Jogja
Hari ini entah kenapa Jogja terasa lebih lambat dari biasanya. Padahal, dibanding Surabaya, Jogja memang selalu punya irama yang lebih tenang. Tapi malam ini, suasananya berbeda, rasanya lebih lengang, lebih ringan, dan lebih mendamaikan. Terima kasih untuk kebetulan kecil ini. Aku jadi bisa benar-benar merasakan Jogja... tanpa distraksi.
Waktu pertama kali pindah ke sini untuk bekerja, aku lumayan kaget. Bukan karena apa, tapi karena aku gak pernah menyangka akan benar-benar tinggal di Jogja. Ada yang pernah bilang ke aku, "Jogja (atau tepatnya Sleman) adalah tempat yang tepat untuk menyembuhkan luka. Kalau stres tinggal main ke Merapi." Mungkin itu benar. Karena dulu, sekitar tahun 2018, aku juga pernah menjalani pengobatan batin di sini.
Teman dekatku juga pernah berkata bahwa Jogja akan jadi tempat belajar sabar. Dan mungkin memang begitu. Dinda yang dulu mudah meledak-ledak, mungkin bisa dibilang pemarah, tapi sekarang jauh lebih mereda. Entahlah kalau menurut orang lain. Tapi aku tahu pasti, Dinda yang dulu tidak akan segan marah sampai orang lain ketakutan. Mungkin karena semakin dewasa. Mungkin juga karena Jogja tidak sepanas Surabaya. Mungkin karena sudah pernah mengalami beberapa masa paling sulit. Atau mungkin karena suasana Jogja sedikit demi sedikit merasuk dan menyentuh pangkal lukanya, memeluknya perlahan-lahan.
Ya, mungkin tulisan ini terdengar seperti meromantisasi Jogja. Tapi sebagai seorang penyintas, rasanya itu tidak berlebihan. Tentu Jogja juga punya kekurangan, seperti tempat-tempat lain di Indonesia. Masalah sampah, misalnya. Sejak awal datang, aku sudah cukup dibuat geregetan. Sayangnya, tak terlihat tanda-tanda upaya serius dari pemerintah maupun Kesultanan. Bahkan para aktivis pun terasa sunyi. Seolah tak ada yang benar-benar menyentil kebijakan.
Sebagai pendatang dari Jawa Timur, aku juga sempat kesulitan beradaptasi. Bahasa, misalnya. Meskipun ada bahasa Indonesia, tetap saja bahasa Jawa halus sering membuatku agak kesulitan. Tapi yang paling bikin aku gereget adalah kebiasaan “sungkan” yang begitu melekat di sini. Rasanya ingin bilang, "boleh kok mengkritik tanpa merasa bersalah." Tapi ya sudahlah, mungkin itu bagian dari tata krama yang dijaga.
Sudah hampir dua tahun aku tinggal di sini, banyak buku yang kubeli dan kubaca di Jogja. Bahkan sebenarnya ada banyak komunitas menarik di sini. Kadang aku berandai-andai, andai dulu aku kuliah di sini, mungkin aku akan belajar banyak hal dan lebih aktif di beragam komunitas. Tapi hidup membawaku ke Surabaya. Aku tidak menyesal, hanya membayangkan kemungkinan lain. Toh sekarang aku di sini, dan masih bisa mengejar itu, meski waktunya tidak sebebas ketika masih kuliah.
Dua hari lalu aku mengunjungi pameran patung di ISI Jogja. Ternyata itu karya seniman internasional. Aku jadi berpikir: mahasiswa di sini beruntung sekali, akses mereka ke dunia luar terasa lebih terbuka. Kampusku dulu seharusnya bisa belajar dari kampus seperti ISI maupun kampus-kampus lainnya. Jangan terlalu menutup diri.
Hari ini aku juga baru pulang dari Artjog. Nama-nama seniman yang terpajang, sebagian besar adalah alumni ISI Jogja, dan sebagian lagi dari ITB (Bandung). Dari situ aku sadar, dulu kampusku dan sebagian besar dosennya, secara sadar maupun tanpa sadar, sering mematikan kepercayaan diri mahasiswanya. Sulit sekali untuk pulih dari itu. Bahkan hari ini pun, aku belum bisa sepenuhnya percaya diri. Padahal sebagai desainer, caraku berekspresi adalah lewat karya, seperti halnya seniman. Mungkin sekarang saatnya aku belajar lagi. Untuk berani berekspresi. Untuk menjadikan karya sebagai ruang berekspresi. Aku akan mencari caranya.
Aku juga berpikir, kelak anakku harus merasakan tinggal di Jogja. Terutama di masa-masa belajarnya. Tadi aku melihat karya anak-anak dipajang dengan rapi, dipigura seperti karya seniman profesional. Aku bisa melihat ketulusan mereka. Karya yang murni, jujur, dan lepas. Aku ingin anakku kelak bisa bebas berekspresi seperti itu. Tidak takut salah. Tidak takut dinilai.
Dulu aku pernah berkata pada seorang teman, “Aku ingin tinggal di Jogja.” Dan sekarang aku di sini. Masih ada beberapa mimpi yang belum terwujud. Tapi selama masih di sini, aku akan berusaha mewujudkannya satu per satu.
-Din (Sleman, 21:48 WIB. 29/06/2025)
*nb: sepanjang perjalanan pulang tadi aku dengerin lagunya Hindia - everything u are. Aku menitipkan momen hari ini pada lagu itu untuk aku kenang suatu saat nanti.




Komentar
Posting Komentar