Postingan

Libur dengan Sederhana

Baru saja aku melihat suatu postingan di Instagram, tulisannya: "Tidur adalah cara sederhana merasakan libur". Setelah membaca posting -an itu aku jadi berpikir, "benar juga". Tidur bisa menjadi suatu hal yang bisa kita syukuri saat berlibur. Tapi setelah aku pikirkan lagi, ternyata ada banyak cara orang memaknai hari liburnya. Bisa jadi memang tidur ketika di membutuhkan istirahat fisik dan pikiran, bersenang-senang dengan teman kalau butuh wadah berkeluh kesah atau sekadar butuh menyerap energi positif, berlibur di tempat wisata dan bersenang-senang demi menghibur diri, jalan-jalan di mall membeli barang yang diidamkan, menghabiskan waktu bersama keluarga, me time, berpetualang dan melakukan hobi, atau seperti aku saat ini, berpikir dan memikirkan diri sendiri juga bisa menjadi salah satu cara untukku berlibur. Memikirkan diri sendiri bukan bermaksud untuk self reward apalagi memanjakan ego, tapi benar-benar memikirkan tentang diri sendiri, tentang hal-hal yang s...

Blog Pertama: All in One

Gambar
blog pertama, sebuah artefak internet milik Dinda Sebelum blog ini aku pernah memiliki satu blog yang sudah aku tinggalkan tapi tidak akan pernah aku hapus. Nama blognya "All in One" dengan domain "styleindoabis". Seingatku, ketika aku pertama kali membuatnya namanya bukan itu. Karena pertama kali aku membuatnya ketika aku masih sekolah dasar (sekitar akhir kelas 6). Atau mungkin blog itu bukanlah blog pertama, entahlah. Dulu seingatku postinganku pertama kali di blog itu adalah tentang kecintaanku terhadap Detektif Conan. Setelah itu jadi merambah ke bagi-bagi link download film Detektif Conan. Dan karena itu blog-ku jadi lumayan terkenal. Kemudian ketika aku sudah masuk SMP, aku mulai mencintai dunia fashion. Ada satu blog fashion yang paling aku suka, dia membahas tentang kampus negeri yang bisa menghasilkan fashion designer. Dari situ aku mulai lumayan aktif membahas tentang fashion. Makanya kemudian nama domainnya aku ubah menjadi styleindoabis. Mungkin agak le...

Berada di Tengah

    Mungkin mudah bagi orang lain untuk mendefinisikan di sebelah mana sebenarnya dia berada atau di kelompok mana di sebenarnya diterima. Tapi tidak denganku. Aku sering bingung di sebelah mana aku ini. Aku malah berpikir, kalau hanya ada surga dan neraka, pasti Tuhan bingung menempatkanku di mana, Makanya aku selalu memilih, kalau bisa ketiadaan. Menurutku satu-satunya titik tengah yang pas bagiku adalah itu.      Setiap ada orang yang bilang aku baik, aku selalu bingung, di bagian mananya aku yang baik. Tapi ketika dibilang jahat aku pun tidak terima. Aku pun sudah pernah bilang, bahwa teman-temanku juga beda-beda dan bahkan bisa jadi bertolak-belakang. Misal yang kelompok satu sangat agamis, satunya lagi malah hampir tidak beragama. Dan aku bisa berteman dengan keduanya, tapi aku bukan salah satu dari mereka.      Tidak jarang aku berada di antara kedua orang yang saling bermusuhan. Di sinilah titik tengah yang sebenarnya paling aku benci. Tem...

My POV: Sally Punker

      Di hari raya Idul Fitri kali ini, aku ingin menceritakan tentang temanku kepada kalian semua. Karena kejadiannya di bulan Ramadhan dan mumpung aku lagi di Jember juga. Ini akan menjadi POV keduaku tentang teman-temanku yang sering disalahpahami oleh orang lain.  Ini tentang dua gadis kembar, teman masa kecilku.        Mungkin aku sudah sering cerita kepada kalian bahwa aku tumbuh di kampung kota. Tempat itu sering aku sebut sebagai kampung kota karena tempatnya saling berdempetan dan warganya solid (tidak individualis). Sewaktu kecil, teman-temanku juga kebanyakan anak kampung situ, gambarannya seperti warga dalam series Get Married atau Imperfect. Waktu itu aku juga ikut mengaji (TPA) di masjid sekitar kampungku dan di sanalah pertama kalinya aku mengenal si kembar.          Si kembar yang aku ingat adalah anak-anak baik. Sejak kecil mereka tinggal bersama nenek dan budhenya. Ayahnya kerja di Kalimantan dan ibunya s...

