Random Things that I Wanna Tell You

Hari ini aku sudah siap untuk menceritakan bagaimana perjalananku akan terus berlanjut.

Hmm, dari mana ya aku akan memulai kisah ini. Mungkin aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Aku adalah Dinda. Dari dulu aku tau bagaimana sebenarnya aku ini. Aku memiliki keinginan yang kuat walaupun sebenarnya kecerdasan otakku pas-pasan. Aku suka sekali mempelajari sesuatu. Aku suka mengeksplor banyak hal bahkan sampai sekarang. Mungkin itu menjadi sifat yang melekat dalam diriku sejak lahir. Sejak kecil aku suka sekali membaca, bukan kutu buku tapi memang suka saja. Sejak kecil juga aku belajar berdoa, belajar agama yang menjadi agamaku sampai sekarang.

Sejujurnya aku punya otak yang cukup aneh. Aku dengan mudah mengingat hal-hal sepele yang jarang ter-notice oleh orang lain. Tapi bertolak belakang dengan itu, aku justru dengan mudah melupakan wajah orang.

Keluarga besarku bukanlah keluarga yang agamis. Jadi aku belajar tata cara berdoa dan ilmu agama justru dari tempat ngajiku. Keluargaku justru keluarga yang memiliki agama yang beragam (walaupun tidak seberagam itu). Ya intinya di sini aku mau bilang kalau aku bukanlah orang yang benar-benar mengerti agama. Semuanya aku maknai dengan caraku sendiri.

Dinda kecil sudah mengalami banyak hal berat. Aku gak mau ceritakan ini terlalu dalam karena ini cukup pribadi dan sensitif. Tapi setidaknya ada 3 kali aku berada di titik terendah. Yang pertama, membuatku belajar bagaimana seharusnya aku lebih mencintai diriku. Yang kedua, membuatku belajar bahwa doa orang tua sangat mempengaruhi hidupku. Dan yang terakhir ini akan aku ceritakan lebih detail untuk pelajaran kita semua.

Pada tahun ketiga di perkuliahan aku mengalami krisis. Padahal saat itu aku baru saja melesat dari bangkitku setelah titik terendah keduaku. Saat itu aku sangat impulsif, aku ambil setiap kesempatan yang bisa meninggikanku. Padahal, setiap kesempatan yang aku ambil pastilah ada konsekuensinya. Dan saat itu konsekuensi muncul bersamaan. Masalah kuliah, masalah kerjaan (magang), masalah organisasi, masalah kompetisi, masalah pertemanan, dan masih ada masalah percintaan. Semuanya campur aduk menjadi satu dalam satu waktu. Aku ingat betul bagaimana tahun itu berjalan sangat lambat. Saat itu ada temanku yang bilang, "Din, kamu kok gak kayak dulu." Padahal dia ini teman yang baru saja aku kenal di tahun pertama aku berkuliah. Saat itu aku menanggapi dengan agak sinis, mungkin saja dia membalas perkataanku yang juga bilang bahwa temanku itu berubah. Padahal kami berdua hanyalah mengalami salah satu proses yang memang harus dilewati.

Saat itu hatiku sudah tidak pada Tuhan. Apalagi kampanye politik identitas tahun 2018/2019 membuatku sangat muak melihat orang-orang agamaku. Setiap sholat aku hanya melaksanakannya saja tapi tidak pernah hatiku tertuju pada-Nya. Bahkan biasanya setelah sholat itu aku berdoa, tapi saat itu aku tidak ingin berdoa. Aku tidak ingin menanggung risikonya.
"Mbak, aku baru kali iki ketemu uwong sing gak wani ndungo gara-gara wedi terkabul. Padahal biasane uwong pengene yo berharap dikabulkan."
Andaikan dia tahu bagaimana beratnya menanggung konsekuensi dari setiap doa, aku yakin dia akan memahami ketakutanku ini. Seketika, aku merasa panggilan fearless dari temanku sudah tidak layak ada dalam diriku. Aku tidak suka agamaku, aku tidak percaya pada diriku, dan aku tidak ingin semua ini berlanjut.

