Postingan

Paradoks: Trauma

Ada hal yang cukup paradoks tentang manusia dan traumanya, yang lumayan membuat aku bingung. Jadi, apakah trauma itu harus disembuhkan? Mungkin jawabannya sudah jelas, yaitu bukan soal sembuh tapi tentang bagaimana meminimalisir risikonya. Oke, jawaban itu adalah hal yang sangat bisa diterima otakku. Tapi bagaimana aku bisa menerima jawaban itu? Pada dasarnya trauma tidak sesimpel itu. Sesembuh apapun dirimu tentu akan membuat atau bahkan menciptakan trauma lainnya. Misal, dulu kita pernah di- bully di sekolah, trauma itu melekat pada kita sampai sekarang bahkan dengan tidak sadar. Di luar kesadaran kita, trauma itu jadi membentuk diri kita hari ini. Kita menjadi lebih protektif ke anak, memanjakan anak, tidak memberikan ruang privasi untuk anak, dan lain sebagainya. Mungkin baik bagi kita, tapi belum tentu bagi mereka. Kenapa sih aku harus memberi contoh tentang anak dan orang tua? Ya karena menurutku sifat anak adalah salah satu produk trauma dari si orang tua. Ya, tapi aku bisa mem...

Asumsi Tentang Pernikahan

Kali ini aku ingin menuliskan sesuatu yang cukup serius dan menjadi keresahan untuk manusia-manusia seumuranku, yaitu tentang pernikahan. Sejujurnya aku cukup menahan diri untuk menuliskan ini. Tapi lebih baik aku tuangkan dalam bentuk tulisan daripada sekadar terngiang di otak. *** Sebelum masuk ke pembahasan, aku mencoba mengorek masa kecilku: apa yang ada di pikiran masa kecilku tentanng pernikahan. Tapi tidak ada. Hehehe, aku baru memikirkan soal pernikahan ketika kuliah. Jadi, proses berpikir ini sebenarnya tidak terlalu lama. Waktu itu ketika aku mulai memikirkan tentang pernikahan, tepatnya ketika aku sudah memasuki usia dewasa, aku berpikir bahwa pernikahan adalah salah satu cara wanita dewasa ingin keluar dari masalah hidupnya dan membawa harapan baru di kehidupan pernikahannya. Berbeda dengan bagian si wanita dewasa, pria dewasa aku asumsikan bahwa pernikahannya hanyalah bertujuan untuk melegalkan hasrat seks-nya. Menurutmu kenapa aku sempat berasumsi seperti itu? Yuk kita ba...

Perjalanan Singkat

Aku berjalan di sebuah pegunungan tandus. Di sana terdapat batu yang besar dan sangat keras. Aku bertanya pada batu yang diam di atas guguran daun pepohonan kering, "untuk apa kerasmu? Kenapa tidak melunak saja?" Batu itu menjawab, "aku ini batu, jadi wajar jika aku keras. Andaikan aku bukan batu, aku bersedia untuk melunak." Benar juga..  Aku lanjutkan perjalanan kecil ini. Di jalan cabang itu ada mawar yang mengering. Aku bertanya kepadanya, "kenapa durimu tajam? Bukankah warna cantikmu sudah memenuhi segalanya?" Mawar itu pun menjawab, "hanya duri ini yang bisa melindungiku bahkan ketika aku mengering seperti sekarang. Warnaku hanya sesaat." Lalu aku melihat goa yang gelap di ujung sana. Kuputuskan untuk beristirahat di dalam goa itu. Di dalam goa itu terdapat kilauan dari stalaktit kristal. Indah sekali. Kuambil sedikit untuk kubawa pulang. Segera kumasukkan dia dalam kantong yang kubawa ini.  "Tolong jangan bawa aku! Biarkan aku di sini...

