Eonoia bukan anak yang jenius tapi menurutku dia cukup pintar. Dia tidak pandai menghafal seperti kebanyakan temannya di sekolah. Dia pandai menghitung. Bahkan sejak balita dia sudah pandai menghitung angpao hari raya yang diberi oleh orang tua, om, tante, budhe, pakdhe, dan saudara-saudara lainnya. Orang tuanya tidak bisa mengakali anak itu. Di tahun ketiga dia hidup, orang tuanya sudah tidak bisa mengakali anak ini. Uang yang dia punya, dia hitung sendiri dan disimpannya di dalam celengan ayam. Aku kira dia akan tumbuh menjadi anak yang menyukai uang. Tapi aku tidak akan membiarkan itu. Dia bahkan lebih spesial daripada para penyembah uang itu.
Sewaktu kelas 2 SD, Eon menyukai perkalian yang diajarkan oleh Pak Etno. Baginya materi perkalian sudah seperti ilmu terbaik di pelajaran Matematika. Hampir setiap akan tidur dia selalu menghitung dan mengingat materi perkalian yang diajarkan tadi pagi. Dia merasa kagum.
"Jadi perkalian itu tentang kelipatan ya?" tanyanya pada ibunya sebelum dia tidur.
"Iya Eon, setelah perkalian ada yang namanya pangkat dan akar," jawab ibu Eon yang sudah mengantuk.
"Pangkat dan akar? Seperti apa itu?" tanyanya lagi. Tapi tidak ada jawaban. Jelas saja tidak ada jawaban, ibu Eon sudah tertidur lebih dulu.
Lagi-lagi Eon sulit tertidur karena memikirkan perkalian. Dan sekarang ada materi pangkat dan akar di otaknya. Ada beberapa hal yang membuat Eon sulit tidur: pertama karena dia sudah tidur siang, kedua perasaan bahagia (sebelum liburan dan hari raya), ketiga otaknya yang terus berpikir. Saat ini Eon kesulitan tidur karena otaknya terus berpikir tentang salah satu materi dalam pelajaran Matematika itu.
***
Keesokannya, seperti biasa Eon mencari materi yang dikatakan ibunya itu, tentang pangkat dan akar. Dia buka-buka LKS dan buku paket yang dia punya. Kok tidak ada ya. Coba cari di bukunya Mas Abhi deh.
Oh iya, Abhi adalah sepupunya yang dua tahun lebih tua darinya dan juga dititipkan di neneknya dari pulang sekolah sampai sore nanti ketika orang tuanya sudah pulang kerja. Selain Eonoia dan Abhi sebenernya masih ada beberapa saudara lainnya yang juga dititipkan ke neneknya yaitu Widya dan Aga.
Sepulang sekolah Eon tidak sabar menunggu Abhi pulang. Dia ingin meminjam buku Matematika milik Abhi. Sambil menunggu Abhi pulang, Eon bermain di rumah Zin. Setelah pukul setengah satu, Eon pamit pada Zin dan segera pulang. Tepat Eon keluar dari rumah Zin, terlihat Abhi, Widya, dan Aga pulang bersama-sama. Eon langsung lari dan mengejar Abhi.
"Mas, pinjem buku matematika."
"Hah? Buat apa?" Abhi bingung melihat adik sepupunya berlari dan menanyakan buku matematika miliknya.
"Ada deh." Dasar Eonoia, dia tidak suka orang lain tahu tentang apa yang dia lakukan.
"Lah, gak usah deh kalau gitu."
"Kenapa?"
"Ya jawab dulu mau buat apa"
"Mbak Widya?"
"Hari ini gak ada pelajaran Matematika Eon," jawab Widya dengan nada yang lembut seperti biasa.
"Aga?" Aga cuma menggeleng.
"Haishhh" Eon menggerutu.
"Kan, makanya jawab dulu," ejek Abhi. Eon cuma diam dan cemberut.
Bentar, jangan-jangan bukunya ada di kamar bapak. Hehehe, kayaknya iya. Fyi, kamar bapak itu maksudnya adalah kamar bekas kakeknya yang sudah meninggal.