Berbeda dari titik terendah pertama, aku sudah tidak lagi menyakiti diriku sendiri. Ada untungnya aku selalu punya teman sekamar. Karena ketika sendiri, kadang pikiranku bisa jauh lebih jahat. Saat itu aku cuma bisa bersyukur aku punya teman-teman yang memahami kondisiku. Aku bahkan tidak malu untuk menangis di depan teman sekamarku dan sahabat-sahabatku lainnya.
"Loh, sampeyan juga sering ke Kenjeran sendiri?"
"Dek, kamu jangan sering sendirian, sekali-kali ajak temenmu biar pikiranmu gak kemana-mana"

"Kamu loh ngapain milih ketua yang kuliahnya bermasalah?"

Sewaktu hpku rusak+dicuri, aku memang marah sama pencurinya makanya aku sampe nyari di Pasar Maling. Tapi sejujurnya aku agak bersyukur, tidak ada notifikasi yang masuk, aku jadi punya alasan untuk slow respon.
"Din, kon pengen ngilang pirang dino?"
"Seminggu, setidake ben aku siap sek"
Ketika hari H, akhirnya di sini aku mulai berharap kembali, "Ya Allah, semoga ini cepat berlalu. Jangan ada yang merendahkan diriku dan teman-temanku, biarlah semuanya berlalu begitu saja".
Dan ya, semuanya berlalu begitu saja. Sepulang presentasi, aku dan temanku langsung makan di Suprek dan membicarakan mimpi-mimpi. Rasanya tidak menyangka bahwa semuanya berlalu begitu saja.

Satu masalah akhirnya selesai. Terus masalah lainnya bagaimana?
Aku dan teman-temanku hampir saja mengulang mata kuliah 7 sks. Masalahnya, alasannya sangat tidak masuk akal dan dia juga tidak bersikap layaknya dosen. Sampai akhirnya kami semua disidang dan disuruh mengumpulkan bukti-bukti. Sampai akhirnya kami pun lulus mata kuliah 7 sks tersebut. Setidaknya dosen-dosen yang lain masih mau membantu kami (Terima kasih..)

Singkatnya semua berlalu begitu saja. Walaupun sebenarnya tidak ada satupun yang happy ending, tapi bisa melaluinya saja aku sudah bersyukur. Aku tau, saat itu aku bukan satu-satunya yang melalui masa berat itu. Aku yakin banyak dari teman-temanku juga mengalaminya. Salah satunya teman sekamarku. Tapi aku senang sekarang dia sudah memasuki fase titik baliknya, bahkan dia juga menjadi salah satu yang membantuku memasuki fase itu.

Pandemi membuat kami dan mungkin kita semua terpuruk. Tapi aku mencoba memaknai dengan jauh lebih baik, mungkin saja pandemi ini menjadi momen agar kita ingat bahwa kita masih punya keluarga dan anggap ini konsekuensi kita semua karena semua hal yang membuat bumi kita menjadi rusak. Dan ini juga menjadi waktu dimana aku punya waktu untuk keluargaku terutama adikku. Selama ini aku selalu punya waktu untuk teman-temanku tapi tidak untuk adikku. Rasanya dia tumbuh begitu saja tanpa aku tau bahwa dia juga punya masalah. Di waktu pandemi juga aku mencoba menata diriku. Aku jadi kangen Dinda yang dulu.

"Rek, kon tau gak ngerasano kangen diri sendiri?"
"Piye maksude?"
"Yo koyok aku saiki, padahal mbiyen aku gak tau ngamukan nang wong tuwoku, saiki aku malah sitik-sitik ngamuk"
"Oh aku yo tau!"
"Sakjane kon iku gak berubah, tapi kon cuma melalui proses"
"Iyo bener iku, kon cuma melalui proses"

Akhirnya aku tau rasanya kehilangan diri sendiri. Nanti akan aku kasih tau lagi bagaimana pernyataanku itu bukanlah final.

