Hujan Turun dan Sewindu

Surabaya, 06 November 2017. 21:30 WIB.


Hujan Turun,
Dia kawanku, yang bernyanyi dengan amat keras, yang menggila di sepanjang jalan. Aku tahu dia sedang pilu. Menahan rasa untuk wanita yang meninggalkannya begitu saja. Dia umumkan rasa sakit itu pada semua orang. Mungkin mereka akan menganggapnya gila. Tidak dengan diriku. Kuikuti semua lagu yang dia lantunkan. Aku rasa, aku paham dengan perasaannya.
Waktu Hujan turun, di sudut gelap mataku
Begitu derasnya
‘kan kucoba bertahan
-(Sheila On 7-Hujan Turun)

Sewindu,
Entah sudah berapa lama rasa itu menyelubungi dirinya. Entah sampai kapan dia akan membiarkan rasa sakit itu. Seperti seorang pecundang, dia hanya bisa mengumumkan pada dunia bahwa saat ini rasa sakit yang dia rasakan bukan main. Dan aku, menangis untuknya, untuk dirinya yang tak dapat meneteskan air mata. Semoga ini dapat meredam rasanya.
Sesaat dia datang
Pesona bagai pangeran dan beri kau harapan
Ku halang cinta dan masa depan
Engkau lupakan aku, semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita
-(Tulus-Sewindu)

Lalu, adakah lagi lagu yang harus kuhafalkan untuknya? Untuk memadamkan rasa sakit, untuk mengikuti kegilaannya.

-4 Nov 2017, Mojokerto-Surabaya

Komentar