, Eon segera menyerahkannya pada Pak Gembul dan salim, "Jangan ikut-ikut tengkar lagi loh ya, Nduk.."
"Iya, Pak" Eon segera pergi menuju kelasnya dan mengambil tasnya yang masih tertinggal di dalam kelas. Dia melihat Aksa pulang dengan terburu-buru karena dia ikut mobil jemputan bersama. Setelah mengambil tasnya, Eon berpapasan dengan Gara dan Leo. Gara masih terlihat kesal. "Kamu sih ikut-ikut.." kata Leo kepada Eon, tapi Eon tidak menggubrisnya dan segera berjalan untuk pulang. Leo melihat Eon yang melaluinya begitu saja dan mengabaikan ucapannya. Kali ini wajahnya terlihat sedikit lega. Kenapa? Entahlah.

Leo dan Gara menuju gudang sekolah untuk mengambil bola. Rupanya mereka masih harus latihan sepak bola. Begitu pula dengan Dewa, Pras, dan Bhama. Eon pulang sendirian dengan perasaan sedikit jengkel. Kenapa harus urusan dengan anak kayak Leo dan Gara sih? Hhh...

Hari ini terasa lebih lama dari biasanya. Satu sifat tidak terduga Eon telah muncul satu per satu. Aku tau betapa keras Eon menahan sifat-sifat itu. Tapi aku ada bukan untuk menahannya. Eonoia tetaplah Eonoia.

***

"Eon! Aku punya ide!" Zin menyambut Eon yang baru datang di kelas. Hari ini Zin ada piket makanya Eon tidak berangkat bersamanya.
"Apaan sih Zin? Tiba-tiba banget..."
"Ayo kita iuran saja! Kita belikan saja bola sepak yang dirusak Aksa. Gimana?" bisik Zin sambil menutup daun telinga Eon dengan telapaknya.
"Emang anak-anak mau?"
"Udah, anak-anak udah ngumpulin uangnya, itu!" tunjuk Zin ke meja guru yang dipenuhi beberapa anak. Lily, Binar, Ihsan, Azam, Gita langsung mengacungkan jempol ke Eonoia.
Eon tersenyum merekah melihat teman-temannya berbuat sesuatu yang baik untuk membantu temannya. Eon segera mengeluarkan uang dua ribu dari sakunya.

Azam dan Ihsan langsung pergi untuk membeli bola sepak di warung sebelah sekolah. Aksa baru saja masuk ke dalam kelas dan segera duduk di bangkunya. Dia masih terdiam, tidak seperti biasanya. Beberapa saat Leo dan Gara juga masuk sambil bercanda begitu keras. Gara melirik Aksa yang duduk di bangkunya. Aksa pun menundukkan kepalanya. Leo pun melirik Eon yang masih mengobrol dengan Zin, Lily, Binar, dan Gita di meja guru.

Sebelum bel masuk berbunyi, Azam dan Ihsan datang dan menyerahkan kerese berisi bola sepak kepada teman-temannya yang masih di sekitar meja guru. "Ini!"
Eon pun segera menuju bangku Aksa dan menyerahkan keresek itu kepada Aksa, "Ini teman-teman yang beli untuk mengganti bola yang kamu rusak."
Aksa mendongak dan melihat teman-teman Eon mengikuti Eon menuju bangkunya, "Terima kasih Eon.."
"Bukan aku. Tapi Zin, Lily, Binar, Gita, Azam, dan Ihsan."
"Iya, terima kasih teman-teman. Eon, Zin, Lily, Binar, Gita, Azam, dan Ihsan," ucap Aksa dengan mata berkaca-kaca.
"Udah, kasihkan ke Leo sana! Jangan takut.." ucap Eon.
"Iya, jangan takut, Sa!" tambah Zin.
"Benar, jangan takut Sa. Tenang aja," tambah Azam dan yang lain.

Leo melihat ke arah bangku Aksa yang dikerumuni Eon, Zin, dan teman-teman.
"Ngapain lagi tuh si Eon?" tanyanya pada Gara. Gara yang tadi mengobrol menghadap Leo jadi menoleh ke arah Eon.
"Gak tau. Mungkin mereka lagi sok peduli," jawab Gara dengan nada tidak peduli. "Jangan-jangan Eon suka sama si Aksa, Hahahah..." nada tidak pedulinya berubah menjadi nada mengejek dan sangat menjengkelkan.
Leo mengerutkan dahi sambil memicingkan mata ke arah Eon.

"Leo, ini bola gantinya yang sudah aku rusak. Maaf ya, " kata Aksa yang tiba-tiba sudah berada di samping bangku Leo. Leo kaget melihatnya. Dia tidak menjawab apapun. 
"Harusnya dari kemarin tuh gini, " timpal Gara sambil menyabet keresek berisikan bola sepak itu. Aksa menunggu jawaban dari Leo.
"Iya iya udah sana!" jawab Leo ketus sambil mengibaskan tangan dan mengusir Aksa dari hadapannya. Kemudian dia melirik ke arah Eon. Eon dari kejauhan memalingkan wajah dan segera merangkul Zin untuk pergi dari bangku Aksa. Leo sedikit kesal melihat Eon bersikap seperti itu kepadanya. 

Ternyata Zin benar, lebih baik seperti ini daripada melawan kebodohan dengan kebodohan. Tapi aku kesal juga Leo seenaknya ke anak lain.

Untungnya hari ini tidak terjadi pertengkaran seperti kemarin. Dan yang terpenting Eon belajar dari Zin agar bisa bersikap lebih bijak.



Din, Jember 13.00 (28/06/23)

Komentar