Memori Rasa Sakit

Ada banyak hal yang tidak aku ketahui di dunia ini. Terlepas tentang takdir-takdir yang menjadi kewajiban, hak, dan wewenang Tuhan. Ini tentang kisah manusia-manusia. Mungkin saja, aku sempat terlalu sombong. Kebanggaanku kepada diriku sendiri membuatku lupa bahwa manusia lain juga punya kisahnya masing-masing. Hal yang dilalui sesuai dengan porsinya. Tidak boleh ada kalimat, "Hal yang kamu lalui gak seberapa dibandingkan masalah yang sudah aku lalui kemarin." Dilarang keras!

Hatiku rasanya sangat teriris. Lagi-lagi aku menyerap rasa sakitnya. Untuk mereka, teman-temanku yang kesulitan menitikkan air matanya. Setelah mendengar kisah mereka, aku menjadi yakin bahwa Tuhan memang memberi sesuai porsinya. Beratnya yang aku rasakan itu juga masih dalam porsiku.

Mungkin saja di dunia ini peranku memang sebagai jembatan. Boleh jadi ternyata bukan hanya satu peran, tapi lebih. Kali ini ada satu peran yang aku sadari dan sepertinya itu menurun dari nenekku ke mamaku, lalu ke aku. Yaitu memori rasa sakit.

Sebenarnya bagaimana memori rasa sakit itu? Mungkin seperti buku diary yang menyerap kisah seseorang yang menuliskannya. Atau mungkin, seperti kartu memori yang menyimpan banyak foto. Mungkin juga juga seperti penadah yang menampung sampah-sampah. Tapi yang paling melekat hanyalah rasa sakit.

Aku bisa merasakan bagaimana pedihnya mendengar kisah teman-temanku sekalipun mereka menceritakannya dengan wajah tersenyum atau bahkan guyon. Bahkan ketika mereka semua lupa dengan rasa sakit itu, aku tetap mengingatnya. Aku tidak paham apakah ini termasuk hal yang berguna atau tidak. Pada dasarnya semua orang tidak mau mengingat rasa sakit. Lalu untuk apa?



- Din (Sleman, 21/12/2023. 2036 WIB)

Komentar