Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian I: 6 tahun)
Aku lahir dalam raga seorang manusia bernama Eonoia. Anak perempuan dengan kulit cokelat dan berambut keriting. Dari fisik, Eon bukanlah gadis berparas cantik atau lembut, fisiknya benar-benar biasa saja. Wajahnya seperti perpaduan yang kurang tepat antara bapak dan ibunya. Tapi, aku berjanji padanya, "Dia akan tumbuh menjadi manusia yang spesial" Kurang lebih begitulah janji yang aku ingat.
Satu, dua, tiga tahun berlalu. Sudah lebih dari seribu langkah Eon melalui proses hidup di dunia. Dari sinilah otaknya mulai bekerja ekstra. Ia bahkan ingat tontonan apa yang dia lihat ketika itu, serial "Aku Anak Jenius" dari bonus susu kardus Frisian Flag yang dia minum sehari-hari. Semenjak itu juga dia tahu bahwa tanaman tidak seperti dirinya (manusia), tanaman-tanaman itu menghirup karbondioksida bukan oksigen. Apa itu? Entahlah, saat itu dia belum tau sejauh itu. Eon ingat hari dimana dia melihat episode ketika Profesor mengajarkan pada Ben dan Dera bahwa tidak boleh meletakkan tanaman di dalam rumah terlebih saat malam hari. Karena mereka akan berebut oksigen -sesuatu yang manusia hirup. Saat itu juga Eon mulai bertanya, "mengapa begitu?" Aku belum bisa menjelaskan banyak kepadanya tentang itu.
Empat, lima, enam tahun waktu yang dia habiskan bersama neneknya. Orang tuanya bekerja dari pagi sampai sore untuk membiayai hidupnya. Seumur hidupnya dia habiskan bersama neneknya dari pagi sampai pagi lagi. Hanya sesekali ketika dia sekolah neneknya tetap di rumah. Eon memiliki rambut ikal yang cantik. Kulitnya semakin menggelap karena dia rajin sekali mandi sinar matahari bersama teman-temannya. Bersepeda, memancing di kali, naik pohon, petak umpet, dan permainan lainnya.
Eon seringkali ikut neneknya melakukan sesuatu. Membersihkan kolam ikan mas dan menyiramkannya pada tanaman. "Kenapa disiram ke tanaman?" tanyanya pada Nenek. "Ini jadi pupuk," jawab sang Nenek. Eon tau kalau pupuk adalah makanan tanaman. "Tapi apakah tanaman makan eek ikan?" Dia mulai bertanya pada dirinya sendiri lagi.
Pada tahun-tahun itu Eon mulai bertingkah aneh, tapi begitulah aku membuat dirinya menjadi spesial. Eon jadi suka bermain sendiri di lantai dua rumah neneknya. Setelah pulang sekolah, pada pukul setengah sebelas, Eon langsung ke lantai dua. Selain menahan eeknya, dia juga suka menyembunyikan rahasia miliknya sendiri di lantai dua. Eon mengambil gula satu sendok makan dan menyimpannya di tangannya. Sambil sembunyi takut ketahuan, dia lari menaiki anak tangga. Satu cubit, dua cubit, tiga cubit, dia mulai membagikannya pada semut-semut yang jalan di dekat tangga. Astaga, ternyata Eon memberi mereka makan! "Jangan mencuri makanan ya, besok aku kasih lagi," katanya pada semut-semut itu.
Esoknya Eon kembali memberi semut-semut itu gula. Selama ini Eon mengira bahwa semut-semut itu menyukai gula. Sebenarnya dia tidak salah, gurunya mengajari begitu. Tapi tidak sepenuhnya benar. Entah berapa hari dia rajin sekali memberi makan semut, semut-semut sudah seperti hewan peliharaan baginya. "Eon! Ayo makan dulu!" teriak neneknya dari bawah. Eon langsung turun ke bawah mengambil makanan. "Nek, aku makan di atas yaa," segera Eon berlari menaiki anak tangga tanpa menunggu jawaban dari neneknya. Eon mulai makan bersama semut-semut yang ada di sebelahnya. Sebelum makanannya habis, dia bergegas kembali ke bawah mengambil air, untuknya dan semut-semutnya. Terus dia kembali lagi ke atas. "Yaampun! Kenapa kalian makan makananku? Kan kalian sudah punya makanan sendiri." Eon sibuk menyapu semut-semutnya yang mulai merangkak membawa nasi dan lauk dari piring Eon. "Kenapa ya semut-semut itu masih makan makananku? Kan mereka sudah kukasih makan, harusnya mereka sudah kenyang. Perut mereka tidak besar. Dan kenapa mereka suka nasi? Kenapa juga suka lauk makanan Eon?" Eon mulai bertanya-tanya pada dirinya lagi.
Beberapa hari ini Eon sudah berhenti memberi makan semut-semutnya. "Semut suka semuanya dan mereka tidak pernah berhenti membawa makanan ke lubang rumahnya. Mereka akan terus dan selalu begitu". Aku tidak memahami hal itu darimana. Tapi setidaknya dia sudah belajar dan tidak memelihara semut. Tapi keliatannya dia punya kesibukan lain. Dia mulai membawa boneka dan membuat baju dari kain sisa jahitan baju Neneknya. Dia pakaikan agar bonekanya terlihat cantik. Dia gambar beberapa baju cantik untuk dibuat lagi esok hari. Dia menjepit kain di belakang punggung bonekanya dengan jepit jemuran, merapikan rambutnya, dan mendandaninya bak seorang putri. "Cantik," kata Eon pada bonekanya.
Sembari memainkan bonekanya, Eon sesekali naik di atas pagar bata dekat jemuran baju. Disitu dia bisa melihat banyak atap rumah teman-temannya. Dia juga bisa melihat gedung telkom yang tempatnya jauh dari sini. Dan sesekali gunung juga terlihat dari sini. Tapi kali ini langit mendung. Sepertinya mau hujan. Duk.. duk.. ting! Eon mendengar neneknya menaiki tangga. Sesegera mungkin Eon turun. "Bantu nenek ambil baju-bajunya ya" Pas! Huft untung saja neneknya tidak melihatnya naik pagar lantai dua ini. Tiba-tiba hujan menetes.
-Din, Jember 19:14 (27/02/23)
Komentar
Posting Komentar