Parenting ala Pak Darif

"Nduk, nanti kamu ke sini lagi yo! Kita harus nyangkruk kayak gini," kata bapak tua yang baru saja aku kenal malam ini. "Hadi, kamu nanti kabari aku ya kalo anak ini ke sini lagi, jangan sampai enggak!" perintahnya pada temannya, Hadi si tukang las dan tukang bubut kayu.
"Iya, Pak, InsyaAllah ya. Kalau saya ngerjain tugas yang butuh las/bubut kayu pasti ke sini kok"
"He, jangan pas tugas tok, kalau senggang aja.."
"Hehe"
...
"Mbak, saya heran, kenapa sampeyan kok mau ngobrol sama sopir-sopir ini? Kan biasanya mahasiswa apalagi yang cewek, mana mau gumbulan sama sopir gini?"
"Lah, emang gitu Pak? Kalau saya memang suka ngobrol sama siapa saja."

***

    Ingatan itu tiba-tiba saja muncul ketika aku dan mbakku diskusi mengenai alasan kenapa member Keluarga Darif kebanyakan ekstrovert dan mudah sekali bergaul dengan banyak orang. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya kami mempertanyakan hal ini. Hampir semua anggota keluarga ini sangat mempertanyakan hal ini.

Gambar portrait Pak Darif dan Bu Darif oleh Dinda (arsip 2016) 

    Akan aku ceritakan mengenai Darif untuk mempermudahku dalam mem-breakdown jawabannya. Namanya Darif Dite, dia adalah kakekku sekaligus salah satu role modelku. Orang yang paling aku kagumi di dunia ini. Sebenarnya ketika kecil aku tidak terlalu dekat dengan kakekku ini (justru aku paling dekat dengan nenekku, bisa dibilang anak nenek). Kakekku ini orangnya lembut dan kalem, seingetku dia jarang sekali marah. Entah kenapa ketika kecil aku tidak sedekat itu dengan kakekku, jujur aku sangat menyesali ini. Karena ketika kakekku meninggal, ada banyak pertanyaan yang muncul dan sepertinya hanya dia yang bisa menjawabnya. By the way, selanjutnya aku akan menyebutkan namanya saja ya: Pak Darif.

    Pak Darif ini seorang guru dan kepala sekolah. Tapi sebenarnya pekerjaannya bukan cuma itu, entah pekerjaan atau hobi intinya kesibukannya banyak sekali. Setauku dia adalah seorang wartawan, tukang foto dan tukang shooting video nikah (fotografer kalau kata orang sekarang), pemain musik keroncong, pelukis, dan entah apa lagi. Dia juga sangat aktif di komunitas para orang tua (komunitas jalan-jalan, guru, jantung sehat, dan segala macam). Dulu ketika aku SD, ketika menyebutkan bahwa aku adalah cucunya Pak Darif, semua orang pasti kenal siapa Pak Darif. Aku dulu heran, kenapa banyak orang yang mengenal Pak Darif padahal Pak Darif bukanlah artis TV. Tapi melihat kesibukannya yang begitu banyak, wajar kalau banyak yang mengenalnya.

    Aku baru mengenal sosok Pak Darif justru ketika aku sering masuk kamar Pak Darif yang ternyata isinya dipenuhi buku. Mulai SD, ketika pulang sekolah aku selalu mampir ke kamar Pak Darif dan membaca buku-buku peninggalannya. Kebanyakan buku bahasa, sejarah, kesehatan, dan artikel berita. Di dalam kamarnya juga ada lukisan yang pernah dia lukis, wayang, dan gitar kentrung. Setiap hari aku membaca buku di sana. Walaupun kamarnya banyak nyamuk karena dipenuhi barang, tapi aku suka sekali membaca buku di sana. Seolah aku bisa sedikit membaca isi pikiran Pak Darif saat itu seperti apa. Tapi ya itu, hanya sedikit yang bisa aku telaah isi pikirannya. Aku yakin masih banyak ilmu yang bisa aku dapatkan jika aku diskusi dengannya secara dalam dan sering.

