Postingan

Mendikte Tuhan

     Menurutmu, seberapa yakin kamu bahwa Tuhanmu akan mengabulkan doa-doamu? Dan sepercaya apa sih kamu pada-Nya? Sebenarnya apapun jawabanmu sih itu terserah dirimu sendiri ya. Tapi aku cuma ingin mepertanyakannya. Jujur saja, bagiku cukup mengeherankan ya ketika ada orang yang terlihat sangat religius tapi tidak percaya bahwa Tuhannya akan mengabulkan doanya. Kadang doanya terdengar seperti basa-basi belaka. Tapi yaudahlah itu urusan mereka, karena bukan itu yang mau aku bahas.      Setelah berbincang lama dengan temanku dalam telepon, ada satu pernyataan darinya yang lumayan membuatku bertanya-tanya, "Din, kamu tuh terlalu mendikte Tuhan." Kalimat itu lumayan terngiang-ngiang di kepalaku selama beberapa bulan ini. Maksudnya apa ya? Aku tau itu bukan kalimat mengejek ataupun menghina, tapi apakah itu salah ya?   "Hah? Mendikte gimana? Kan aku cuma berdoa mauku apa, toh Tuhan juga menjanjikan akan mengabulkan doa makhluk-Nya. Aku berusaha, yaudah set...

My POV: The Third Roommate

Mungkin sebelum mempublikasikan ini aku perlu izin ke temanku karena kisah ini cukup privat dan menyakitkan. Tapi aku ingin membahasnya karena mungkin ini menjadi salah satu tulisan yang pernah aku buat yang sarat akan pembelajaran hidup, tapi tentu tidak akan aku ceritakan semua. Oh iya, ini cerita murni dari sudut pandangku ya... ***      Aku ingat sekali pertama kali mengenal temanku ini ketika aku meminjam mesin Jigsaw untuk suatu tugas mata kuliah. Sebenarnya dia adalah kakak tingkatku tapi kami menempuh mata kuliah yang sama dan berangkat kuliah bersama (mungkin lebih tepatnya dia nebeng ya karena motornya rusak wkwk). Singkat cerita karena adanya kesamaan keadaan, dia butuh pindah ke kos yang lebih murah dan aku butuh teman sekamar kos akhirnya kami memutuskan untuk mencari kos bersama. Itulah alasan awalnya kenapa kami manjadi roommates padahal bukan teman seangkatan, bukan teman dekat, dan bukan teman dari daerah yang sama. Mungkin ini juga bisa menjadi jawaban ...

Pulang

Gambar
     Ada satu lagi yang selalu menjadi pertanyaanku selama ini. Jadi, apa definisi pulang? Ketika aku berada di perantauan untuk pertama kalinya, aku selalu berpikir bahwa aku ingin pulang. Jadi, saat itu aku mulai berpikir bahwa pulang adalah ketika aku berada di kampung halamanku. Tapi, setiap aku melakukan perjalanan itu, aku selalu ingin semuanya berjalan lambat. Kalau biasanya berangkat aku menggunakan kereta api, pulangnya aku lebih suka naik bus. Di situ aku juga berpikir, "perasaan seperti inilah yang aku rindukan". Justru di perjalanan pulang itu aku bisa tidur dengan nyaman, sekalipun menurut orang-orang naik bus justru lebih berbahaya daripada kereta api.     Aku rasa, perasaan pulang itu ada hanya ketika aku merantau. Tapi ketika aku memutuskan untuk tinggal di kampung halamanku, justru aku tidak pernah merasa pulang. Dan justru aku hilang arah, "kemana aku harus pulang?" Kata orang, kita tidak boleh mencari kemana kita harus pulang karena sebenarnya...

Parenting ala Pak Darif

Gambar
"Nduk, nanti kamu ke sini lagi yo! Kita harus nyangkruk kayak gini," kata bapak tua yang baru saja aku kenal malam ini. "Hadi, kamu nanti kabari aku ya kalo anak ini ke sini lagi, jangan sampai enggak!" perintahnya pada temannya, Hadi si tukang las dan tukang bubut kayu. "Iya, Pak, InsyaAllah ya. Kalau saya ngerjain tugas yang butuh las/bubut kayu pasti ke sini kok" "He, jangan pas tugas tok, kalau senggang aja.." "Hehe" ... "Mbak, saya heran, kenapa sampeyan kok mau ngobrol sama sopir-sopir ini? Kan biasanya mahasiswa apalagi yang cewek, mana mau gumbulan sama sopir gini?" "Lah, emang gitu Pak? Kalau saya memang suka ngobrol sama siapa saja." ***      Ingatan itu tiba-tiba saja muncul ketika aku dan mbakku diskusi mengenai alasan kenapa member Keluarga Darif kebanyakan ekstrovert dan mudah sekali bergaul dengan banyak orang. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya kami mempertanyakan hal ini. Hampir semua anggota kelua...

