Ilusi Nyata

Jember, 13:12 WIB.

Seperti hidup dalam cerita yang kubuat. Rasa ini mengubah kenyataan menjadi sebuah skenario. Skenario yang aku buat sendiri seolah aku dan dia berada dalam sebuah kotak. Seolah setiap sudut yang ada menjebakku untuk terus bersamanya. Aku lupa bahwa sebenarnya tidak ada garis yang mendorong kami masuk dalam sebuah kotak. Dinding-dinding yang aku lihat dan rasakan hanyalah sebuah kotak kosong yang aku ciptakan sendiri. Dia mungkin tidak merasa bahwa dirinya berada dalam sebuah kotak yang sama denganku. Hanya saja, apakah aku harus berharap bahwa kotak itu benar nyata?

Seperti tali yang mengikat dua manusia. Seakan sejauh apapun aku melangkah, aku tahu bahwa aku akan kembali kepadanya. Entah dia yang menarikku, aku yang menariknya, atau Tuhan yang menarik kami berdua. Tapi tali itu hanya sebuah ilusi. Tali itu sebenarnya tidak pernah ada. Hanya aku yang mungkin mengikutinya kemana pun dia pergi. Bukan aku atau dia yang menariknya. Apalagi Tuhan yang harus ikut campur urusan hidup makhluk-Nya.

Seperti sebuah takdir yang seolah membuatku akan bersamanya. Skenario dan susunan cerita Tuhan ada padaku dan dia. Berkali-kali aku menyukai orang lain, takdir akan membuatku kembali padanya. Kembali menyukainya dan tak akan pernah berhasil menyukai orang lain. Padahal, bukan itu. Aku hanya belum bisa mengikhlaskan hatiku untuk orang lain.

Ketika hati telah memilih, sesuatu yang tidak nyata akan terasa nyata. Lalu, mengapa aku masih membiarkannya?

Komentar