Era Impulsif dan Instan

   Aku tuh agak bingung melihat era ini. Menurutku aneh. Percepatan dan perkembangan teknologi sudah menjadi tidak terkendali. Dan akan semakin tidak terkendali. Ya, benar kalau mungkin negara ini memang selalu “kaget” dengan segala sesuatu yang baru. Belum sempat ahli di satu teknologi, eh sudah muncul teknologi baru lagi. Begitu pula soal regulasi atau aturan untuk membatasi itu.

   Apalagi soal pendidikan. Gak usah terlalu berharap, masih sangat jauh. Oh iya, ini bukan soal pendidikan yang harus “ikut-ikut” perkembangan zaman, tapi tentang kebijaksanaan dalam menyikapi percepatan dan perkembangan itu sendiri.

   Misal, yang lagi ramai sekarang: kalau ada AI, apakah pendidikan kita harus langsung “ikut-ikut” belajar tentang AI? Kalau menurutku, semua harus ada tingkatannya dan tahapannya. Semuanya berproses. Bukannya gak boleh anak-anak SD belajar AI, tapi… apakah perlu? Ini masih tingkat dasar, loh. Banyak hal yang lebih penting yang harus mereka pelajari dulu. Kalau semua-semua dimasukkan di tingkat dasar, apa sanggup otak mereka? Yang ada malah jenuh dan burnout.

   Sudah sekitar sepuluh tahun lebih media sosial banyak dipakai kalangan muda. Dari yang awalnya memudahkan komunikasi dan menjalin pertemanan lintas dunia, sekarang malah jadi dunia kedua. Aku ingat ketika menonton film "Budi Pekerti", bagaimana seorang manusia bisa kehilangan dua dunia sekaligus hanya karena satu kesalahan di dunia maya. Namanya aja maya, tapi dampaknya nyata. Naasnya, kesalahan itu sebenarnya hanyalah kesalahpahaman. Tapi dunianya sudah terlanjur hancur. Semudah itu ya, orang menghancurkan kehidupan orang lain…

   Semenjak kemunculan media sosial, tentu banyak sisi positif yang bisa kita ambil: kemudahan mencari informasi, belajar, menambah pengetahuan. Tapi sayangnya, kelebihan informasi sering kali memuakkan. Apalagi banyak sekali informasi yang ternyata tidak benar alias hoaks. Kemajuan teknologi malah ikut andil dalam menyusahkan manusia memilah informasi. Dulu clickbait saja sudah bikin orang naik pitam, sekarang sudah ada AI. Di mana-mana konten AI.
(Sejujurnya, karena suatu hal aku jadi mudah membedakan gambar atau video hasil AI atau bukan. Aku selalu merasa mual melihat gambar AI. Gambar tanpa nyawa terasa disturbing bagiku.) 

   Dengan adanya media sosial, muncullah influencer —orang-orang yang aktif di dunia maya dan ramai menyuarakan sesuatu. Ada yang soal kecantikan, edukasi, politik, tanaman, makanan, medis, bahkan pamer harta. Walaupun gak sedikit juga yang kontennya hanyalah sekadar pekerjaan untuk mendapatkan uang, seperti endorse atau buzzer misalnya. Atau kadang, orang yang cuma ngaku-ngaku kredibel di bidang itu.

   Satu per satu, orang mulai membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Kadang ketika aku buka sosmed yang isinya pamer kekayaan, memang muncul rasa iri, minder, bahkan insecure. Tapi ketika logika berpikirku mulai jalan, aku sadar ada banyak faktor di balik “pamer harta” itu. Bisa saja memang kaya sejak lahir, bisa karena kerja keras, bisa juga karena korupsi, pencucian uang, atau hal lain. Banyak kemungkinannya.

   Soal kesehatan mental juga begitu. Bagus memang, di era ini kita lebih sadar bahwa menjaga kesehatan mental itu penting. Tapi lama-kelamaan, kesadaran itu jadi seperti ajang haus validasi. Padahal, memahami gangguan atau masalah dalam diri sendiri itu tujuannya agar kita bisa keluar dari masalah itu. Jadi bukan sekadar minta dimaklumi tanpa usaha memperbaiki diri.

   Dari semua itu aku sadar, ternyata era ini penuh dengan hal-hal yang impulsif (gegabah) dan instan. Maunya cepat sampai ke Z, tapi lupa bahwa kita harus berproses dari A, B, C, D… baru sampai ke Z. Aku gak tahu, mungkin pemikiranku ini bisa dibilang kolot. Tapi bukankah seharusnya bijak dalam menyikapi era ini seperti itu?

   Ya, kelambatan dalam berproses memang bisa membuat kita melewatkan banyak kesempatan, tapi setidaknya tidak menyesatkan. Dan aku punya satu keyakinan: yang datang terlalu cepat biasanya juga akan cepat pergi.




-din (Sleman, 09/11/2035. 22:59 WIB) 

Komentar