Postingan

8797

Gambar
Bangsring 22:47 WIB Aku disini. Mengapung di lautan lepas. Melayang di atas terumbu karang. Aku terbang di antara ikan-ikan. Terombang-ambing oleh sang ombak. Aku terseret bak pasir pantai untuk dibawa ke tengah lautan. Deru angin, berhembus kesana kemari. Desiran ombak. Jeritan manusia. Gesekan pasir terdengar jelas di antara suara air yang mendominasi. Lagu terindah yang pernah kudengar. Aku disini. Mendengar suara merdu musik alam. Seperti karung tanpa beban. Berenang tanpa memikirkan hal lain. Membuat diriku seolah menyatu dengan apa yang selama ini kuimpikan. Hanya Dia, aku, dan musik favoritku. -8797

Teman

Gambar
Anonymous Jember, 19:57 WIB. TEMAN Teman= keluarga terdekat yang tidak sedarah. Bagiku, teman bukan sekedar orang yang mengerti baik dan burukku. Teman bukan hanya tong sampah yang memuat semua curahan hatiku. Aku tidak memintanya untuk selalu bersamaku. Aku tahu, dia juga punya teman yang lain. Tapi dia selalu ada untukku, begitu juga aku. Teman adalah saudara yang tidak selalu tahu masa kecilku, tapi dia tahu aku, aku bagaimana. Itu yang dikatakan oleh orang yang baru saja putus dengan pacarnya atau si jomblo. Coba ubah cara pandang. Teman= orang yang selalu ada saat ada masalah (teman= tempat sampah bagi orang yang sudah putus atau jomblo). Dia teman. Selalu ada ketika aku ada masalah dengan pacarku. Dia selalu menerima sampah yang selalu kulontarkan ketika aku sedih atau tak lagi bersama pacarku. Aku tahu dia orang yang paling bahagia ketika aku bahagia bersama pacarku. Dia juga menjadi orang yang paling jahat ketika pacarku menyakitiku. Dia akan menjadi orang te...

Orang Biasa Saja

Gambar
gambar dari google Orang Biasa Saja (Oleh Dinda Ayu Salsabila) Aku bertanya kepada Tuhan Mengapa Dia ciptakan aku biasa saja? Aku manusia biasa saja Bukan manusia penuh kelebihan Juga bukan manusia penuh kekurangan Aku tidak pintar Aku juga tidak bodoh Aku biasa saja Kau akan sulit menyebutku miskin Tapi aku tidak kaya Lalu apa? Biasa saja Hari itu hujan deras tak henti Kuterjang dengan rasa bangga Karena penguasa telah mengundangku Tapi petir menyambar Dia tuduh diriku mencuri Padahal saat itu aku meminta Dia obrak-abrik semua yang ku punya Tapi aku tak bersalah Dan dia tidak minta maaf Itu pasti karena aku biasa saja Tuhan mencintai orang miskin Penguasa menyayangi orang miskin Tak ada dalil untuk mencintai orang biasa saja Tak ada hukum untuk menyayangi orang biasa saja Aku orang biasa saja Terbatasi oleh dalil dan hukum Terbungkam, tak bergerak, tanpa penghargaan Apalagi cinta dan kasih sayang Pasti karena aku biasa saja

Surabaya

Gambar
2016 19:53 WIB SURABAYA Surabaya memiliki langit yang berbeda dari kampungku, Jember. Merah. Seperti selalu merasa hari masih sore. Bahkan ketika malam tiba. Bintang-bintang juga sangat jarang terlihat di sini. Kadang, bulan datang dengan sedikit menghiasinya. Tapi, yang sangat terlihat adalah gemerlap-gemerlap gedung pencakar langitnya. Terlihat tak seburuk itu, tapi kadang juga terlihat sangat menakutkan ketika langit merah itu mendominasi. Cuaca di Surabaya juga tidak menentu. Kadang tiga hari panas terik, eh besoknya hujan deras. Atau hampir setiap hari hujan melanda kota ini. Hawa sumuk di sini juga sudah menjadi ciri khas. Haha, jangan salah, setiap aku pulang kampung, aku selalu membawa oleh-oleh kulit gosong ke Jember. Suasana di Surabaya memang tak sedamai kampungku atau tak seramah kota tercintaku yaitu Jogja. Tapi Surabaya memiliki suasana tersendiri. Ramai dan sibuk sebagai kota metropolitan. Memiliki semangat juang sebagai kota pahlawan. Kadang, keinginan he...

Tahi!

Surabaya, 25 April 2017. 21:50 WIB. TAHI! Seperti melihat hal paling menjijikkan. Begitulah caranya menatapku. Mungkin jauh lebih menjijikkan dari setumpuk tahi di depan mata. Kalau aku jadi dia, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Melirik. Membuang pandang. Mau muntah. Menjauh. Ya, ketika ada hal yang paling menjijkkan dari tahi, tentunya akan ku buang jauh-jauh dari pandanganku dan kubersihkan dengan sabun paling wangi agar bau itu tak lagi mengikutiku. Saat ada tahi itu lagi di depan mataku. Berkali-kali. Mungkin aku hanya akan mengabaikannya dan menjauhinya. Karena hal menjijikkan tetaplah menjijikkan meskipun aku sudah terbiasa melihatnya. Seperti tahi.

Waktu.

Surabaya, 20 April 2017. 22:01 WIB Waktu. Waktu selalu berlalu lalang di depanku. Seakan dia sibuk akan tugasnya yang teramat berat itu. Dia harus membimbing semua manusia untuk tetap berjalan pada waktunya. Dia tak pernah membiarkan manusia untuk kembali di waktu sebelumnya. Tak sedetikpun. Dia juga tak akan mengijinkan siapapun mengintip masa depannya. Karena manusia harus pada waktunya. Sebagai manusia, aku sendiri pernah berpikir untuk kembali di waktu yang membuatku bahagia. Atau aku ingin kembali untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanku. Tapi, waktu tak mengijinkannya. Katanya, “Kau hanya lelah terhadap hal yang aku lakukan sekarang. Istirahatlah. Setelah itu, jalani saja pada waktumu.” Berkali-kali aku juga berpikir, apa aku bisa mengintip secercah waktu selanjutnya? Aku ingin tau. Kadang aku juga lelah dibuat penasaran oleh sang waktu. Aku juga sering meraba-raba dan membayangkan diriku di masa depan. Tapi, kata waktu, “Bersabarlah. Pasti ada saatnya waktumu tiba.”

Wahai Hati

Surabaya, 13 April 2017. 21:01 WIB Wahai hati, aku tau kau di sini. Di dalam diriku. Aku tau kita satu. Aku tau kau yang mengendalikanku. Wahai hati, perasaan ini tak akan pernah nyata. Aku tau "rasa" itu tidak nyata. Tapi ada. Wahai hati, yang selalu menciptakan bayang semu. Bahagia muncul setiap aku memikirkan rasa. Wahai hati, apa kau tau ini apa? Aneh. Geli saat bahagia datang, remuk saat sedih menghampiri. .......... Aku tidak yakin, tapi ini yang kurasakan ketika tiba-tiba dia ada, Wahai Hati.