Postingan

Overthinking-in Lagu

       Sebelumnya tulisan ini mau aku gabung dengan tulisan postingan sebelumnya. Tapi karena topiknya terlalu jauh, jadi aku pisah aja.     Aku tidak tahu akan ke arah mana tulisan ini menuntunku. Seketika hatiku mengarahkan pada sebuah pertanyaan lain yang tidak nyambung dengan topik sebelumnya. Ketika mendengarkan lagu Sal Priadi dan Nadin Amizah - Amin Paling Serius, aku jadi bertanya-tanya, "Sebenarnya jika aku yang mengalami yang mereka rasakan dalam lagu tersebut, pada bagian mana aku ini?" Aku tahu, kamu lahir dari Cantik utuh cahaya rembulan Sedang aku dari badai marah riuh yang berisik Juga banyak hal-hal yang sedih Tapi menurut aku, kamu cemerlang Mampu melahirkan bintang-bintang Menurutku, ini juga kar'na hebatnya badaimu Juga kar'na lembutnya tuturmu     Pada bagian ini kah? Aku tahu, kamu tumbuh dari Keras kasar sebuah kerutan Sedang aku dari pilu, aman yang ternyata palsu Juga semua yang terlalu baik Tapi menurut aku, kamu cemerlang...

Mencari Puzzle

     Aku sudah nemikirkan ini bahkan sebelum aku benar-benar menginjakkan kakiku di sini. Apa alasan Tuhan menempatkan aku di Jogja? Aku sudah menerka-nerka berbagai macam jawaban yang memungkinkan untuk dijawab-Nya. Benarkah aku harus belajar sabar? Benarkah aku harus belajar meraih energi feminimku kembali di sini? Benarkah ini tempat yang tepat untuk aku memulai langkahku? Benarkah bahwa aku di sini karena dibutuhkan? Ataukah sebenarnya aku yang membutuhkan untuk ke sini? Benarkah aku harus menyembuhkan lukaku di sini?     Kata orang, tempat terbaik menyembuhkan luka adalah menemui si pembuat luka. Tapi aku sadar betul bahwa bukan di sini lukaku muncul. Bukankah seharusnya aku kembali ke Surabaya untuk menyembuhkan luka? Kembali menuntut pada si pembuat luka.     Kata orang, pulang dapat menyembuhkan luka. Ketika aku kembali ke kampung, aku tau betul bahwa lukaku tidak kunjung membaik. Dan lagi saat itu aku tidak pernah merasa benar-benar pulang. Ke...

Libur dengan Sederhana

Baru saja aku melihat suatu postingan di Instagram, tulisannya: "Tidur adalah cara sederhana merasakan libur". Setelah membaca posting -an itu aku jadi berpikir, "benar juga". Tidur bisa menjadi suatu hal yang bisa kita syukuri saat berlibur. Tapi setelah aku pikirkan lagi, ternyata ada banyak cara orang memaknai hari liburnya. Bisa jadi memang tidur ketika di membutuhkan istirahat fisik dan pikiran, bersenang-senang dengan teman kalau butuh wadah berkeluh kesah atau sekadar butuh menyerap energi positif, berlibur di tempat wisata dan bersenang-senang demi menghibur diri, jalan-jalan di mall membeli barang yang diidamkan, menghabiskan waktu bersama keluarga, me time, berpetualang dan melakukan hobi, atau seperti aku saat ini, berpikir dan memikirkan diri sendiri juga bisa menjadi salah satu cara untukku berlibur. Memikirkan diri sendiri bukan bermaksud untuk self reward apalagi memanjakan ego, tapi benar-benar memikirkan tentang diri sendiri, tentang hal-hal yang s...

