Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian VI: Cokelat Setengah)

Sepulang sekolah hari ini Eon terlihat sangat marah. Jelas saja dia marah, aku pun ikut marah ketika mengingatnya. Bahkan rasanya ingin menangis. Ternyata dunia ini pun sama saja.

Dia langsung menuju kamar tidur tengah. Dia segara berganti baju lalu naik ke kasur dan menutup wajahnya. Di kepalanya terngiang suatu kejadian yang tadi terjadi di sekolah. Sabar ya Eon. Dulu maupun kini, ternyata dunia tetap sama, tidak ada bedanya. Hanya individu manusialah yang berubah. Entah lebih baik atau justru lebih buruk.

-------

Disemester kemarin, Eon mendapatkan nilai rapor yang cukup bagus. Kalau tidak salah 90 atau 92, aku tidak terlalu ingat. Tapi yang pasti saat itu Eon sangat bahagia. Bukan main, ia sendiri tidak menyangka akan mendapatkan nilai di atas 90 untuk nilai matematika. Padahal sebenarnya hanya nilai matematikanya yang bagus. Tapi ya aku senang melihatnya bahagia seperti itu. Dia tidak perlu murung melihat nilai bahasanya yang lumayan buruk. Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, hahaha semuanya tidak terlalu bagus.

Hari ini Eon ada ulangan matematika. Semalam dia belajar tidak terlalu banyak karena dia sudah belajar di hari sebelum-sebelumnya. Bahkan semenjak semester ini baru saja dimulai dia selalu belajar sepulang sekolah. Tidak, bukan karena Eon rajin, tapi Eon diminta Zin dan Gita untuk mengajari mereka matematika. Jadi setiap ada pelajaran matematika, mereka selalu pulang terlambat dan belajar matematika bersama di kelas 5. Itu bagus bukan!?

Sepulang sekolah Eon langsung pulang ke rumah dan siangnya bermain di sekitar rumah bersama Zin. Ketika bermain naga-naga di lapangan kampung, Eon melihat dua anak di belokan dekat warung layang-layang, sepertinya dia kenal. Itu Leo dan Gara! Eon langsung berpindah dan membelakangi mereka. Tapi...
"EON!" teriak Leo dari depan warung sambil membawa layang-layang yang baru saja dibelinya. "EONOIA!!!"
Zin menoleh ke arah seseorang yang sedang memanggil Eon. Dia heran kenapa Eon tidak menoleh.
"Eh, Leo! Gara!" sapa Zin.
"Loh Zin!" Leo berjalan menuju Eon dan Zin yang sedang bermain mencari naga-naga di sekitar lapangan. Gara juga berjalan mengikuti Leo yang menghampiri kedua gadis kecil ini. Zin melambaikan tangan untuk menyapa Leo dan Gara. Tapi Eon hanya meliriknya sedikit. Bukan sombong, tapi Eon malas mau berurusan dengan mereka berdua. Dia selalu merasa akan mendapatkan masalah ketika berurusan dengan mereka. Bukan hanya kejadian bola robek di kelas 3, tapi masih ada kejadian-kejadian lain seperti berpapasan ketika Leo membolos; kaca ruang guru yang pecah sewaktu kelas 4; dan yang terakhir Eon dituduh Gara menghilangkan kertas tugasnya, padahal dibawa Leo ketika Gara tidak masuk sekolah. Benar-benar badung!
"Hm!" Gara berdeham di belakang Eon dan Zin. Zin segera berdiri dan bertanya pada kedua laki-laki itu, "Kalian dari Cak Mul?"
"Hei, Eon!" Leo menepuk bahu kanan Eon. Eon yang sedari tadi jongkok langsung berdiri dan berpura-pura baru melihat mereka berdua, "Eh, Leo! Gara juga? Hei!"
"Iya Zin, ini aku dan Gara baru dari Cak Mul beli layang-layang. Rumah kalian di sini?" tanya Leo berusaha bersikap ramah pada kedua gadis itu.
"Iya dekat sini. Itu di sebelah sana rumah neneknya Eon, tapi Eon tinggal di sana. Rumahku masih agak masuk," jawab Zin. Eon mencubit bokong Zin sebagai tanda agar dia tidak banyak omong.
"Udahlah Leo, kita pulang aja. Aku sudah tidak sabar mau adu layangan nih!" ajak Gara yang kali ini dia tidak ingin mencari gara-gara.
"Jadi kamu tinggal bersama nenekmu di sini, Eon?" tanya Leo tidak menggubris ajakan Gara.
"Iya. Kamu kok beli layangan di sini?" tanya Eon berusaha bersikap ramah pada Leo dan sebenarnya dia hanya basa-basi. Dia tau kalau layangan buatan Cak Mul terkenal di sekitar kampungnya, termasuk mungkin sekitar rumah Leo. Setiap hari Leo pulang berjalan kaki seperti dirinya, hanya beda arah. Jadi Eon berpikir kemungkinan rumah Leo dekat sekolahnya dan dekat kampungnya pastinya.
"Iya, layangan di sini kan terkenal, mau buat main sama Gara dan sekalian kulak. Ibuk nyuruh kulak," jawabnya sambil tersenyum pada Eon. Ini anak aneh banget, tiba-tiba senyum kayak gitu. Apaan sih. Ah yaudah sih, setidaknya hari ini sepertinya tidak akan ada masalah.
"Ah udahlah Leo! Zin, Eon, aku pulang duluan, ntar aku masih ada les. Gak keburu main. Ikut gak kamu, yo?" Gara langsung nyelonong pulang tanpa menunggu jawaban dari mereka terutama Leo.
"Yaudah, aku pulang ya!" Kata Leo dengan penuh senyum sambil melambaikan tangan pada Eon dan Zin. Mereka les apa? Bahasa Inggris?