Paradoks: Trauma

Ada hal yang cukup paradoks tentang manusia dan traumanya, yang lumayan membuat aku bingung. Jadi, apakah trauma itu harus disembuhkan? Mungkin jawabannya sudah jelas, yaitu bukan soal sembuh tapi tentang bagaimana meminimalisir risikonya. Oke, jawaban itu adalah hal yang sangat bisa diterima otakku. Tapi bagaimana aku bisa menerima jawaban itu? Pada dasarnya trauma tidak sesimpel itu. Sesembuh apapun dirimu tentu akan membuat atau bahkan menciptakan trauma lainnya. Misal, dulu kita pernah di- bully di sekolah, trauma itu melekat pada kita sampai sekarang bahkan dengan tidak sadar. Di luar kesadaran kita, trauma itu jadi membentuk diri kita hari ini. Kita menjadi lebih protektif ke anak, memanjakan anak, tidak memberikan ruang privasi untuk anak, dan lain sebagainya. Mungkin baik bagi kita, tapi belum tentu bagi mereka. Kenapa sih aku harus memberi contoh tentang anak dan orang tua? Ya karena menurutku sifat anak adalah salah satu produk trauma dari si orang tua. Ya, tapi aku bisa mem...

Asumsi Tentang Pernikahan

Kali ini aku ingin menuliskan sesuatu yang cukup serius dan menjadi keresahan untuk manusia-manusia seumuranku, yaitu tentang pernikahan. Sejujurnya aku cukup menahan diri untuk menuliskan ini. Tapi lebih baik aku tuangkan dalam bentuk tulisan daripada sekadar terngiang di otak. *** Sebelum masuk ke pembahasan, aku mencoba mengorek masa kecilku: apa yang ada di pikiran masa kecilku tentanng pernikahan. Tapi tidak ada. Hehehe, aku baru memikirkan soal pernikahan ketika kuliah. Jadi, proses berpikir ini sebenarnya tidak terlalu lama. Waktu itu ketika aku mulai memikirkan tentang pernikahan, tepatnya ketika aku sudah memasuki usia dewasa, aku berpikir bahwa pernikahan adalah salah satu cara wanita dewasa ingin keluar dari masalah hidupnya dan membawa harapan baru di kehidupan pernikahannya. Berbeda dengan bagian si wanita dewasa, pria dewasa aku asumsikan bahwa pernikahannya hanyalah bertujuan untuk melegalkan hasrat seks-nya. Menurutmu kenapa aku sempat berasumsi seperti itu? Yuk kita ba...

Perjalanan Singkat

Aku berjalan di sebuah pegunungan tandus. Di sana terdapat batu yang besar dan sangat keras. Aku bertanya pada batu yang diam di atas guguran daun pepohonan kering, "untuk apa kerasmu? Kenapa tidak melunak saja?" Batu itu menjawab, "aku ini batu, jadi wajar jika aku keras. Andaikan aku bukan batu, aku bersedia untuk melunak." Benar juga..  Aku lanjutkan perjalanan kecil ini. Di jalan cabang itu ada mawar yang mengering. Aku bertanya kepadanya, "kenapa durimu tajam? Bukankah warna cantikmu sudah memenuhi segalanya?" Mawar itu pun menjawab, "hanya duri ini yang bisa melindungiku bahkan ketika aku mengering seperti sekarang. Warnaku hanya sesaat." Lalu aku melihat goa yang gelap di ujung sana. Kuputuskan untuk beristirahat di dalam goa itu. Di dalam goa itu terdapat kilauan dari stalaktit kristal. Indah sekali. Kuambil sedikit untuk kubawa pulang. Segera kumasukkan dia dalam kantong yang kubawa ini.  "Tolong jangan bawa aku! Biarkan aku di sini...