Postingan

Rumah Impian

Gambar
    Ada banyak cara untuk kita merasakan cara kerja semesta...     Baru beberapa hari ini aku dan temanku mengobrol mengenai rumah impian kita masing-masing. Eh, tadi ketika jalan pagi, aku melewati salah satu rumah yang selalu menarikku untuk berhenti di depannya. Di depan rumahnya terdapat gerbang batu-bata dengan pintu kayu dilapisi cat warna hijau kuning dan bunga-bunga putih bergantungan menutupi bagian atasnya, cantik sekali! Di ujung jalan (gang) ini aku selalu diam untuk sekadar memandanginya. Aku menyentuh bunga-bunga putih yang cantik itu dan sesekali memotret bagian yang tidak ingin aku lupakan. Dari balik jendela kecil pada gerbang ini, aku mengintip. Di dalam rumah itu halamannya sangat luas dan asri. Kemudian aku berjalan mengitari pagar rumahnya, ternyata halaman rumahnya memang sangatlah luas. Rumahnya bergaya joglo, sederhana dan tidak seluas rumah joglo biasanya, tapi cantik. Pepohonan di rumah itu juga tinggi, entah sudah berapa puluh tahun umurnya...

Mawar Rambat

Aku melihat Dinda di depan sana berjalan dengan tatapan kosong dan penuh luka gores di kakinya. Entah sejak kapan mawar itu durinya semakin tajam dan menusuk. Padahal setauku mawar itu sudah lama tidak berbunga. Jangankan mengharap mekar, berbunga saja tidak. Mawar itu sudah menjelma menjadi mawar rambat tanpa bunga sejak lama. Sejak saat itu rambatannya mulai mengikat kakinya.  Aku kasihan melihat Dinda yang masih saja berjalan dengan luka-luka itu. Orang lain memberi khayalan yang katanya mawar yang mekar akan membawa bahagia. Padahal bahagia tidak hanya datang dari setangkai mawar busuk itu. Aku sudah sering memberitahunya, "Tidak apa-apa, kamu lepaskan mawar yang sudah tidak berbunga itu. Hidup tanpa bunga mawar pun tidak apa-apa. Aku juga tidak meminta kamu harus menggenggam mawar." Tapi si anak bandel itu tetap saja membawanya.  ...  "Din, istirahat dulu yuk" Dia pun menangis di pelukanku. "Gakpapa nak, istirahat saja dulu." - Din (Sleman, 03/11/24....

Overthinking-in Lagu

       Sebelumnya tulisan ini mau aku gabung dengan tulisan postingan sebelumnya. Tapi karena topiknya terlalu jauh, jadi aku pisah aja.     Aku tidak tahu akan ke arah mana tulisan ini menuntunku. Seketika hatiku mengarahkan pada sebuah pertanyaan lain yang tidak nyambung dengan topik sebelumnya. Ketika mendengarkan lagu Sal Priadi dan Nadin Amizah - Amin Paling Serius, aku jadi bertanya-tanya, "Sebenarnya jika aku yang mengalami yang mereka rasakan dalam lagu tersebut, pada bagian mana aku ini?" Aku tahu, kamu lahir dari Cantik utuh cahaya rembulan Sedang aku dari badai marah riuh yang berisik Juga banyak hal-hal yang sedih Tapi menurut aku, kamu cemerlang Mampu melahirkan bintang-bintang Menurutku, ini juga kar'na hebatnya badaimu Juga kar'na lembutnya tuturmu     Pada bagian ini kah? Aku tahu, kamu tumbuh dari Keras kasar sebuah kerutan Sedang aku dari pilu, aman yang ternyata palsu Juga semua yang terlalu baik Tapi menurut aku, kamu cemerlang...