    Lalu, apa hubungannya dengan keturunannya yang mudah bergaul dengan orang random? Ini nih yang menjadi sangat menarik. Pak Darif punya banyak anak yaitu 9 atau 10 (aku lupa). Aku gak tau bagaimana caranya mendidik anak-anaknya, tapi dari cerita yang aku dengar dari dulu anggota keluarganya sering mengobrol, diskusi, dan bahkan guyon bersama di dalam rumah. Hampir minim privasi di dalam rumah itu. Terus anak-anaknya tidak pernah dikekang. Meskipun dia seorang kepala sekolah (PNS), dia tidak pernah memasukkan anaknya ke PNS (jalur dalam) apalagi memaksa anaknya untuk ikut jejaknya sebagai PNS. Ketika mendidik cucunya, yang paling aku inget adalah koreksi soal bahasa (terutama tata cara berbicara). Makanya dulu aku sering sekali dimarahi jika bahasaku amburadul atau menyanyikan lagu yang bahasanya tidak sopan. Dulu Pak Darif suka sekali memotret cucunya mengguanakan kamera dan selalu dicetak. Keluarga Pak Darif juga paling sering jalan-jalan. Bahkan sampai sekarang kami sering menyewa bus untuk jalan-jalan satu keluarga. Katanya, "Uang buat apa kalau bukan buat liburan kan?" Pak Darif bukan tipe orang yang suka memukul, ketika hendak memarahi cucunya, dia selalu memukul bokongnya sendiri (sebagai efek suara pengganti pukulan itu) sehingga kami sering tertawa dan jadi mau menerima nasihat dari orang tua. Ketika tinggal di rumahnya, aku ingat betul kalau Pak Darif dan Bu Darif sering sekali kencan walau sekadar motoran keliling kota. Keharmonisan itu mejadikan rumah selalu hangat. Dulu Pak Darif juga sangat mendukungku membaca koran, setiap pagi pasti ada koran di ruang tamu setelah dibacanya (fyi jadi aku sewaktu kecil lebih suka membaca koran daripada majalah anak-anak).

    Ketika dibandingkan dengan teman-temanku di rumah, keluarga Pak Darif ini jelas sangat menjunjung tinggi pendidikan. Tapi ketika dibandingkan dengan teman-temanku di sekolah, aku jadi bersyukur bahwa Pak Darif tidak terlalu mengekang kami. Kami dibebaskan main dengan siapa saja dan ingin menjadi apa. "Nakal itu biasa, yang penting tidak merugikan orang lain. Kalau merugikan diri sendiri ya biarkan dirinya merasakan itu sendiri". Makanya, kalau teman-temanku sering bingung kenapa aku bisa berteman dengan orang yang sangat bertentangan (misal yang satunya dikenal nakal, mabukan, anak punk, dan sebutan lainnya tapi di lain sisi aku juga berteman dengan orang-orang yang syar'i, alim, berhijab panjang, dan tidak tersentuh kotornya dunia); itu bukan karena aku muka dua tapi karena aku benar-benar tidak masalah dengan semua itu asalkan semuanya tidak merugikanku. Jujur saja, pondasi pendidikan dari keluarga Darif ini jauh lebih kuat daripada yang dibayangkan.

    Cara Pak Darif mendidik anak cucunya ini yang menjadikan kami seperti sekarang. Bagiku cara mendidiknya "pas" tidak terlalu mengekang, tidak terlalu membebaskan, tidak terlalu memaksa, pokoknya tidak terlalu. Ketika dewasa seperti sekarang, aku jadi ingin belajar cara mendidik anak padanya.



- Din (Sleman, 03/03/2024. 10:07 WIB)





*nb:
Aku menggunakan kata "dia" bukan kata "beliau" karena aku ingin adanya bentuk kedekatan bukan kesenjangan antara aku dan dia bukan beliau. 

Komentar