Mendikte Tuhan

     Menurutmu, seberapa yakin kamu bahwa Tuhanmu akan mengabulkan doa-doamu? Dan sepercaya apa sih kamu pada-Nya? Sebenarnya apapun jawabanmu sih itu terserah dirimu sendiri ya. Tapi aku cuma ingin mepertanyakannya. Jujur saja, bagiku cukup mengeherankan ya ketika ada orang yang terlihat sangat religius tapi tidak percaya bahwa Tuhannya akan mengabulkan doanya. Kadang doanya terdengar seperti basa-basi belaka. Tapi yaudahlah itu urusan mereka, karena bukan itu yang mau aku bahas.      Setelah berbincang lama dengan temanku dalam telepon, ada satu pernyataan darinya yang lumayan membuatku bertanya-tanya, "Din, kamu tuh terlalu mendikte Tuhan." Kalimat itu lumayan terngiang-ngiang di kepalaku selama beberapa bulan ini. Maksudnya apa ya? Aku tau itu bukan kalimat mengejek ataupun menghina, tapi apakah itu salah ya?   "Hah? Mendikte gimana? Kan aku cuma berdoa mauku apa, toh Tuhan juga menjanjikan akan mengabulkan doa makhluk-Nya. Aku berusaha, yaudah set...

My POV: The Third Roommate

Mungkin sebelum mempublikasikan ini aku perlu izin ke temanku karena kisah ini cukup privat dan menyakitkan. Tapi aku ingin membahasnya karena mungkin ini menjadi salah satu tulisan yang pernah aku buat yang sarat akan pembelajaran hidup, tapi tentu tidak akan aku ceritakan semua. Oh iya, ini cerita murni dari sudut pandangku ya... ***      Aku ingat sekali pertama kali mengenal temanku ini ketika aku meminjam mesin Jigsaw untuk suatu tugas mata kuliah. Sebenarnya dia adalah kakak tingkatku tapi kami menempuh mata kuliah yang sama dan berangkat kuliah bersama (mungkin lebih tepatnya dia nebeng ya karena motornya rusak wkwk). Singkat cerita karena adanya kesamaan keadaan, dia butuh pindah ke kos yang lebih murah dan aku butuh teman sekamar kos akhirnya kami memutuskan untuk mencari kos bersama. Itulah alasan awalnya kenapa kami manjadi roommates padahal bukan teman seangkatan, bukan teman dekat, dan bukan teman dari daerah yang sama. Mungkin ini juga bisa menjadi jawaban ...

Pulang

Gambar
     Ada satu lagi yang selalu menjadi pertanyaanku selama ini. Jadi, apa definisi pulang? Ketika aku berada di perantauan untuk pertama kalinya, aku selalu berpikir bahwa aku ingin pulang. Jadi, saat itu aku mulai berpikir bahwa pulang adalah ketika aku berada di kampung halamanku. Tapi, setiap aku melakukan perjalanan itu, aku selalu ingin semuanya berjalan lambat. Kalau biasanya berangkat aku menggunakan kereta api, pulangnya aku lebih suka naik bus. Di situ aku juga berpikir, "perasaan seperti inilah yang aku rindukan". Justru di perjalanan pulang itu aku bisa tidur dengan nyaman, sekalipun menurut orang-orang naik bus justru lebih berbahaya daripada kereta api.     Aku rasa, perasaan pulang itu ada hanya ketika aku merantau. Tapi ketika aku memutuskan untuk tinggal di kampung halamanku, justru aku tidak pernah merasa pulang. Dan justru aku hilang arah, "kemana aku harus pulang?" Kata orang, kita tidak boleh mencari kemana kita harus pulang karena sebenarnya...