Postingan

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian III: Cenayang)

Ibu Bumi mulai menua. Sudah banyak yang dilalui dan sudah banyak yang dialami. Anaknya tumbuh menjadi sosok yang angkuh dan terus menuhankan diri. "Eon, kamu nangis? Jangan nangis.." tanya Zinnia kepada temannya. "Hah?" Eon bingung dengan semua yang ada di sekitarnya. Dia tidak yakin kalau sebelumnya dia ada di sini atau tidak. Hmmm. Sebentar, namaku Eonoia kan? Iya, Eonoia Gentari Amaraloka. Tadi aku ke sini bersama Zinnia terus kami melihat pemandangan. Tapi kenapa nangis?  Eon mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Dia merasa bingung karena seketika ingatannya seperti menghilang tapi juga tidak. "Aku juga bingung Zin. Tiba-tiba air mataku turun sendiri padahal aku gak sedih," jawab Eon polos. Zin bingung mendengar jawaban Eon. Tapi mereka tidak terlalu menghiraukan dan kembali melihat pemandangan indah di depan mereka. Aku pun juga menikmatinya. "Eh Zin, nanti kalau sudah besar, kita sepedaan ke sana ya Zin!" Anak ini random sekali tiba...

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian II: Bukit Ijo)

Dari kejauhan terlihat dua anak gadis berambut keriting dikuncir dua berantakan. Salah seorang gadis membawa kresek di tangan kirinya sedangkan yang satu lagi menenteng sepatu yang diikat satu sama lain. Dengan kaki tanpa alas (alias cekeran) mereka berjalan santai dengan sesekali memainkan genangan air yang menghalangi jalan mereka. Bukan menghalangi, lebih tepat seperti wahana sepulang sekolah. Mereka berjalan lama sekali dan saling berbincang. Entah sebenarnya apa yang gadis-gadis berumur tujuh tahun itu bicarakan. Sesampainya di depan rumah, Eon melambaikan tangan kepada temannya itu, "Minggu ya!" Sepertinya mereka merencanakan sesuatu lagi. Neneknya yang melihat cucunya pulang sekolah tanpa sepatu tentu marah, "yaampun Eon.. kenapa hujan-hujan? Sepatunya mana?" "Di depan, basah," jawabnya sambil berdiri di atas keset. "Udah, lewat belakang! Tasnya taruh dulu. Sepatunya jangan lupa dibereskan!" Eon pun langsung menuruti kata-kata neneknya. Di...

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian I: 6 tahun)

Aku lahir dalam raga seorang manusia bernama Eonoia. Anak perempuan dengan kulit cokelat dan berambut keriting. Dari fisik, Eon bukanlah gadis berparas cantik atau lembut, fisiknya benar-benar biasa saja. Wajahnya seperti perpaduan yang kurang tepat antara bapak dan ibunya. Tapi, aku berjanji padanya, "Dia akan tumbuh menjadi manusia yang spesial" Kurang lebih begitulah janji yang aku ingat. Satu, dua, tiga tahun berlalu. Sudah lebih dari seribu langkah Eon melalui proses hidup di dunia. Dari sinilah otaknya mulai bekerja ekstra. Ia bahkan ingat tontonan apa yang dia lihat ketika itu, serial "Aku Anak Jenius" dari bonus susu kardus Frisian Flag yang dia minum sehari-hari. Semenjak itu juga dia tahu bahwa tanaman tidak seperti dirinya (manusia), tanaman-tanaman itu menghirup karbondioksida bukan oksigen. Apa itu? Entahlah, saat itu dia belum tau sejauh itu. Eon ingat hari dimana dia melihat episode ketika Profesor mengajarkan pada Ben dan Dera bahwa tidak boleh melet...

Yakin itu Minimalis?

       Sebenarnya ini sudah aku pikirkan entah dari kapan, entah setahun lalu, dua tahun lalu, atau bahkan lima tahun lalu. Sebenarnya minimalis ini apa sih? Apakah minimalis seperti itu? Benarkah seperti itu? Gaya hidup orang jaman sekarang sering kali membuat bingung. Menurut artikel yang aku baca di website *Kementerian Keuangan Indonesia, " minimalis adalah gaya hidup yang berfokus pada meminimalkan gangguan yang dapat menjaga kita untuk melakukan hal-hal yang benar-benar penting saja (* Break the Twitch) . Joshua Becker, penulis * Becoming Minimalist, menyebutkan bahwa   minimalis merupakan tentang mendapatkan apa yang membuat kita bahagia dan menghilangkan apa yang tidak. Dari pengertian tersebut dapat kita ketahui bahwa hidup minimalis adalah gaya hidup yang sederhana atau praktis atau sederhananya membuang sesuatu yang sebenarnya tidak anda butuhkan ”.     Dari pengertian-pengertian tersebut, minimalis memiliki makna yang berbeda-beda walaupun ...

