Postingan

Orang Biasa Saja

Gambar
gambar dari google Orang Biasa Saja (Oleh Dinda Ayu Salsabila) Aku bertanya kepada Tuhan Mengapa Dia ciptakan aku biasa saja? Aku manusia biasa saja Bukan manusia penuh kelebihan Juga bukan manusia penuh kekurangan Aku tidak pintar Aku juga tidak bodoh Aku biasa saja Kau akan sulit menyebutku miskin Tapi aku tidak kaya Lalu apa? Biasa saja Hari itu hujan deras tak henti Kuterjang dengan rasa bangga Karena penguasa telah mengundangku Tapi petir menyambar Dia tuduh diriku mencuri Padahal saat itu aku meminta Dia obrak-abrik semua yang ku punya Tapi aku tak bersalah Dan dia tidak minta maaf Itu pasti karena aku biasa saja Tuhan mencintai orang miskin Penguasa menyayangi orang miskin Tak ada dalil untuk mencintai orang biasa saja Tak ada hukum untuk menyayangi orang biasa saja Aku orang biasa saja Terbatasi oleh dalil dan hukum Terbungkam, tak bergerak, tanpa penghargaan Apalagi cinta dan kasih sayang Pasti karena aku biasa saja

Surabaya

Gambar
2016 19:53 WIB SURABAYA Surabaya memiliki langit yang berbeda dari kampungku, Jember. Merah. Seperti selalu merasa hari masih sore. Bahkan ketika malam tiba. Bintang-bintang juga sangat jarang terlihat di sini. Kadang, bulan datang dengan sedikit menghiasinya. Tapi, yang sangat terlihat adalah gemerlap-gemerlap gedung pencakar langitnya. Terlihat tak seburuk itu, tapi kadang juga terlihat sangat menakutkan ketika langit merah itu mendominasi. Cuaca di Surabaya juga tidak menentu. Kadang tiga hari panas terik, eh besoknya hujan deras. Atau hampir setiap hari hujan melanda kota ini. Hawa sumuk di sini juga sudah menjadi ciri khas. Haha, jangan salah, setiap aku pulang kampung, aku selalu membawa oleh-oleh kulit gosong ke Jember. Suasana di Surabaya memang tak sedamai kampungku atau tak seramah kota tercintaku yaitu Jogja. Tapi Surabaya memiliki suasana tersendiri. Ramai dan sibuk sebagai kota metropolitan. Memiliki semangat juang sebagai kota pahlawan. Kadang, keinginan he...

Tahi!

Surabaya, 25 April 2017. 21:50 WIB. TAHI! Seperti melihat hal paling menjijikkan. Begitulah caranya menatapku. Mungkin jauh lebih menjijikkan dari setumpuk tahi di depan mata. Kalau aku jadi dia, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Melirik. Membuang pandang. Mau muntah. Menjauh. Ya, ketika ada hal yang paling menjijkkan dari tahi, tentunya akan ku buang jauh-jauh dari pandanganku dan kubersihkan dengan sabun paling wangi agar bau itu tak lagi mengikutiku. Saat ada tahi itu lagi di depan mataku. Berkali-kali. Mungkin aku hanya akan mengabaikannya dan menjauhinya. Karena hal menjijikkan tetaplah menjijikkan meskipun aku sudah terbiasa melihatnya. Seperti tahi.

Waktu.

Surabaya, 20 April 2017. 22:01 WIB Waktu. Waktu selalu berlalu lalang di depanku. Seakan dia sibuk akan tugasnya yang teramat berat itu. Dia harus membimbing semua manusia untuk tetap berjalan pada waktunya. Dia tak pernah membiarkan manusia untuk kembali di waktu sebelumnya. Tak sedetikpun. Dia juga tak akan mengijinkan siapapun mengintip masa depannya. Karena manusia harus pada waktunya. Sebagai manusia, aku sendiri pernah berpikir untuk kembali di waktu yang membuatku bahagia. Atau aku ingin kembali untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanku. Tapi, waktu tak mengijinkannya. Katanya, “Kau hanya lelah terhadap hal yang aku lakukan sekarang. Istirahatlah. Setelah itu, jalani saja pada waktumu.” Berkali-kali aku juga berpikir, apa aku bisa mengintip secercah waktu selanjutnya? Aku ingin tau. Kadang aku juga lelah dibuat penasaran oleh sang waktu. Aku juga sering meraba-raba dan membayangkan diriku di masa depan. Tapi, kata waktu, “Bersabarlah. Pasti ada saatnya waktumu tiba.”

Wahai Hati

Surabaya, 13 April 2017. 21:01 WIB Wahai hati, aku tau kau di sini. Di dalam diriku. Aku tau kita satu. Aku tau kau yang mengendalikanku. Wahai hati, perasaan ini tak akan pernah nyata. Aku tau "rasa" itu tidak nyata. Tapi ada. Wahai hati, yang selalu menciptakan bayang semu. Bahagia muncul setiap aku memikirkan rasa. Wahai hati, apa kau tau ini apa? Aneh. Geli saat bahagia datang, remuk saat sedih menghampiri. .......... Aku tidak yakin, tapi ini yang kurasakan ketika tiba-tiba dia ada, Wahai Hati.

Teruntuk Kau

Gambar
gambar dari google Teruntuk Kau (Oleh: Dinda Ayu Salsabila) Teruntuk sahabatku yang menghilang begitu saja, Aku menulis surat ini untukmu. Meski aku tau surat ini tidak akan sampai di tanganmu. Awalnya aku ragu untuk menulisnya. Tapi aku tahu, ini dibutuhkan. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau sangat baik di kampung. Lama sudah kita tidak bertemu. Jangankan menyapa secara langsung, menyapa lewat berbagai sosial media pun kita sudah sangat jarang. Bahkan mungkin tidak pernah. Kalau kamu bertanya mengapa aku menuliskan surat ini untukmu, padahal teknologi sudah sangat canggih. Aku akan menjawabnya untukmu nanti, saat kita bertemu. Teman, sudah berapa lamakah kita tidak bertemu? Sudah seberapa jauhkah jarak antara kita? Masihkan kau mengingat diriku? Masihkan kau ingat momen masa SMA kita? Kalau diingat-ingat, masa SMA kita mungkin tidak seindah masa SMA orang lain. Tapi bagiku itu sangat berarti. Masa-masa itu memberiku pelajaran yang sangat berharga tentang segalanya, dan ...

Karpet Kaki Lima

Gambar
gambar dari google Karpet Kaki Lima (Oleh Dinda Ayu Salsabila) Aku tak lagi bisa memijak Bukannya aku tak punya kaki Tak ada lagi pijakan yang dapat ku pijak Langkah ini seakan tak mampu mengikutiku Aku berjalan menuju setitik sinar Tapi aku sudah tak punya jalan lagi Jalan yang seharusnya menuntunku Karpet merah yang seharusnya aku banggakan Kini t’lah menjadi lapak kaki lima Mereka meronta, menjerit, memelas Saat aku menuntut hakku Mereka menyalahkan diri lain Membenarkan diri mereka Lalu aku? Apa nyawaku tidak lebih berharga? Emas yang mereka dapatkan Manis yang mereka rasakan Apa mereka tidak bisa mengorbankannya? Untukku Untuk hak yang seharusnya aku dapatkan