Kita dan Waktu
Aku ingin cerita tentang film Sore: Istri dari Masa Depan. Tapi yang ingin aku ceritakan bukanlah tentang sinopsis atau ulasan filmnya, melainkan tentang perasaanku setelah menontonnya.
Sebetulnya aku sudah pernah menonton serialnya di YouTube, dan memang bagus. Bahkan versi film yang aku tonton pun, meskipun aku sudah tahu ceritanya dari webseries, tetap terasa kuat. Porsi bagusnya sama. Aku suka karakter Sore yang diperankan siapa pun, aku suka pengambilan gambarnya, dan aku suka Jonathan yang diperankan oleh Dion. Aku suka aktingnya, sangat ekspresif. Tapi yang versi film ini terasa berbeda.
Sepanjang menonton, aku sangat menikmati pemandangan yang disajikan. Dan aku bilang ke diriku sendiri, "suatu saat aku harus melihat aurora dan salju yang terhampar luas." Mataku berkaca-kaca melihat itu. Aku hanyut dan seperti masuk ke dalam dunia filmnya.
Ketika melihat Jonathan, aku tahu mata itu. Rasanya seperti hidup dengan beban yang begitu besar. Bukan soal masalah finansial pastinya ya wkwk, tapi aku tahu itu adalah mata yang enggan untuk hidup, tapi mati pun mikir-mikir. Gimana ya... mungkin seperti masalah yang kelihatannya sepele di masa kecil, tapi menumpuk dan terus dipupuk hingga menjadi trauma. Intinya, aku tahu orang itu ingin merusak hidupnya sendiri. Aku sudah sering melihat mata-mata seperti itu ketika kuliah, bahkan ketika bercermin. Mungkin sesederhana disebut depresi atau mungkin jauh lebih kompleks dari itu.
Seperti ketika aku mempertanyakan lirik lagunya Nadin dan Sal Priadi, sebetulnya aku ini tumbuh di tempat yang terlalu baik atau hidup di antara badai? Semasa hidup, kayaknya hidupku memang tidak pernah benar-benar sunyi, justru sangat riuh. Tapi sekarang, aku bisa menangani diriku sendiri. Entah kalau seperti Sore. Effort-nya terlalu besar, hingga menciptakan banyak cabang pada titik krusial itu.
Ngomong-ngomong soal titik krusial, aku juga pernah berada di percabangan itu. Aku yakin semua orang pun pernah. Kalau kalian ingat, aku pernah membuat cerita fiksi berjudul Eonoia Gentari Amaraloka. Sebenarnya karakter itu aku bangun dari potongan diriku sendiri di masa kecil, sejauh yang bisa aku ingat. Dan sejujurnya, waktu itu aku ingin Eon mati di usia 30 tahun, bagaimanapun caranya. Tapi menulis cerita itu seperti membuka dan menyusun ulang album ingatan dan dari situ aku sadar: ternyata Eon layak hidup lebih lama daripada hanya berhenti di usia 30 tahun.
Hal magis terakhir yang aku temukan dalam film ini adalah lagu Barasuara – Terbuang dalam Waktu. Padahal aku sudah mendengarkannya sejak beberapa bulan lalu. Tapi rasanya, film Sore dan lagu itu memang ditakdirkan berjodoh. Cocok banget. Dan aku bisa memaknainya jauh lebih dalam: tentang Eon, tentang teman-temanku, tentang keluargaku, tentang diriku sendiri, dan tentang manusia.
Tentang betapa lemahnya kita di hadapan waktu.
Nb: Terima kasih kepada siapa pun yang terlibat dalam film ini. Akhirnya, aku menemukan satu kepingan puzzle yang selama ini aku cari.





Komentar
Posting Komentar