Blog Pertama: All in One

Gambar
blog pertama, sebuah artefak internet milik Dinda Sebelum blog ini aku pernah memiliki satu blog yang sudah aku tinggalkan tapi tidak akan pernah aku hapus. Nama blognya "All in One" dengan domain "styleindoabis". Seingatku, ketika aku pertama kali membuatnya namanya bukan itu. Karena pertama kali aku membuatnya ketika aku masih sekolah dasar (sekitar akhir kelas 6). Atau mungkin blog itu bukanlah blog pertama, entahlah. Dulu seingatku postinganku pertama kali di blog itu adalah tentang kecintaanku terhadap Detektif Conan. Setelah itu jadi merambah ke bagi-bagi link download film Detektif Conan. Dan karena itu blog-ku jadi lumayan terkenal. Kemudian ketika aku sudah masuk SMP, aku mulai mencintai dunia fashion. Ada satu blog fashion yang paling aku suka, dia membahas tentang kampus negeri yang bisa menghasilkan fashion designer. Dari situ aku mulai lumayan aktif membahas tentang fashion. Makanya kemudian nama domainnya aku ubah menjadi styleindoabis. Mungkin agak le...

Berada di Tengah

    Mungkin mudah bagi orang lain untuk mendefinisikan di sebelah mana sebenarnya dia berada atau di kelompok mana di sebenarnya diterima. Tapi tidak denganku. Aku sering bingung di sebelah mana aku ini. Aku malah berpikir, kalau hanya ada surga dan neraka, pasti Tuhan bingung menempatkanku di mana, Makanya aku selalu memilih, kalau bisa ketiadaan. Menurutku satu-satunya titik tengah yang pas bagiku adalah itu.      Setiap ada orang yang bilang aku baik, aku selalu bingung, di bagian mananya aku yang baik. Tapi ketika dibilang jahat aku pun tidak terima. Aku pun sudah pernah bilang, bahwa teman-temanku juga beda-beda dan bahkan bisa jadi bertolak-belakang. Misal yang kelompok satu sangat agamis, satunya lagi malah hampir tidak beragama. Dan aku bisa berteman dengan keduanya, tapi aku bukan salah satu dari mereka.      Tidak jarang aku berada di antara kedua orang yang saling bermusuhan. Di sinilah titik tengah yang sebenarnya paling aku benci. Tem...

My POV: Sally Punker

      Di hari raya Idul Fitri kali ini, aku ingin menceritakan tentang temanku kepada kalian semua. Karena kejadiannya di bulan Ramadhan dan mumpung aku lagi di Jember juga. Ini akan menjadi POV keduaku tentang teman-temanku yang sering disalahpahami oleh orang lain.  Ini tentang dua gadis kembar, teman masa kecilku.        Mungkin aku sudah sering cerita kepada kalian bahwa aku tumbuh di kampung kota. Tempat itu sering aku sebut sebagai kampung kota karena tempatnya saling berdempetan dan warganya solid (tidak individualis). Sewaktu kecil, teman-temanku juga kebanyakan anak kampung situ, gambarannya seperti warga dalam series Get Married atau Imperfect. Waktu itu aku juga ikut mengaji (TPA) di masjid sekitar kampungku dan di sanalah pertama kalinya aku mengenal si kembar.          Si kembar yang aku ingat adalah anak-anak baik. Sejak kecil mereka tinggal bersama nenek dan budhenya. Ayahnya kerja di Kalimantan dan ibunya s...

Mendikte Tuhan

     Menurutmu, seberapa yakin kamu bahwa Tuhanmu akan mengabulkan doa-doamu? Dan sepercaya apa sih kamu pada-Nya? Sebenarnya apapun jawabanmu sih itu terserah dirimu sendiri ya. Tapi aku cuma ingin mepertanyakannya. Jujur saja, bagiku cukup mengeherankan ya ketika ada orang yang terlihat sangat religius tapi tidak percaya bahwa Tuhannya akan mengabulkan doanya. Kadang doanya terdengar seperti basa-basi belaka. Tapi yaudahlah itu urusan mereka, karena bukan itu yang mau aku bahas.      Setelah berbincang lama dengan temanku dalam telepon, ada satu pernyataan darinya yang lumayan membuatku bertanya-tanya, "Din, kamu tuh terlalu mendikte Tuhan." Kalimat itu lumayan terngiang-ngiang di kepalaku selama beberapa bulan ini. Maksudnya apa ya? Aku tau itu bukan kalimat mengejek ataupun menghina, tapi apakah itu salah ya?   "Hah? Mendikte gimana? Kan aku cuma berdoa mauku apa, toh Tuhan juga menjanjikan akan mengabulkan doa makhluk-Nya. Aku berusaha, yaudah set...