Si Paling Jodoh

Aku selalu mencari jawaban mengenai jodoh. Agak geli sebenarnya ketika aku membicarakan soal ini. Lumayan ngerasa gak pantes juga karena aku sendiri masih mencari jodoh "pasangan hidup". Tapi lumayan ngeganjel juga kalau aku tidak menuliskan ini, makanya aku tulis saja apa adanya.  1 Sebelum ini aku berpikir bahwa jodoh adalah soal dua manusia yang diciptakan bersamaan, kemudian berpisah, tapi suatu saat akan bersatu kembali. Makanya ada yang bilang jodoh adalah tulang rusuk yang terpisah. Jadi, bagian dari tubuh tersebut dan tubuh inangnya akan saling mencari sehingga mereka akan bertemu di satu titik. Entah kapan, entah dimana, dan entah siapa. Tapi agak omong kosong sebenarnya. Dan seperti terlalu dipaksakan agar terdengar romantis.  2 Ada yang bilang jodoh adalah cerminan diri. Ada juga yang bilang jodoh adalah saling melengkapi. Keduanya sangat terdengar kontradiksi. Yang mana yang benar? Yang mana yang paling masuk akal? Cerminan diri: itu artinya dia akan sama persis d...

Titik Nol Kedua

 Ketika mimpimu yang begitu indah Tak pernah terwujud, ya sudahlah Saat kau berlari mengejar anganmu Dan tak pernah sampai, ya sudahlah, hmm Dulu aku benci sekali mendengarkan lagu Ya Sudahlah milik Bondan. Aku benci ketika aku harus menyerah atas semua mimpiku yang aku rangkai. Bagiku semua mimpi pasti bisa diraih. Dan semesta akan mengantarkan kita pada mimpi kita itu. Namun, setelah melalui masa pahit hidup, rasanya lagu itu lebih realistis untuk didengarkan. Maknanya bisa diterima. Aku tidak lagi melabeli lagu tersebut dengan kata "menyerah". Sekarang aku akan menggantinya dengan "ikhlas". Akhir-akhir ini aku juga mendengarkan lagu Catatan Kecil dari Adera. Aku suka sekali bait ini,  Bila dunia membuatmu kecewa Karna semua cita-citamu tertunda Percayalah segalanya Telah diatur semesta Agar kita mendapatkan yang terindah Mendengarnya membuatku jadi lebih bersemangat untuk melanjutkan hidup. Rasanya mimpi itu hidup kembali. Baru saja aku bertemu teman-teman lamaku...

13 Maret 2021

Hari ini mungkin menjadi hari terakhirku menaiki bus Surabaya-Jember. Empat setengah tahun tinggal di Surabaya, tidak membuatku ingin tinggal disana untuk lebih lama. Menurutku cukup. Waktu tambahan seminggu sebagai toleransi untuk menyelesaikan segala urusan disana sudah membuatku pening. Aku sudah tidak mampu mengikuti segala percepatan yang ada disana. Untung saja aku tidak pingsan di tengah macetnya Surabaya ketika jam berangkat dan pulang kerja. Naik bus dan duduk di sebelah jendela sepertinya menjadi pilihan yang tepat karena aku sendiri tidak menyangka akan menangis sebegitunya. Kupikir, mataku cuma akan berkaca-kaca dan menghela napas panjang. Ternyata tidak. Lagi-lagi ini saatnya aku beranjak ya? Omong-omong, sekali lagi Gunung Arjuna menatapku seperti ini. Sebenarnya aku malu, karena lagi-lagi aku seperti ini. Hanya saja, sekarang beda orang. Aku sempat heran dengan lagu Jingga milik Fatin. Hmmm, sebenarnya ada apa dengan lagu itu? Seperti bawang yang memiliki nada, aku selal...