Pagi untuk Dinda

Ada banyak yang terjadi di pagi hari. Bisa saja saya memberi judul tulisan ini dengan: Undercover Pagi Hari, Untold Story of Morning, atau apapun itu yang menceritakan tentang sesuatu yang jarang dipandang mengenai pagi hari.

Sebelum bercerita tentang pagi, izinkan saya untuk bercerita sedikit mengenai malam. Malam adalah waktu bagi banyak makhluk beristirahat. Tapi malam bukan hanya sekadar soal istirahat, tapi malam memiliki ceritanya sendiri. Makhluk nokturnal selalu melakukan aktivitasnya di malam hari. Ketika terbangun untuk melihat bintang jatuh, saya selalu mendengar suara kelelawar, kucing-kucing yang sibuk, dan beberapa anjing berkeliling. Manusia pun begitu. Masih mengoceh di warung kopi untuk membicarakan tentang konspirasi, dunia, filosofi, dan spiritualisme. Ada juga yang sibuk bekerja di pabrik karena shift malam atau sebagai kupu-kupu malam. Di diskotik atau clubbing juga mungkin memilih mabuk agar masalah di siang hari bisa segera dia lupakan sementara. Dan masih banyak. Begitupun saya. Saya juga sangat suka malam karena saya bisa berpikir jernih dibandingkan kapanpun. Saya bisa tidur dengan nyaman tanpa merasa bersalah. Di malam hari juga sepertnya Tuhan memelukku. Malam seorang ibu yang sedang memeluk jiwa anak-anaknya yang depresi. Sementara namun berarti, benar-benar waktu istirahat (entah itu jiwa atau raga).

Lalu bagaimana dengan pagi? Pagi cukup berbeda dari malam. Pagi lebih sederhana.

Sunrise dari jendela rumah, setelah jogging

Semuanya berawal ketika saya mulai berusaha bangkit dan menata diri, berusaha mengembalikan Dinda menjadi Dinda. Ada satu hal yang perlu saya lakukan di pagi hari selain sembahyang, saya butuh olahraga. Saya memilih jogging atau lari kecil untuk olahraga saya setiap hari di pagi hari. Berat memang, tapi nyatanya itu membawa saya pada hal-hal sederhana di pagi hari yang kebanyakan orang melewatkannya.

Pagi dimulai bukan dengan cahaya matahari yang kembali muncul dari balik cakrawala. Pagi dimulai ketika kita siap memulai hari. Waktu itu fajar masih belum terlihat. Saya menyusuri jalanan masih gelap. Sapaan awal adalah membangunkan Mama untuk sembahyang. Kemudian Geri di depan rumah yang menyadari bahwa saya sudah bangun, dia minta dikasih makan. Tapi saya bilang, "sabar, masih terlalu pagi." Saya lakukan pemanasan dan Geri tetap merayuku agar segera diberi makan. Saya mulai langkah pertama yang selalu berat bagi saya dan melewati rumah Angel dengan anjingnya yang terlihat kasihan karena tidur di dekat pagar, dia selalu kedinginan. Kemudian saya bertemu bapak tukang becak yang menunggu penumpang. Beliau selalu menyapaku. Keramahan pertama yang saya dapatkan dari orang asing hari ini. Setelahnya, ada bapak-bapak yang selalu pulang dari masjid. Selanjutnya jalanan di depan lahan sengketa itu terlihat sangat gelap, tapi tenang pemandangan disini justru yang paling bagus karena bintang terlihat jelas dan hawanya sangat sejuk. Disini ada bapak pemulung yang selalu mencari kardus dan aqua gelas. Setelahnya saya selalu berpapasan dengan mas-mas yang olahraga juga: ada yang jalan kaki dan jogging juga. Di tikungan itu ada Buk Sunar yang jualan kue dan selalu menyapaku dan menanyakan kabarku/mamaku. Keramahan kedua yang saya dapatkan hari ini bukan dari orang asing tapi tidak terlalu dekat. Di tempat Buk Sunar jualan, pemilik toko kelontong itu selalu menyapu halamannya dan menyirami jalanan makanya jalan di situ selalu basah meskipun tidak hujan. Selanjutnya saya bertemu pasangan muda yang sedang menanti anak mereka. Suami menemani istrinya yang hamil untuk olahraga. Di tikungan selanjutnya saya bertemu ibu tapi kadang bapak juga yang menyapu halaman depan. Di ujung ruteku juga ada mlijo.

Ketika putar balik, saya pernah bertemu seorang nenek yang mengajak cucu-cucunya untuk olahraga, "Ayo ndang olahraga. Iku koyok mbake olahraga isuk-isuk". Di rumah sebelah kandang ayam itu ada seorang nenek juga yang belajar berjalan dengan walkernya. Semangat nek! Ketika kembali, pemandangan sudah terlihat cerah. Fajar muncul dan terlihat indah di persawahan ini. Kadang kalau berkabut ya disinilah kabut paling tebal seperti asap yang muncul dari balik tembok. Setelah itu di persimpangan toko Buk Sunar sudah berangkat jualan kue dan tergantikan ibu-ibu yang sibuk berbelanja. Di dekat masjid itu mas-mas yang jalan kaki tadi sudah pulang. Kemudian bapak-bapak bermotor selalu menyapa dengan penuh semangat. Keramahan ketiga dari orang asing yang selalu saya nantikan. Kemudian bapak pemulung yang lain menyapaku juga. Di lahan sengketa ini saya selalu menyapa tanaman pinggir jalan dan pemandangan indah setelah matahari terbit. Kucing di toko DM juga masih mengeong. Lalu sampailah saya di rumah bertemu Geri.

Sangat sederhana bukan?

Tapi hal sederhana itulah yang membuat hari saya dan diri saya sendiri menjadi selalu positif. Keramahan orang Indonesia memang memiliki tempat tersendiri di hati para penyintas depresi. Udara sejuk di pagi hari juga menambah kesejukan jiwa. Tidak ada kantuk sedikitpun, justru badan dan jiwa terasa ringan. Kebiasaan inilah yang menjadi pemantik bara api dalam diri saya. Setelah setiap sembahyang dan malam hari saya memupuk bahan bakar. Sudah saatnya api ini dinyalakan. Dinda sudah siap menjadi Dinda.

Komentar

  1. Kebanyakan orang membahas tentang senja. Padahal, kegiatan rutinitas pagi hari tak kalah pentingnya untuk dimaknai ♥️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi my roommate! Benar sekali, hal sederhana yang seringkali terabaikan atau diabaikan

      Hapus

Posting Komentar