Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian II: Bukit Ijo)

Dari kejauhan terlihat dua anak gadis berambut keriting dikuncir dua berantakan. Salah seorang gadis membawa kresek di tangan kirinya sedangkan yang satu lagi menenteng sepatu yang diikat satu sama lain. Dengan kaki tanpa alas (alias cekeran) mereka berjalan santai dengan sesekali memainkan genangan air yang menghalangi jalan mereka. Bukan menghalangi, lebih tepat seperti wahana sepulang sekolah. Mereka berjalan lama sekali dan saling berbincang. Entah sebenarnya apa yang gadis-gadis berumur tujuh tahun itu bicarakan.
Sesampainya di depan rumah, Eon melambaikan tangan kepada temannya itu, "Minggu ya!" Sepertinya mereka merencanakan sesuatu lagi. Neneknya yang melihat cucunya pulang sekolah tanpa sepatu tentu marah, "yaampun Eon.. kenapa hujan-hujan? Sepatunya mana?"
"Di depan, basah," jawabnya sambil berdiri di atas keset.
"Udah, lewat belakang! Tasnya taruh dulu. Sepatunya jangan lupa dibereskan!"
Eon pun langsung menuruti kata-kata neneknya. Dia langsung kembali keluar rumah dan memutar lewat pintu belakang. Segera dia mandi, meletakkan seragamnya yang kotor di timba. "Besok pakai baju pramuka". Ternyata anak ini sudah memikirkan setidaknya dia tidak merugikan diri sendiri karena seragam merah putihnya yang kotor karena main hujan. Omong-omong, apa yang gadis ini rencanakan bersama temannya itu? 

Di hari Sabtu pagi, Eon berangkat sekolah. Ia mengenakan seragam pramuka. Seperti biasa dia berangkat bersama temannya, Zin. Kuharap mereka bergegas dan tidak banyak mengobrol di jalan agar tidak telat. Jika dilihat sekilas, Eon memang terlihat seperti anak yang agak pemalu dan tidak banyak omong. Dibandingkan dengan Zin yang cerewet, Eon nampak seperti anak yang cuek. Apalagi temannya tidak sebanyak itu. Hanya beberapa. Tapi entah kenapa ketika bersama Zin, Eon jadi banyak omong. Bahkan orang tua mereka melarang mereka duduk sebangku, katanya agar mereka tidak mengobrol terus ketika di kelas.

Kringgg~

Bel sekolah berbunyi. Mereka segera masuk kelas dan duduk di bangku masing-masing. Walaupun sudah dilarang duduk bersama, sebenarnya Eon duduk tepat di belakang Zin. Di kelas satu ini Eon duduk bersama Mala dan Dayu. Memang ada beberapa anak yang duduk bertiga di kelas ini. Aku yang selalu menemani Eon tidak terlalu suka jika Mala harus menjadi teman sebangku Eon. Lagaknya sudah seperti pem-bully di sinetron-sinetron. Sedangkan Dayu biasa saja, tapi dia agak penakut. Siapa yang tidak takut, Mala garang sekali. 
"Eh, Day, nanti ikut aku ke kantin. Jangan bareng Eonoia!" kata Mala sambil pura-pura berbisik di telinga Dayu. 
"Iya, Mal," jawab Dayu dengan suara agak bergetar. Jelas sekali anak ini takut terhadap Mala, makanya dia tidak berani menolak ajakan Mala.

Walau jengkel, rupanya Eon tidak terlalu tertarik untuk menggubris obrolan mereka. Cih, siapa yang peduli. Ke kantin gak ditemenin juga gak masalah. Oke, ternyata Eon agak jengkel, tapi dia tetap pura-pura tidak mendengar apa-apa. Seketika dia langsung mencolek Zin dari belakang. 
"Zin, Zin,"
"Apa Eon?" tanya Zin tanpa menoleh ke Eon karena guru mereka sedang menjelaskan. 
"Besok jadi?"
"Iyalah Eon. Nanti bawa sepeda sendiri-sendiri loh, " jawab Zin sambil menoleh. "Jadi nanti kita ke arah bukit yang katamu itu terus mampir..."
"Aduhh!!"
Belum sempat Zinnia menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Bu Yuni menjewer telinga Zin dan Eon tentunya. "Kalian ini kenapa ngobrol terus? Yang lainnya belajar dan memperhatikan, tapi kalian malah mengobrol dari tadi. Yaudah Zin, sekarang bawa tasmu dan duduk di sebelah Chandra!"

