Postingan

Fatamorgana

Gambar
Wedi Ireng Jember, 20:51 WIB 14/08/17 Fatamorgana: Kisah Singkat Gelap kembali datang. Tapi, kali ini bintang menemaniku. Tempat ini menjadi jauh lebih indah. Aku tidak lagi peduli walau dia tidak bersamaku. Tapi aku tetap tidak ingin berada disini. Aku ingin berjalan menuju arah cahaya dan angin. Timur. Tempat mentari memulai harinya. Awal mula angin dihembuskan. Dia hanya mengikuti kemana angin pergi. Ikut berhembus meninggalkan timur. Dan, kubiarkannya pergi. Hari demi hari. Tempat ini ternyata tidak seindah imajinasiku. Aku mulai sadar. Bahwa dialah yang membuat tempat ini menjadi indah. Bukan bintang, bukan sinar mentari, dan bukan angin. Aku harap dia disini. Sosok siluet datang dari arah timur. Dia tinggi. Rambut bergaya. Saat itu, aku pun menyimpulkan bahwa itu sosoknya. Tidak kusadari otot-otot pipiku menarik mulutku, aku tersenyum. Sebagai ucapan selamat datangnya, sebagai bahasa rinduku kepadanya. Dia. Orang yang pernah mengenalkanku pada semuanya. Semua yang dia keta...

Ujian Menjadi Manusia

Gambar
DP22 Surabaya, 10:53 WIB 11/08/17 Ujian menjadi Manusia Saat ini aku berpikir. Beberapa kejadian mengharuskanku memikirkan ini lebih dalam, lebih tepatnya membuatku ingin menuliskannya disini. Dunia adalah sebuah tempat indah yang diciptakan Tuhan. Di tempat ini kita dituntut untuk berpikir, belajar menjadi manusia yang lebih sempurna daripada ciptaan-Nya yang lain. Belajar untuk hidup. Memahami tujuan hidup. Mencari solusi dari hal yang kita sebut sebagai masalah. Bukan masalah yang sedang kita hadapi sebenarnya. Lebih tepatnya ujian. Dunia ini dirangkai Tuhan untuk kita para manusia melewati ujian yang Tuhan berikan kepada kita. Sekali lagi, bukan masalah. Ujian tahap pertama dilakukan di kandungan, tahap kedua di dunia, tahap ketiga di alam kubur, tahap keempat di Padang Masyar, tahap kelima di akhirat, tahap keenam entah dimana, dan selanjutnya hanya Tuhan yang tahu. Ujian di dunia. Setelah kita lahir di dunia, kita belum memahami apa yang kita lakukan, kita perbuat, kita r...

8797

Gambar
Bangsring 22:47 WIB Aku disini. Mengapung di lautan lepas. Melayang di atas terumbu karang. Aku terbang di antara ikan-ikan. Terombang-ambing oleh sang ombak. Aku terseret bak pasir pantai untuk dibawa ke tengah lautan. Deru angin, berhembus kesana kemari. Desiran ombak. Jeritan manusia. Gesekan pasir terdengar jelas di antara suara air yang mendominasi. Lagu terindah yang pernah kudengar. Aku disini. Mendengar suara merdu musik alam. Seperti karung tanpa beban. Berenang tanpa memikirkan hal lain. Membuat diriku seolah menyatu dengan apa yang selama ini kuimpikan. Hanya Dia, aku, dan musik favoritku. -8797

