Dari Pulau Pertama

  Matahari bersinar lembut pagi ini. Pepohonan mengayunkan daun-daunnya pelan. Air menggenang di jalan dan membuat tanah menjadi becek. Beberapa hewan sudah memulai hari sedari tadi. Dan tadi, aku melihat sekelompok burung bermigrasi. Ini bulan apa?

  Gunung itu masih terlihat gagah, seperti pertama kali aku menginjakkan kaki di pulau ini. Aku bisa memahami mengapa warga pulau ini sangat menghormatinya. Ia seperti dewa paling bijaksana yang menganugerahi hasil bumi secara cuma-cuma tanpa merusaknya. Begitupun cara pandang mereka yang menghormatinya: tidak merusak, tidak melukai, dan tidak mencemooh. Aku bisa melihatnya, harmoni antara manusia dan alam di sini.

  Di ujung bukit sana terdapat reruntuhan tempat persembahan dewa yang beralaskan dedaunan hijau. Langit dipenuhi gemerlap bintang dan selimut kemerahan dari undurnya sang mentari. Bebatuan tersusun rapi membentuk bangunan entah dari zaman kapan. Meski masih banyak yang baru saja dikeluarkan dari tanah dan berserakan. Sulit menyatukannya, tapi manusia-manusia itu bisa. Di tempat ini, leluhur tidak akan pernah terlupakan.

  Manusia di sini memiliki beragam ekspresi yang belum pernah aku lihat di pulau mana pun. Setiap goresan warna pada wajahnya memberi keindahan tersendiri. Ada yang mengekspresikan alam melalui matanya yang sebagian buta warna. Ada pula wajah sendu yang melihat hantu-hantu pulau berulah. Ada juga senyuman hangat dari harmoni pulau istimewa ini. Ada banyak sekali, dan sebaiknya keindahan ini kamu lihat sendiri.

  Alunan lagu di sepanjang jalan membuat pulau ini terasa hangat, sekalipun jauh. Aku bisa saja menangis hanya karena angin sepoi-sepoi ini, lagunya terlalu menyentuh hatiku. Aku ingin lebih lama di sini. Meraba setiap kenangan manusia yang pernah menyentuhkan kakinya di pulau ini. Tapi ini petualangan pertamaku.

  Air laut pasang belum datang. Angin penunjuk arah juga belum muncul. Kapalku masih terparkir di sana. Tapi aku tahu, waktu sudah bersiap menyeretku kapan pun ia mau.

  Ada banyak pulau di alam ini yang harus aku datangi. Tapi, apakah di luar sana akan ada pulau secantik ini? Ya, aku yakin.







-Din (Sleman, 4 Januari 2026. 16:57 WIB) 

Komentar