Setelah lulus kuliah aku menjadi sangat lelah dan ingin langsung pensiun. Ternyata masalah yang waktu itu belum selesai. Traumanya masih melekat dan otakku mengalami burnout. Setiap hari aku merawat bunga, aku melakukan semua apapun yang aku suka. Bahkan aku memulai bisnis thrift dengan modal kemampuan seadanya. Belum lagi hampir setiap hari juga bersepeda, bahkan sampai ke Payangan loh. Astaga, emang waktu itu segila itu. Tapi suatu hari aku tersadar bahwa aku harus belajar lagi keluar.

Kemudian aku keterima kerja di sebuah LBB Islami sebagai content creator. Awal masuk itu aku lumayan kaget. Sekali lagi aku merasa masuk dalam lingkungan yang sebenarnya aku hindari. Ini bukan kali pertama aku mengalami masa ini. Aku tau Allah meletakkanku di sana bukan tanpa alasan, aku yakin Dia punya alasan yang masuk di akalku tapi jawabannya baru muncul baru-baru ini. Aku yang awalnya sudah mulai meninggalkan pelajaran agama dan memulai pencarian agama baru yang lebih cocok untukku, akhirnya jadi memaknai Al-Quran lebih dalam.
*Fyi, sebelum kerja itu sudah ada teman yang menuntunku kembali memahami Al-Quran dari sudut pandang yang baik.
Tapi ya, tidak semua orang Islam seperti yang aku pikirkan. Orang jahat ya jahat aja, orang baik ya baik aja. Gak ada sangkut pautnya dengan agama.

Setiap hari aku berasa seperti diruqyah. Agak lebay sih kalau bilang diruqyah, tapi intinya seperti dibersihkan hatinya. Walaupun sebenarnya aku tidak akan pernah sebersih itu. Tapi aku jadi tau sudut pandang lain. Aku juga bersyukur bahwa teman-teman kerjaku baik-baik. Bahkan mereka tidak pernah memaksakan kehendak untuk mengubah diriku menjadi orang lain. "Jadilah diri sendiri!"

Sekarang, aku jadi mengerti. Aku memang sempat kehilangan diriku. Banyak orang yang realistis atau sebenarnya menyerah akan mimpi-mimpinya menasihatiku tanpa tau bahwa sebenarnya aku tidak bisa dinasihati seperti itu. Aku mulai mengumpulkan puzzle-ku kembali. Satu-satu dan Allah meletakkannya seperti harta karun, tempatnya sangat tidak disangka-sangka. Tapi aku tetaplah Dinda. Memang benar semua hanyalah proses yaitu proses menggapai diri sendiri.

Aku mulai menata diriku, setiap pagi jogging dan melakukan satu atau dua ibadah sunnah. Memaknai sholat sebagai tempat berkeluh kesah dan berdoa agar apa yang aku inginkan menjadi tercapai. Mendapatkan jawaban juga mengapa Nabi Muhammad menjadi rasul di era ini. Aku juga menjadi orang yang memaknai positif dari setiap hal dalam diriku. Semuanya ada solusinya. Badai tidak akan berlangsung selamanya.

Aku benar-benar berterima kasih kepada semua teman-temanku, aku sangat menghargai keberadaan kalian. Aku bersyukur kalian pernah lahir di dunia dan bertemu aku. Dinda yang tadinya merasa kehilangan satu kaki setelah lulus, kini sudah tidak lagi. Dinda tetap memiliki dua kaki yang menguatkanku sampai sekarang.



Setiap perjalanan hidupku pasti aku upload di Instagram, setidaknya inilah yang menjadi pengingat bahwa aku pernah seperti ini, pernah mengalami ini, pernah ke sini, dan pernah bersama orang-orang ini.



-Din (Jember, 06/10/2023, 9:36)


Komentar

  1. Diiiiiinnnn~ I feel you, semangat yooo. Ternyata trauma matkul/dosen tertentu ini komunal hahahah. Alhamdulillah seneng baca prosesnya, semoga setiap jalan selalu diiringi berkah, dianugerahi kekuatan dan ketenangan. Aamiiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Anggi 🥲 iyo mbak, ternyata trauma iku bener-bener dirasakan semua angkatan haha. Iyo, Alhamdulillah. Semua orang pasti melalui proses ini walaupun waktunya beda-beda. Aamiin Ya Allah. Semoga sampeyan pisan, Mbak 💛💛💛

      Hapus

Posting Komentar