Zin langsung beranjak dari kursinya dan membawa tas serta bukunya. Eon menatap ke Zin yang berjalan menuju bangku Chandra. Setelah melihat Zin duduk dan menoleh pada Eon, dia bergegas mengedipkan mata untuk mengode minta maaf. Rupanya orang tua mereka benar, mereka tidak boleh sebangku maupun duduk berdekatan. 
"Tuh, gara-gara Eon si Zinnia malah disuruh pindah sama Bu Yuni," bisik Mala pada Dayu. Kali ini Dayu tidak menjawab apapun. Dasar bodoh, ngapain bisik-bisik kalo ujung-ujungnya kedengaran. Ada satu lagi yang harus Eon pelajari, dia tidak seharusnya berkata kasar walau hanya di dalam hatinya.

Subuh-subuh Eon sudah sibuk menyiapkan bekal. Dia membawa satu botol air dan kue yang dibelikan kedua orang tuanya semalam. Dia mengambil dua potong dan kemudian kedua kue tersebut dibungkus kembali di plastik kiloan milik neneknya. Orang tua Eon masih tidur, sedangkan neneknya sedang bersiap pergi ke pasar.
"Nek, mau ke pasar?" tanya Eon sambil memasukkan bekalnya ke tas ranselnya. Belum sempat neneknya menjawab dia sudah menambahi, "aku mau sepedaan bareng Zin, Nek."
Eon segera menggapai tangan neneknya dan salim.
"Jangan jauh-jauh, jangan sampai bedug loh ya," rupanya neneknya tau kalau Eon suka sekali main jauh dan sampai tidak kenal waktu.
"Iyaa."

Di depan rumah sudah ada Zin yang bersiap dengan dua botol air minum di keranjang, tas punggung, dan topi berwarna pink. Oh iya, topi! Tiba-tiba Eon kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil topi yang sudah ia siapkan semalam.
"Eon, ayo!" teriak Zin.
"Iya ini masih ambil topi," jawab Eon sambil jalan dan sambil mengenakan topi kuning bergambar tuan Winnie the pooh.
"Ayo!"

Kedua gadis itu mengayuh sepeda menyusuri jalanan yang masih sepi dan cenderung gelap. Bahkan ini belum ada tanda-tanda matahari muncul. Sepertinya mereka menuju bukit yang cukup terkenal di kota ini, bukit Ijo. Sebenarnya itu bukan nama bukit sesungguhnya, tapi mereka suka menamai sesuatu sesuka mereka. Bukit Ijo karena berwarna hijau, kembang kuning karena berwarna kuning, jalan angker karena tempatnya sepi dan tertutup, desa susuan karena banyak sapi, dan lain sebagainya. Mereka menyeberang di pusat kota yang sudah agak ramai karena dekat dengan pasar. Terus, mereka menyusuri rel kereta. Gadis-gadis ini sepertinya tidak kenal takut dan lelah. Jalanan ini sudah cukup jauh untuk anak SD kelas 1 bermain. Sampai di sini jalanannya mulai berkelok dan menanjak.

"Eon, di sini tempatnya?" tanya Zinnia sambil menyalip agar mereka bisa sejajar.
"Bukan, dikit lagi Zin, agak ke sana," jawab Eon sambil menunjuk ke arah pohon besar. "Mau berhenti dulu?" Ya ampun, Eon ini sepertinya kurang peka. Jelas-jelas wajah Zinnia mulai terlihat memerah. Jelas kalau di terlalu capek dan haus keliatannya. Eon, PR-mu banyak. Eh, PR kita. Iya, aku harus mengajarinya agar lebih peka.
"Iya, Eon. Aku mau minum dulu." Akhirnya mereka berdua minum air dari botol masing-masing. Eon hanya minum tiga teguk sedangkan Zinnia hampir menghabiskan satu botol penuh. Eon memang tidak terlalu banyak minum, di rumah dia sudah minum satu gelas penuh. Eon seperti unta yang menyimpan air minum kemudian tahan tidak minum hingga waktu yang cukup lama.

Tidak lama setelah istirahat dan berbincang sedikit, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Karena jalan ini cukup menanjak, mereka pun memutuskan untuk menuntun sepeda masing-masing. Setibanya di pohon besar, Eon berteriak,
"Zinn, lihat! Woowww, bagus sekali loh!"
Sesegera mungkin Zinnia berlari menghampiri Eon yang masih tercengang di sebelah pohon besar.
"Uwoowww!" kini kedua gadis itu tercengang bersama seolah mereka sudah sampai di puncak bukit. Padahal puncak bukit ini masih lumayan jauh.

Aku akui pemandangan dari sini memang sangat indah, gunung terpanjang terlihat gagah di seberang sawah sana. Sawah yang masih hijau, capung seliweran, burung-burung berkicau, dan mentari yang terbit dari balik kerucut gunung. Indah. Sudah lama aku tidak melihat pemandangan seperti ini. Seorang gadis kecil ini membuatku menangis bahagia. Terima kasih Eonoia.



-Din, Jember 10:18 (10/03/23)




Komentar