Postingan

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian IX: Surat Untuk Pemimpin Redaksi)

Kata-kata dari tantenya memberi ide Eon untuk segera menuliskan surat keluhan dari pembaca. Dia segera mengambil koran dan mencari artikel "Pembangkit Listrik Tenaga Jin". Dia menggunting bagian itu seperti akan membuat kliping. Biasanya tantenya akan marah jika Eon menggunting koran yang masih terbit baru-baru ini. Tapi ini kan ide dari tantenya, mungkin tidak apa-apa. ... Jumat, 23 Mei 2008 Selamat malam.. Perkenalkan nama saya Eonoia Gentari Amaraloka. Sekarang saya adalah murid kelas 5 SD di Jember. Saya adalah anak yang suka membaca. Sebenarnya hobi saya sangat banyak, saya suka bermain basket, menanam bunga, menulis cerita, menggambar, dll. Oh iya, saya juga suka sekali membaca koran terutama rubrik karikatur. Dari dulu saya ingin langganan koran tapi kata ayah tidak boleh karena katanya tante sudah langganan, jadi saya selalu pinjam koran milik tante. Saya juga ingin menerbitkan karikatur yang saya gambar. Koran hari ini beritanya kebanyakan tentang BBM, jujur saja say...

Jurnal Perjalanan: Ijen-Baluran (Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo)

Gambar
Jember, 09 Juni 2023 Pukul 12.30 WIB. Aku baru saja pulang kerja. Terlihat dua temanku dari Pasuruan sudah datang dan adikku sedang bersiap-siap untuk perjalanan panjang kami. Aku segera masuk rumah, mandi, berganti baju, serta sembahyang. Oh iya, siram bunga! Aku bergegas ke lantai dua untuk menyiram bunga. Ke depan, ke belakang, ke depan lagi, lalu yang terakhir yaitu menyiram tanaman di lantai 1. Setelah menyiram bunga-bunga, aku menghidupkan air tandon kemudian packing barang-barang sambil meneliti satu-satu agar tidak ada yang tertinggal. Karena merasa kelebihan barang bawaan, aku meninggalkan satu sleepingbag dan hanya membawa satu. Sebenarnya saat itu aku ingin sekali meninggalkan jaketku karena aku sudah membawa 2 pakaian. Tapi tidak jadi. Tiba-tiba air tandon rumah luber, aku segera ke dapur dan mematikan air tandon. Tidak lupa aku mengunci pintu belakang & pintu kamar, membawa barang bawaan ke depan, mengeluarkan motor, mengunci pintu depan, serta menggembok pagar rumah...

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian VIII: Pembangkit Listrik Tenaga Jin)

"Dah, Zin!" Eon melambaikan tangan pada Zin sebelum masuk ke rumah. "Dah Eon!" balas Zin.  "NEK, AKU PULANG!" Tidak ada jawaban yang terdengar. Sepertinya orang-orang sedang tidak di rumah. Tante dan orang tuanya pasti masih bekerja. Sedangkan Abhi, Widya, dan Aga mungkin masih belum pulang karena mereka sudah menjadi murid SMP, pulangnya lebih siang daripada murid SD. Dan neneknya, mungkin saja di dapur, atau di lantai dua untuk mengambil jemuran, atau bisa jadi di rumah tetangganya.  Eon segera melepas sepatunya dan berjalan menuju dapur. Ternyata di sana tidak ada neneknya.  "NEK!" Panggil Eon.  "APA? Nenek di atas!" jawab nenek Eon dari lantai dua. Benar saja, dari dapur saja sudah terdengar suara mesin jahit. Eon langsung naik ke atas menyusuri tangga menuju lantai dua untuk memastikan neneknya benar ada di atas. Neneknya sedang menjahit. Belum sempat bilang/bertanya apa-apa, neneknya langsung menjawab,  "ada sayur bayem di da...

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian VII: Langganan Koran)

Gambar
Sejak kelas 4 SD sampai sekarang, ada satu kebiasaan baru Eon di pagi hari dan siang hari. Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah Eon paling suka berada di pintu belakang rumah neneknya. Setelah mandi dan berganti baju dia tidak langsung mengambil sarapannya, dia lebih suka menunggu bapak penjual susu dan pengantar koran melewati rumahnya (rumah neneknya). Pintu belakang rumah neneknya model pintu yang bisa dibuka setengah sehingga dia bisa berdiri di belakang pintu sambil menyilangkan tangannya di atas pintu dan menaruh pipinya di atas lengan bawah. Bremm, brem, brem... "Susuuu! Susu Rembangan!!!" Bapak penjual susu baru saja melewati pintu belakang rumah. Eon langsung bergegas lari ke pintu depan. Belum sampai di pintu depan, tantenya yang juga tinggal di rumah neneknya memanggil Eon, "INI UANGNYA!" "Oh iya!" Eon langsung lari lagi ke kamar tengah dan mengambil uang yang diberi tantenya. "Ini ya Lek Su" "Iya nduk, ini susunya ya. Terima kasi...

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian VI: Cokelat Setengah)

Sepulang sekolah hari ini Eon terlihat sangat marah. Jelas saja dia marah, aku pun ikut marah ketika mengingatnya. Bahkan rasanya ingin menangis. Ternyata dunia ini pun sama saja. Dia langsung menuju kamar tidur tengah. Dia segara berganti baju lalu naik ke kasur dan menutup wajahnya. Di kepalanya terngiang suatu kejadian yang tadi terjadi di sekolah. Sabar ya Eon. Dulu maupun kini, ternyata dunia tetap sama, tidak ada bedanya. Hanya individu manusialah yang berubah. Entah lebih baik atau justru lebih buruk. ------- Disemester kemarin, Eon mendapatkan nilai rapor yang cukup bagus. Kalau tidak salah 90 atau 92, aku tidak terlalu ingat. Tapi yang pasti saat itu Eon sangat bahagia. Bukan main, ia sendiri tidak menyangka akan mendapatkan nilai di atas 90 untuk nilai matematika. Padahal sebenarnya hanya nilai matematikanya yang bagus. Tapi ya aku senang melihatnya bahagia seperti itu. Dia tidak perlu murung melihat nilai bahasanya yang lumayan buruk. Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa...

Eonoia Gentari Amaraloka (Bagian V: Bola Sepak yang Robek)

 "Huuu...Huuu...hiks, hiks," suara tangisan terdengar dari suatu sudut di dalam kelas 3. Padahal kelas ini begitu ramai, tapi terkadang telinga Eon memang cukup peka.  Seperti suara anak nangis, tapi dimana? Eonoia mulai berjalan ke arah sumber suara tangisan itu. Dia mulai menyusuri setiap barisan bangku di dalam kelas. Ternyata sumber suara itu ada di pojok bangku baris keempat. Di sana terlihat seorang anak laki-laki berseragam putih merah sedang memeluk lututnya. Ternyata Aksa! "He-" belum sempat Eonoia memanggil Aksa, tiba-tiba.. BRAK! "Mana Aksa?" teriak salah seorang anak sambil membanting pintu. Rupanya Leo. Semua mata langsung tertuju kepada Leo, termasuk Eon. Suaranya keras dan terdengar marah. "HE! MANA AKSA?" semua anak di dalam kelas terdiam dan tidak menjawab. Eon yang tadi berpaling langsung kembali melihat ke pojok bangku dimana Aksa meringkuk. Tangisannya terhenti tapi dia terlihat lebih takut dari sebelumnya. Leo dan teman-teman...