Teman

Gambar
Anonymous Jember, 19:57 WIB. TEMAN Teman= keluarga terdekat yang tidak sedarah. Bagiku, teman bukan sekedar orang yang mengerti baik dan burukku. Teman bukan hanya tong sampah yang memuat semua curahan hatiku. Aku tidak memintanya untuk selalu bersamaku. Aku tahu, dia juga punya teman yang lain. Tapi dia selalu ada untukku, begitu juga aku. Teman adalah saudara yang tidak selalu tahu masa kecilku, tapi dia tahu aku, aku bagaimana. Itu yang dikatakan oleh orang yang baru saja putus dengan pacarnya atau si jomblo. Coba ubah cara pandang. Teman= orang yang selalu ada saat ada masalah (teman= tempat sampah bagi orang yang sudah putus atau jomblo). Dia teman. Selalu ada ketika aku ada masalah dengan pacarku. Dia selalu menerima sampah yang selalu kulontarkan ketika aku sedih atau tak lagi bersama pacarku. Aku tahu dia orang yang paling bahagia ketika aku bahagia bersama pacarku. Dia juga menjadi orang yang paling jahat ketika pacarku menyakitiku. Dia akan menjadi orang te...

Orang Biasa Saja

Gambar
gambar dari google Orang Biasa Saja (Oleh Dinda Ayu Salsabila) Aku bertanya kepada Tuhan Mengapa Dia ciptakan aku biasa saja? Aku manusia biasa saja Bukan manusia penuh kelebihan Juga bukan manusia penuh kekurangan Aku tidak pintar Aku juga tidak bodoh Aku biasa saja Kau akan sulit menyebutku miskin Tapi aku tidak kaya Lalu apa? Biasa saja Hari itu hujan deras tak henti Kuterjang dengan rasa bangga Karena penguasa telah mengundangku Tapi petir menyambar Dia tuduh diriku mencuri Padahal saat itu aku meminta Dia obrak-abrik semua yang ku punya Tapi aku tak bersalah Dan dia tidak minta maaf Itu pasti karena aku biasa saja Tuhan mencintai orang miskin Penguasa menyayangi orang miskin Tak ada dalil untuk mencintai orang biasa saja Tak ada hukum untuk menyayangi orang biasa saja Aku orang biasa saja Terbatasi oleh dalil dan hukum Terbungkam, tak bergerak, tanpa penghargaan Apalagi cinta dan kasih sayang Pasti karena aku biasa saja

Surabaya

Gambar
2016 19:53 WIB SURABAYA Surabaya memiliki langit yang berbeda dari kampungku, Jember. Merah. Seperti selalu merasa hari masih sore. Bahkan ketika malam tiba. Bintang-bintang juga sangat jarang terlihat di sini. Kadang, bulan datang dengan sedikit menghiasinya. Tapi, yang sangat terlihat adalah gemerlap-gemerlap gedung pencakar langitnya. Terlihat tak seburuk itu, tapi kadang juga terlihat sangat menakutkan ketika langit merah itu mendominasi. Cuaca di Surabaya juga tidak menentu. Kadang tiga hari panas terik, eh besoknya hujan deras. Atau hampir setiap hari hujan melanda kota ini. Hawa sumuk di sini juga sudah menjadi ciri khas. Haha, jangan salah, setiap aku pulang kampung, aku selalu membawa oleh-oleh kulit gosong ke Jember. Suasana di Surabaya memang tak sedamai kampungku atau tak seramah kota tercintaku yaitu Jogja. Tapi Surabaya memiliki suasana tersendiri. Ramai dan sibuk sebagai kota metropolitan. Memiliki semangat juang sebagai kota pahlawan. Kadang, keinginan he...

Tahi!

Surabaya, 25 April 2017. 21:50 WIB. TAHI! Seperti melihat hal paling menjijikkan. Begitulah caranya menatapku. Mungkin jauh lebih menjijikkan dari setumpuk tahi di depan mata. Kalau aku jadi dia, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Melirik. Membuang pandang. Mau muntah. Menjauh. Ya, ketika ada hal yang paling menjijkkan dari tahi, tentunya akan ku buang jauh-jauh dari pandanganku dan kubersihkan dengan sabun paling wangi agar bau itu tak lagi mengikutiku. Saat ada tahi itu lagi di depan mataku. Berkali-kali. Mungkin aku hanya akan mengabaikannya dan menjauhinya. Karena hal menjijikkan tetaplah menjijikkan meskipun aku sudah terbiasa melihatnya. Seperti tahi.