Teruntuk Kau

gambar dari google


Teruntuk Kau
(Oleh: Dinda Ayu Salsabila)


Teruntuk sahabatku yang menghilang begitu saja,

Aku menulis surat ini untukmu. Meski aku tau surat ini tidak akan sampai di tanganmu. Awalnya aku ragu untuk menulisnya. Tapi aku tahu, ini dibutuhkan.

Bagaimana kabarmu? Aku harap kau sangat baik di kampung. Lama sudah kita tidak bertemu. Jangankan menyapa secara langsung, menyapa lewat berbagai sosial media pun kita sudah sangat jarang. Bahkan mungkin tidak pernah. Kalau kamu bertanya mengapa aku menuliskan surat ini untukmu, padahal teknologi sudah sangat canggih. Aku akan menjawabnya untukmu nanti, saat kita bertemu.

Teman, sudah berapa lamakah kita tidak bertemu? Sudah seberapa jauhkah jarak antara kita? Masihkan kau mengingat diriku? Masihkan kau ingat momen masa SMA kita? Kalau diingat-ingat, masa SMA kita mungkin tidak seindah masa SMA orang lain. Tapi bagiku itu sangat berarti. Masa-masa itu memberiku pelajaran yang sangat berharga tentang segalanya, dan mungkin kau juga merasa seperti itu. Masihkan kau ingat ketika kita terkucilkan dalam suatu lingkup yang dinamakan “kelas” itu? Saat kita merasa asing di antara sekumpulan orang. Saat diri kita merasa berbeda dengan mereka. Ingatkah kau sudah berapa banyak masalah yang kita timbulkan dan kita lewati dengan penuh perjuangan? Ku harap momen itu masih tersimpan dengan baik dalam loker ingatanmu.

Aku menyimpan dengan sangat baik ingatan tentang kelucuan yang pernah kita buat. Membolos saat pelajaran berlangsung, dimarahi guru, tidur di kelas, menyanyikan lagu kesukaan kita, dan lain sebagainya. Aku ingat, saat kau bercerita padaku tentang orang yang kau sukai. Awalnya kau tak ingin menceritakannya padaku. Tapi akhirnya, kau memberi kepercayaanmu padaku. Kau pun menceritakannya. Ini tentang dia. Tentang orang yang kau anggap tidak ganteng dan pendek. Tapi dia selalu menjadi topik utama di pikiranmu. Dia orang yang selalu menjadi alasan mengapa kau sering menyanyikan lagu Sheila on 7-Hari Bersamanya. Kau dan dia pun akhirnya jadian. Sebagai temanmu, aku sangat senang ketika kau bilang kau sudah menjadi kekasihnya. Hari-hari itu menjadi lebih istimewah karena kau dan dia yang sudah menjadi sepasang kekasih. Dan saat itu, aku sedang menyukai seseorang yang sudah kukenal lama. Waktu itu kau tidak mengetahuinya. Kusembunyikan perasaan itu darimu. Karena aku malu.

Hingga hari itu datang. Dan aku tidak menyangka hal itu akan terjadi. Kau dan dia mulai temukan dunia kalian sendiri. Kalian tak pernah memperbolehkan orang lain masuk ke dunia kalian, kecuali aku. Tentu aku sangat kaget. Dulu kalian selalu humble pada semua orang meski orang-orang itu tak pernah begitu peduli pada kalian. Maka dari itu dulu aku selalu kagum pada kalian. Tapi saat itu. Seratus delapan puluh derajat. Kalian benar-benar berubah. Waktu itu kamu tidak ingin ada wanita lain yang ngobrol dengan kekasihmu itu dan begitu juga dia. Tapi kalian selalu memperbolehkanku masuk ke dalam dunia yang kalian buat sendiri itu. Bahkan, kalianlah yang selalu mengundangku untuk ikut campur. Bukan karena aku mau, tapi bukankah itu yang seharusnya aku lakukan sebagai sahabatmu?

Hampir setahun kalian menjalani kehidupan SMA berdua ditambah denganku. Hampir setiap saat aku selalu mendesakmu untuk kembali seperti dulu. Saat kau selalu terbuka untuk orang lain. Aku tidak ingin lelaki itu mengubahmu seperti itu. Walaupun memang banyak hal positif yang dia tularkan padamu. Kau menjadi rajin belajar, beribadah, dan bahkan kulihat kau mulai berhijab. Bahkan caramu beragama jauh lebih baik dariku yang sudah terlebih dahulu mengenakan hijab. Ketika kalian sedang diambang “putus”, aku selalu menjadi penengah yang mencoba membuat kalian berbaikan lagi. Aku berusaha memahami hubungan kalian walaupun aku tidak pernah sekalipun memiliki kekasih. Tapi aku selalu berusaha yang terbaik ketika kau meminta bantuanku. Dan aku juga berusaha menjadi orang yang tidak akan pernah bosan mendengar cerita-cerita tentangnya.

Tapi, itu hanya setahun. Saat kelulusan, kau dan dia sudah tidak bersama lagi. Kisah itu berakhir begitu saja dan kau mulai berubah seperti dulu lagi. Awalnya aku benar-benar senang kau bisa kembali dan selalu menunjukkan sisi ceriamu pada semua orang. Iya, awalnya. Hingga suatu malam dia memintaku mendengar ceritanya. Cerita itu udah kuceritakan semuanya padamu. Kau ingat kan? Ketika itu kau tidak menginginkanku untuk bercerita tentangnya lagi. Tapi aku memaksamu untuk mendengarkannya. Karena aku benar-benar ingin kalian tetap berhubungan baik walau itu tidak dalam konteks “pacaran”. Tapi aku tidak menyangka karena kejadian itulah kau menjauhiku.

Pernah suatu hari aku bercerita padamu bahwa aku menyukainya. Sebelum kau dan dia berpacaran. Tapi kini aku sudah menyukai orang lain. Mungkin berdasar pada hal yang pernah kuakui itulah kau mulai menjauhiku. Ditambah kejadian itu, kau mengira aku masih menyukainya. Tapi percayalah, aku sudah tidak menyukainya. ...

Aku memang sedang memikirkan seseorang, tapi bukan dia. Percayalah.

Tertanda,


Aku

Komentar