Tersesat di Jalan yang Lurus
Akhir-akhir ini aku merasa terobsesi dengan kesederhanaan. Perasaan ini datang pelan, bertahap. Puncaknya waktu aku membaca buku Quraish Shihab, Pengantin Al-Qur’an. Jujur, ini mungkin terdengar aneh. Tapi dibanding buku-buku seperti Dunia Sophie, Dunia Anna, Sapiens, Homo Deus, dan The God Delusion, justru buku ini terasa jauh lebih berat dicerna. Kesederhanaannya seperti menamparku. Aku sadar, ternyata aku tidak tahu apa-apa tentang hal-hal sederhana; terutama soal agama, rasa, dan menjadi manusia.
Padahal agama yang aku anut adalah agama warisan. Sejak lahir aku sudah diberi label Islam. Secara teknis, aku sudah “belajar” Islam sejak lama. Tapi semakin ke sini, setelah membaca dan mempelajari banyak hal, aku justru memilih beragama berdasarkan apa yang aku yakini sendiri. Terdengar seenaknya, mungkin. Tapi aku yakin aku bukan satu-satunya yang seperti itu.
Entah sejak kapan pikiranku jadi seperti benang kusut. Semakin banyak informasi masuk dari podcast YouTube, audiobook, sampai buku, rasanya bukan makin terang, tapi makin berisik. Dan titik paling sunyi justru datang dari Pengantin Al-Qur’an. Di sana aku tersentak pada satu hal sederhana: mungkin aku terlalu jauh mencari sesuatu yang sebenarnya dekat.
Aku baru tahu bahwa menikah itu fitrah manusia, bukan soal kewajiban atau sunnah seperti yang sering aku dengar. Aku tidak sedang mencari jawaban yang paling benar. Tapi gagasan bahwa ia adalah fitrah terasa lebih masuk akal, lebih manusiawi, dibanding semua label hukum yang selama ini aku tempelkan. Seperti sesuatu yang tidak perlu dijelaskan terlalu jauh, karena memang sudah “begitu adanya”.
Ini membuatku bergeser ke satu pertanyaan yang lebih besar: tentang menjadi manusia. Dan anehnya, semakin aku mencoba memahaminya, semakin aku merasa mungkin jawabannya tidak serumit itu. Dalam Islam, aku melihatnya pada sosok Muhammad. Dari yang aku pelajari, beliau bukan sekadar figur sejarah, tapi gambaran manusia yang utuh: yang hidup, yang berinteraksi, yang menempatkan adab di atas banyak hal lain.
Mungkin memang begitu; manusia tidak hidup terfokus untuk mengurai semuanya sampai tuntas, tapi untuk belajar bersikap. Untuk hadir di antara manusia lain dengan cara yang tidak merusak. Selebihnya, tidak selalu harus dijelaskan sampai habis.
Dan di titik itu aku sadar, mungkin bukan Islam maupun kehidupan yang rumit. Tapi cara pikirku yang terlalu lama hidup di dalam kerumitan.
Aku jadi ingat waktu kelas satu SMA. Aku punya guru yang suka memberi soal matematika yang rumit. Awalnya aku kewalahan, tapi lama-lama aku terbiasa, bahkan merasa itu wajar. Namun ketika naik kelas dua, justru soal-soal sederhana terasa membingungkan.
Mungkin hidup juga seperti itu. Tidak semua jawaban bertambah rumit seiring waktu. Kadang, justru kita yang kehilangan cara untuk melihat yang sederhana.
Dan mungkin, di situlah hal paling aneh dari hidup ini: yang paling dekat sering kali terasa paling jauh.
- Din (Sleman, 4 Mei 2026. 21.23 WIB)
Komentar
Posting Komentar