Dari Jendela Tua, untuk Tuan Pagi

Gambar
Jendela Tua Kepada Tuan Pagi, biarlah cahayamu menyentuh hangat melalui jendela tua ini. Biarkan ruangan itu sedikit menghangat setelah badai sore menerjang kami. Biarkan dia perlahan menyatukan kepingannya lagi. Tertanda, Jendela Tua -Din (arsip: Jember, 04/04/2020) 

Tentang Panpan dan Lautan

Gambar
Bersama ikan-ikan. Apakah ada Panpan di sana? Aku melayang menyusuri semak lautan. Keindahannya setara dengan hutan di pegunungan. Ikan-ikan itu berkumpul mencari makan atau bergosip pagi bak sekelompok burung di hutan. Aku seperti benda asing yang mengambang di lautan. Mereka tidak menghiraukanku tapi juga tidak memperbolehkanku untuk join dalam percakapan mereka atau sebenarnya lebih pantas disebut gunjingan di pagi hari bersama tukang sayur. Kulanjutkan perjalananku menyusuri lautan ini. Seekor ikan datang menghampiriku. Ikan itu seperti tidak takut pada benda asing ini. Melihatnya aku jadi teringat ikan kecilku yang aku beli di pasar kaget, namanya Panpan. Tapi, apakah Panpan bereinkarnasi menjadi ikan di lautan? Semoga, karena tempat ini cocok untuknya. Di sini ada banyak teman, indah, banyak makanan, luas (tidak terbatas di akuarium), alami, dan pasti impian ikan-ikan hias yang dijual para manusia. Ataukah Panpan sudah menjadi burung di langit sana seperti impiannya selama ini? P...

Memori Rasa Sakit

Ada banyak hal yang tidak aku ketahui di dunia ini. Terlepas tentang takdir-takdir yang menjadi kewajiban, hak, dan wewenang Tuhan. Ini tentang kisah manusia-manusia. Mungkin saja, aku sempat terlalu sombong. Kebanggaanku kepada diriku sendiri membuatku lupa bahwa manusia lain juga punya kisahnya masing-masing. Hal yang dilalui sesuai dengan porsinya. Tidak boleh ada kalimat, "Hal yang kamu lalui gak seberapa dibandingkan masalah yang sudah aku lalui kemarin." Dilarang keras! Hatiku rasanya sangat teriris. Lagi-lagi aku menyerap rasa sakitnya. Untuk mereka, teman-temanku yang kesulitan menitikkan air matanya. Setelah mendengar kisah mereka, aku menjadi yakin bahwa Tuhan memang memberi sesuai porsinya. Beratnya yang aku rasakan itu juga masih dalam porsiku. Mungkin saja di dunia ini peranku memang sebagai jembatan. Boleh jadi ternyata bukan hanya satu peran, tapi lebih. Kali ini ada satu peran yang aku sadari dan sepertinya itu menurun dari nenekku ke mamaku, lalu ke aku. Yait...

Bunga Tidur

Kadang, aku takut dengan diriku sendiri. Sebenarnya aku gak mau menyebut diriku indigo, cenayang, peramal, atau sejenisnya. Tapi ini lumayan mengusik aku selama bertahun-tahun. Aku tidak membencinya, hanya saja aku terusik. Entah berapa kali aku mengalami ini dan sejak kapan. Sejak kecil kah? Atau semenjak hari itu? Aku tidak bisa menyebut diriku spesial atau istimewa, pada dasarnya kita semua adalah spesial untuk diri kita masing-masing. Seperti yang pernah aku katakan, bahwa aku bukanlah orang yang lahir dari keluarga religius, semuanya aku maknai sendiri. Tapi apakah kalian percaya bahwa aku terkadang tau sesuatu sebelum waktunya? Seperti nenekku yang diberi petunjuk oleh Tuhan bagaimana cara menyembuhkan luka kakiku (sewaktu kecil) lewat mimpi? Berkali-kali nenekku menceritakan tentang mimpinya itu, absurd tapi selalu dianggap bahwa itu sebuah petunjuk dari Tuhan. Aku pun mengalami yang nenekku alami. Tapi rasanya mimpiku lebih tersurat ketimbang mimpi nenekku yang sangat amat ters...