-------

Hari ini, di hari Rabu, Bu Fatmawati membagikan kertas ulangan yang mereka kerjakan hari Sabtu kemarin. Bu Fatma memanggil Leo dan Gara untuk maju ke depan kelas. Dan menyebutkan bahwa mereka berdua mendapatkan nilai seratus di ulangan matematika kali ini. Dengan bangga, Bu Fatma memberikan dua buah cokelat, "Ini cokelat untuk anak-anak yang les di rumah Bu Fatma dan mendapatkan nilai seratus." Bu Fatma juga menambahkan, "Kalian disuruh Pak Basuki untuk ikut bimbingan olimpiade matematika. Katanya nilai rapor matematika kalian bagus ya di semeseter kemarin? Selamat ya..."
Leo dan Gara mengangguk malu sambil menerima cokelat pemberian Bu Fatma.
"Eonoia!" panggil Bu Fatma. "Selamat ya, kamu juga dapat nilai seratus ulangan kali ini," ucap Bu Fatma sambil menyerahkan hasil ulangan matematika milik Eon. "Tapi maaf ya, cokelatnya hanya untuk murid-murid yang les di rumah Ibu dan Pak Bas juga tidak mau anak perempuan ikut bimbingannya."
Bangsat! Aduh, mulut ini tidak ada remnya. Aku kesal sekali mendengar kata-kata itu yang diucapkan oleh seorang guru kelas sekolah dasar. Mana ada guru semacam itu? Mereka ini guru atau pebisnis sih?
Eon tidak menjawab apa-apa. Dia hanya menerima hasil ulangannya dan segera kembali ke bangkunya. Dasar, guru tidak adil! Eon pasti sangat kesal, marah, dan mungkin malu juga karena perlakuan tidak adil dari guru tidak tahu akhlak ini. Selain itu, apa-apaan si Basuki itu? Tidak mau membimbing anak perempuan? Lagi-lagi gender. Cih, namanya aja yang bagus, tapi kelakuannya seperti setan.

Sepulang sekolah Leo dan Gara menghampiri Eon yang masih terlihat marah. Mereka tau bahwa Eon pasti marah melihat gurunya yang berlaku seperti itu kepadanya.
"Ini setengahnya buat kamu," kata Leo sambil memberikan cokelat miliknya kepada Eon.
"Gak usah udah, aku mau pulang," kata Eon berusaha memendam amarahnya. Walau amarahnya kali ini bukan untuk kedua anak badung itu, tapi untuk gurunya. Eon takut dia bisa marah ke sembarang orang.
"Iya ini buat kamu Eon," kata Gara dengan nada lebih lembut dari biasanya. Dia sudah memakan sebagian besar cokelatnya tersisa satu ruas cokelat dan sekarang diberikannya kepada Eon.
"Iya, ambil aja!" Leo langsung mematahkan setengah cokelat miliknya dan menaruhnya di telapak tangan Eon. Dia juga segera mengambil sisa cokelat milik Gara dan memberikannya kepada Eon.
Eon tersenyum kepada mereka berdua, "terima kasih ya."
Leo dan Gara juga ikut tersenyum. Terlebih lagi si Leo, senyumannya sangat merekah membuat Eon merasa cukup bahagia. Eon melambaikan tangan kepada mereka berdua dan segera pulang dengan memakan cokelat di genggaman tangannya.

Zin rupanya menunggu Eon.
"Nih Zin!" Eon menyodorkan sebagian cokelat di tangannya untuk dibagikan pada Zin. "Dikasih Leo sama Gara."
"Wih, mau dong!" jawab Zin dengan senang. "Kamu gakpapa, Eon?" tanya Zin dengan sedikit takut Eon akan marah padanya karena sudah bertanya hal yang menjengkelkan.
Eon hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan, "Mereka ternyata baik ya Zin."
"Hehehe, iya Eon. Makanya kalian jangan tengkar terus dong!"

***

Sesampainya di rumah Eon masih marah, bahkan sangat marah. Di balik bantalnya sesekali dia tersenyum teringat apa yang baru saja terjadi. Eon mungkin marah karena perlakukan gurunya yang cukup biadab itu. Tapi anak-anak badung itu ternyata tidak terlalu badung. Mereka bahkan lebih baik daripada guru-gurunya.

Semoga Leo dan Gara selalu berbuat baik mulai dari sekarang... Iya, semoga mereka selalu berbuat baik dan tidak seperti guru-guru mereka saat dewasa nanti. Sekarang saatnya Eon tidur ya, lupakan amarahmu pada gurumu itu. Besok pasti lebih baik karena kamu dikelilingi teman-teman baik, Eon.



-Din, Jember 18:19 (28/06/23)

Komentar