Postingan

Titik Nol Kedua

 Ketika mimpimu yang begitu indah Tak pernah terwujud, ya sudahlah Saat kau berlari mengejar anganmu Dan tak pernah sampai, ya sudahlah, hmm Dulu aku benci sekali mendengarkan lagu Ya Sudahlah milik Bondan. Aku benci ketika aku harus menyerah atas semua mimpiku yang aku rangkai. Bagiku semua mimpi pasti bisa diraih. Dan semesta akan mengantarkan kita pada mimpi kita itu. Namun, setelah melalui masa pahit hidup, rasanya lagu itu lebih realistis untuk didengarkan. Maknanya bisa diterima. Aku tidak lagi melabeli lagu tersebut dengan kata "menyerah". Sekarang aku akan menggantinya dengan "ikhlas". Akhir-akhir ini aku juga mendengarkan lagu Catatan Kecil dari Adera. Aku suka sekali bait ini,  Bila dunia membuatmu kecewa Karna semua cita-citamu tertunda Percayalah segalanya Telah diatur semesta Agar kita mendapatkan yang terindah Mendengarnya membuatku jadi lebih bersemangat untuk melanjutkan hidup. Rasanya mimpi itu hidup kembali. Baru saja aku bertemu teman-teman lamaku...

13 Maret 2021

Hari ini mungkin menjadi hari terakhirku menaiki bus Surabaya-Jember. Empat setengah tahun tinggal di Surabaya, tidak membuatku ingin tinggal disana untuk lebih lama. Menurutku cukup. Waktu tambahan seminggu sebagai toleransi untuk menyelesaikan segala urusan disana sudah membuatku pening. Aku sudah tidak mampu mengikuti segala percepatan yang ada disana. Untung saja aku tidak pingsan di tengah macetnya Surabaya ketika jam berangkat dan pulang kerja. Naik bus dan duduk di sebelah jendela sepertinya menjadi pilihan yang tepat karena aku sendiri tidak menyangka akan menangis sebegitunya. Kupikir, mataku cuma akan berkaca-kaca dan menghela napas panjang. Ternyata tidak. Lagi-lagi ini saatnya aku beranjak ya? Omong-omong, sekali lagi Gunung Arjuna menatapku seperti ini. Sebenarnya aku malu, karena lagi-lagi aku seperti ini. Hanya saja, sekarang beda orang. Aku sempat heran dengan lagu Jingga milik Fatin. Hmmm, sebenarnya ada apa dengan lagu itu? Seperti bawang yang memiliki nada, aku selal...

Sudah

Gambar
Sekitar sebulan yang lalu, aku baru saja selesai nonton film Story of Kale karena saran dari temanku lewat chat. Seketika itu juga aku langsung membuka platform film online dan mencari judul film indo Story of Kale. Saat aku tonton film itu, sebenernya aku sebel banget sama tokoh Dinda, bodoh sumpah. Entahlah, gak related sama kehidupanku. Lagu "Sudah" yang dinyanyikan oleh tokoh Kale cukup mencuri perhatianku. Bagus tapi tidak bisa begitu memahami isinya. Dalam pikiranku, kasihan si Kale ini, tapi bagaimanapun baiknya emang harus ikhlas. Pintar sekali aku mengomentari dan menasihati kehidupan dari tokoh-tokoh yang ada pada film tersebut saat itu. Siapa sangka, baru-baru ini aku dikenalkan Tuhan dengan berbagai bentuk ikhlas. Menurutku, akhir-akhir ini aku seperti benar-benar mencapai kata ikhlas sesungguhnya. Melepas dan membiarkan segalanya bekerja dengan cara semesta. Akhirnya aku mengerti maksud lagu yang disampaikan tokoh Kale, Sudah Lupakan semua derita Doa semesta menj...

Ilusi Nyata

Jember, 13:12 WIB. Seperti hidup dalam cerita yang kubuat. Rasa ini mengubah kenyataan menjadi sebuah skenario. Skenario yang aku buat sendiri seolah aku dan dia berada dalam sebuah kotak. Seolah setiap sudut yang ada menjebakku untuk terus bersamanya. Aku lupa bahwa sebenarnya tidak ada garis yang mendorong kami masuk dalam sebuah kotak. Dinding-dinding yang aku lihat dan rasakan hanyalah sebuah kotak kosong yang aku ciptakan sendiri. Dia mungkin tidak merasa bahwa dirinya berada dalam sebuah kotak yang sama denganku. Hanya saja, apakah aku harus berharap bahwa kotak itu benar nyata? Seperti tali yang mengikat dua manusia. Seakan sejauh apapun aku melangkah, aku tahu bahwa aku akan kembali kepadanya. Entah dia yang menarikku, aku yang menariknya, atau Tuhan yang menarik kami berdua. Tapi tali itu hanya sebuah ilusi. Tali itu sebenarnya tidak pernah ada. Hanya aku yang mungkin mengikutinya kemana pun dia pergi. Bukan aku atau dia yang menariknya. Apalagi Tuhan yang harus ikut campur ...

Tebing Tepi Laut

Semua berawal dari seorang pemuda yang menghampiri kami di saat hari sudah gelap. Dia hanya diam dan menatap lautan di depannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya, terlalu gelap. Kemudian dia membungkuk dan mengambil sesuatu di bawahnya. Dia melemparkannya pada lautan dan bersumpah serapah, "Anjing lo! Bangsat! Tai!". Lautan membalasnya dengan ombak yang berdebur. Lalu dia pergi. Keesokan harinya, seorang wanita muda datang menghampiri kami. Tak seperti pemuda kemarin, dia hanya duduk, menekuk lututnya, dan membenamkan wajahnya pada kedua lututnya itu. Sudah sekitar setengah jam wanita itu duduk dengan posisi seperti itu. Aku melihat langit mulai mendung dan air hujan menetes sedikit demi sedikit. Wanita itu mulai mendongakkan kepalanya dan menatap langit dengan mata merahnya. Dan sembab lebih tepatnya. Air hujan menetes di pipinya. Dia pun berdiri dan pergi. Keesokan harinya, di sore hari, seorang wanita yang lain datang menghampiri kami juga. Sambil membawa kendi di tangann...

Mimpi Buruk

Aku tenggelam dalam pikiranku Tubuhku melemah dihisap waktu Kepalaku membengkak dan bernanahkan pikiran gila Anganku hilang dicuri beban dan tanggung jawab ... Semoga ini hanya mimpi

Peran

Ini perihal jembatan yang dilalui banyak orang Berlalu lalang seenaknya Tanpa tahu betapa rapuhnya jembatan itu Hanya berpikir antara sukses melewati atau malah mati di tengah jalan Tanpa peduli jembatan itu runtuh karena mereka Gak masalah, bukan salah jembatan itu kok Sekalipun konstruksinya lemah Ini salah mereka yang tetap ingin melewatinya Ini perihal aku yang terlahir di dunia