Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Bisikan Pertiwi

Gambar
21 Okt 2017 Surabaya, 15:04 WIB. 23/10/17 Bisikan Pertiwi Alam berbisik lirih di telingaku. Andai kamu tahu, dia sedang bersedih dalam warna sendu. Dia sedang mengantar kepergian mentari. Tebing yang tadinya terlihat gagah pun ikut menunduk. Ini, saatnya dia mengadu pada ibu. Ibu pertiwi meringkih kesakitan tapi dia tetap dalam ketenangannya. Ia tahu bukan hanya dia yang bersedih, tapi anaknya juga. Dengan cara lain. Tebing marah melihatku berada disini. Seperti ada dendam. Seperti aku telah membunuh sanak saudaranya. Laut meronta seperti bayi yang menginginkan ASI. Berharap manusia bisa seperti ibunya yang tahu dengan bahasa isyarat yang dia berikan. Aku hanya diam dan mencoba bersimpati pada mereka. “Nak, kamu harus tahu, kami membenci manusia. Sebaik apapun mereka. Tapi kami tidak bisa berbuat banyak. Ini takdirku dan anak-anakku. Aku hanya bisa diam dan bersedih. Si Laut selalu meronta dan Tebing selalu menjadi pemarah akhir-akhir ini. Semenjak kakaknya digunduli , dipenggal, d...

Empat Tahun Lalu

Gambar
Surabaya, 23:06 WIB 18/10/17 Dia liar. Seperti menari mengikuti irama dan lagu di lapangan. Aku melihatnya bebas. Permainan raket selalu membesarkannya. Shuttlecock dibuatnya terbang seperti jet dan jatuh mendarat di daerah lawan. Dia tersenyum kepadaku. Akhirnya aku melihat dirinya yang sesungguhnya. - empat tahun lalu 2013

Sirine

Gambar
D29 -10 Jan 2017 Surabaya, 22:49. 15/10/17 SIRINE Sirine, sang penanda keburukan. Bunyi yang memekakkan telinga. Hanya diam dengan tatapan kosong ketika kau melihatnya lewat di depan matamu. Mungkin saja ada hal buruk terjadi. Bahkan, bunyi sirine menjadi awal dimana saya mulai melontarkan kata “jancuk”. Dan terngiang untuk beberapa bulan. Bisa saja dia menjadi penanda kesedihan yang amat mendalam. Tapi sirine juga menjadi penanda saya menjadi orang yang lebih baik.

Ketakutanku

Surabaya, 11 Oktober 2017. 22:48 WIB. Ketakutanku Aku bertanya apapun yang tidak aku mengerti. Tentang agama, tentang Tuhan. Dan mereka, meng-judge-ku seperti seolah aku meragukan Tuhan. Beberapa di antara mereka menjawab, "Sudah berhentilah mempertanyakan dan mempermasalahkan hal tersebut. Ilmu yang kamu miliki, otak yang kamu punya tidak akan mampu melakukan hal tersebut. Hanya Tuhan yang tahu." Aku pun takut dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku buat sendiri.

Tidak Ada yang Lebih Baik

Surabaya, 11 Oktober 2017. 22:11 WIB. Tidak Ada yang “Lebih Baik” Baru saja temanku datang ke kamarku. Dia bercerita tentang temannya. Katanya, temannya bertanya kepadanya, “Memangnya apa yang kalian lakukan (beribadah) kepada Tuhan lebih baik daripada aku?” Tentu saja aku kaget mendengar cerita temanku tersebut. Pertanyaan itu sama persis dengan apa yang aku tanyakan kepada teman sekamarku kemarin. Kemarin aku memikirkan tentang agama. Jujur saja, aku benci ketika mereka merasa agama mereka paling benar sehingga mereka tidak ingin peduli kepada mereka yang beragama lain atau yang berbeda dengan mereka. Di perguruan tinggi ini aku belajar banyak tentang orang lain. Meski aku bukan kuliah di jurusan psikologi, setidaknya aku tahu tentang orang lain. Bagaimana membaca sifat orang lain dari tingkah lakunya. Belajar berpikir positif tapi tak lupa untuk selalu mengkritisi sesuatu. Dan pertanyaan itu muncul ketika aku melihat sesorang yang menganggap rendah orang lain karena mereka merasa le...