Mencari Puzzle

     Aku sudah nemikirkan ini bahkan sebelum aku benar-benar menginjakkan kakiku di sini. Apa alasan Tuhan menempatkan aku di Jogja? Aku sudah menerka-nerka berbagai macam jawaban yang memungkinkan untuk dijawab-Nya. Benarkah aku harus belajar sabar? Benarkah aku harus belajar meraih energi feminimku kembali di sini? Benarkah ini tempat yang tepat untuk aku memulai langkahku? Benarkah bahwa aku di sini karena dibutuhkan? Ataukah sebenarnya aku yang membutuhkan untuk ke sini? Benarkah aku harus menyembuhkan lukaku di sini?     Kata orang, tempat terbaik menyembuhkan luka adalah menemui si pembuat luka. Tapi aku sadar betul bahwa bukan di sini lukaku muncul. Bukankah seharusnya aku kembali ke Surabaya untuk menyembuhkan luka? Kembali menuntut pada si pembuat luka.     Kata orang, pulang dapat menyembuhkan luka. Ketika aku kembali ke kampung, aku tau betul bahwa lukaku tidak kunjung membaik. Dan lagi saat itu aku tidak pernah merasa benar-benar pulang. Ke...

Libur dengan Sederhana

Baru saja aku melihat suatu postingan di Instagram, tulisannya: "Tidur adalah cara sederhana merasakan libur". Setelah membaca posting -an itu aku jadi berpikir, "benar juga". Tidur bisa menjadi suatu hal yang bisa kita syukuri saat berlibur. Tapi setelah aku pikirkan lagi, ternyata ada banyak cara orang memaknai hari liburnya. Bisa jadi memang tidur ketika di membutuhkan istirahat fisik dan pikiran, bersenang-senang dengan teman kalau butuh wadah berkeluh kesah atau sekadar butuh menyerap energi positif, berlibur di tempat wisata dan bersenang-senang demi menghibur diri, jalan-jalan di mall membeli barang yang diidamkan, menghabiskan waktu bersama keluarga, me time, berpetualang dan melakukan hobi, atau seperti aku saat ini, berpikir dan memikirkan diri sendiri juga bisa menjadi salah satu cara untukku berlibur. Memikirkan diri sendiri bukan bermaksud untuk self reward apalagi memanjakan ego, tapi benar-benar memikirkan tentang diri sendiri, tentang hal-hal yang s...

Blog Pertama: All in One

Gambar
blog pertama, sebuah artefak internet milik Dinda Sebelum blog ini aku pernah memiliki satu blog yang sudah aku tinggalkan tapi tidak akan pernah aku hapus. Nama blognya "All in One" dengan domain "styleindoabis". Seingatku, ketika aku pertama kali membuatnya namanya bukan itu. Karena pertama kali aku membuatnya ketika aku masih sekolah dasar (sekitar akhir kelas 6). Atau mungkin blog itu bukanlah blog pertama, entahlah. Dulu seingatku postinganku pertama kali di blog itu adalah tentang kecintaanku terhadap Detektif Conan. Setelah itu jadi merambah ke bagi-bagi link download film Detektif Conan. Dan karena itu blog-ku jadi lumayan terkenal. Kemudian ketika aku sudah masuk SMP, aku mulai mencintai dunia fashion. Ada satu blog fashion yang paling aku suka, dia membahas tentang kampus negeri yang bisa menghasilkan fashion designer. Dari situ aku mulai lumayan aktif membahas tentang fashion. Makanya kemudian nama domainnya aku ubah menjadi styleindoabis. Mungkin agak le...

Berada di Tengah

    Mungkin mudah bagi orang lain untuk mendefinisikan di sebelah mana sebenarnya dia berada atau di kelompok mana di sebenarnya diterima. Tapi tidak denganku. Aku sering bingung di sebelah mana aku ini. Aku malah berpikir, kalau hanya ada surga dan neraka, pasti Tuhan bingung menempatkanku di mana, Makanya aku selalu memilih, kalau bisa ketiadaan. Menurutku satu-satunya titik tengah yang pas bagiku adalah itu.      Setiap ada orang yang bilang aku baik, aku selalu bingung, di bagian mananya aku yang baik. Tapi ketika dibilang jahat aku pun tidak terima. Aku pun sudah pernah bilang, bahwa teman-temanku juga beda-beda dan bahkan bisa jadi bertolak-belakang. Misal yang kelompok satu sangat agamis, satunya lagi malah hampir tidak beragama. Dan aku bisa berteman dengan keduanya, tapi aku bukan salah satu dari mereka.      Tidak jarang aku berada di antara kedua orang yang saling bermusuhan. Di sinilah titik tengah yang sebenarnya paling aku benci. Tem...