Abhi yang melihat Eon tiba-tiba cengar cengir sendiri sebenarnya sudah curiga. Tapi dia membiarkannya itu bukan kali pertama Eon melakukan hal aneh. Benar-benar sudah lumayan sering. Aku akui. Widya dan Aga sudah pergi duluan, Abhi juga menyusul mereka. Mereka lebih memilih untuk segera istirahat daripada mengurusi adiknya yang mungkin bertingkah aneh lagi.
Eon pergi ke ruang keluarga untuk menonton TV sambil tiduran. Dia tidak sedang menonton televisi, aku tau dia tidak menonton. Dari tadi dia hanya memandang ke ruang makan dan dapur untuk memastikan apakah kakak-kakaknya sudah pergi tidur atau masih sibuk makan siang. Widya terlihat masuk ke dalam kamar tengah, Aga dan Abhi pergi keluar rumah. Hihihi, Mbak Widya mau tidur, Mas Abhi dan Aga main. Yes!
Eon segera mematikan televisi dan masuk ke kamar bapak di sebelah ruang makan. Dia buka ransel hitam milik Abhi dan Aga. Tak lupa milik Widya. Ternyata benar Mbak Widya, hari ini gak ada pelajaran matematika. Anak ini tetap tidak percaya, dia selalu ingin memastikannya sendiri. Kemudian dia menuju meja belajar milik kakeknya. Ternyata di sana Abhi meletakkan buku matematikanya. Sesekali Eon melihat ke pintu untuk memastikan tidak ada yang melihatnya. Eon mencari materi mengenai perpangkatan. Nah ini! Eon menyalin rangkuman materi pangkat dan akar di buku tulisnya. Buku ini sudah seperti kitab sakral miliknya. Orang lain tidak boleh tau mengenai buku ini. Dia menuliskan semua yang ingin dia pelajari, ekspresi kekesalan, cerita singkat hidupnya, dan lain sebagainya. Semua itu dia tulis ya di buku sakral itu.
Setelah selesai, Eon menutup kembali buku milik Abhi dan mengembalikan seperti semula agar tidak ketahuan. Seperti biasa, Eon langsung kembali ke markasnya yang bukan rahasia yaitu di lantai 2. Kali ini dia tidak mau bermain dengan semut, boneka, tanaman, atupun ikan-ikan milik neneknya. Dia hanya ingin mempelajari pangkat dan akar. Dia membaca buku itu seakan-akan tau apa yang dia pelajari.
Satu pangkat dua sama dengan satu. Dua pangkat dua, empat. Tiga pangkat dua, sembilan. Oalah, perkalian bilangan yang sama! Satu pangkat tiga, satu. Dua pangkat tigaa.., dua kali dua empat, empat kali dua, delapan! Halah gampang ini. Hahahah...
Tawanya seperti tawa penuh kemenangan. Dia merasa senang karena rasa penasarannya sudah terjawab dan dia bisa memahaminya tanpa guru.
Akar. Akar satu adalah satu. Akar empat, dua. Akar sembilan, tiga. Yaampun, ini kan kebalikannya. Sebentar, memangnya akar delapan ada? Oh ini, ini! Akar pangkat tiga dari delapan, baru dua! Edyan! Pinter kamu Eon!!!
***
Malam tiba, seperti biasa sebelum tidur Eon bertanya ke ibunya, "Jadi pangkat itu perkalian angka yang sama ya?"
Ibu Eon mengangguk, "Benar Eon, tapi sekarang tidur dulu ya, besok lagi."
Dia melihat ayahnya juga sudah tidur. Sebenarnya Eon tidak suka ketika ibunya hanya bereaksi seperti itu ketika Eon sudah mencapai hal yang menurutnya membanggakan. Tapi dia tidak terlalu mengambil pusing. Di kepalanya penuh dengan bilangan pangkat. Satu pangkat satu, satu. Dua pangkat dua, empat. Tiga pangkat tiga, sembilan. Empat pangkat empat, enam belas.... Eon pun tertidur.
Benar, Eon. Seharusnya orang tuamu bangga karena kamu sudah berusaha belajar pangkat dan akar, bahkan mencari jawabannya sendiri. Kamu hebat Eon!
Komentar
Posting Komentar