Penyakit Aneh
Cerpen yang aku tulis ini sebenernya buat lomba. Tapi, berhubung gak menang, jadi aku pos aja deh :v
Penyakit Aneh?
(Oleh Dinda Ayu Salsabila)
Dasar, Vino gila! Gara-gara dia aku kena
penyakit aneh. Entahlah apa nama penyakit itu. Aku sebut saja penyakit aneh. Gejala
penyakit ini benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku yang secerdas ini
mendadak menjadi bodoh dan tidak tahu apa-apa. Otakku yang tadinya isinya hanya
belajar, bermain, dan liburan mendadak berubah manjadi Vino, Vino, dan Vino. Aku
sering merasa bingung. Penyakit itu juga menyerang bagian yang aku sendiri
tidak mengetahui dimana tempatnya. Karena aku hanya bisa merasakannya. Rasanya
tidak enak, tapi menyenangkan. Ah entahlah, sulit untuk mendeskripsikannya. Untuk
gejala fisiknya, aku sering merasa mual, kenyang, dan tidak mau makan. Makanya
aku jadi kurus kering begini sekarang. Awas kamu, Vin!
Hari ini aku merasa ingin tidak mau masuk
sekolah. Bukan hanya karena tidak siap untuk menerima pelajaran setelah libur
panjang. Tapi juga karena aku masih belum siap ketemu si biang penyakit itu.
Bisa-bisa penyakit yang ada dalam diriku ini menjadi-jadi nantinya.
Heh?
Itu Vino? Kok beda ya?
Tiba-tiba saja, muncul sesosok orang yang
benar-benar aku kenal siapa dia. Tapi, kenapa rasanya ada yang aneh? Dia
terlihat lebih tampan. Padahal, sepertinya dia tidak mengubah gaya rambut atau
apa pun. Cara berjalannya pun tetap sama, sok preman. Terus, kenapa dia
terlihat tampan hari ini?
“Hei,
ngomong apa sih aku ini? Hus, hus, jangan gila Rachel,” kataku bergumam
sambil mengibaskan telapak tangan di depan wajahku untuk menyingkirkan pikiran
ngelantur barusan.
“Ish, dasar gila! Kenapa ngomong sendiri?”
Suara itu? Aku mengenal suara itu. Segera
aku dongakkan kepala dan melihat sekilas wajah menjijikkan Vino.
“Ah, enggak. Udah ah, aku masuk dulu,” aku
pun membalikkan tubuhku dan segera menuju ke kelas. Tapi,
“Hei, gimana? Jawab sekarang dong!”
tiba-tiba Vino menarik lenganku.
“Ih, apaan sih? Tauk, ah.”
Aku segera menuju ke ruang kelas. Vino
benar, liburan telah berakhir. Itu artinya dua minggu telah berlalu dan aku
harus membayar hutang untuk menjawab pertanyaan Vino waktu itu. Gimana ya? Masa
iya aku harus menjawab mau? Kan dia sahabatku dari kelas satu SD, sebelas tahun
yang lalu. Lagian aku tahu betul kekurangannya apa. Masa iya title-ku berubah menjadi pacar Vino?
Selama seharian di sekolah, kerjaanku
hanya menghindari Vino. Begitu pun keesokannya, keesokannya, dan keesokannya.
Pokonya sudah hampir satu bulan aku tidak bicara dengannya. Apalagi bermain
dengannya. Tapi, sepertinya Vino sama sekali tidak berusaha mencari dan mendekati
cewek yang dia sukai ini. Aku dibiarkan lumutan dan merasa asing sendiri.
Dasar, Vino!
Aku kenal betul siapa Vino. Dia cowok
playboy yang sok ganteng dan sok preman. Aku tahu ceweknya ada dimana-mana. Di
sekolah ini, di sekolah sebelah, ataupun yang ada di dunia maya. Menyebar
semua. Terus, emang ada alasan yang logis untuk aku menerimanya?
Sepulang sekolah hari ini pun aku
melihatnya membonceng kakak kelas cantik. Aku tahu kalau kakak kelas yang dia
bonceng itu suka dengannya. Entahlah siapa nama kakak kelas itu. Aku tidak
peduli. Hari ini mungkin akan menjadi hari jadian mereka. Rayuan mautnya pasti
akan membuat semua cewek terpanah. Apalagi kalau si cewek dari awal sudah suka
dengannya. Ah, sudahlah. Aku pulang saja. Daripada melihat dan memikirkan hal
tidak penting. Lagipula, sepertinya dia tidak peduli meski aku memasang mimik
marah karena melihatnya tidak berubah. Itulah dia, tidak akan pernah berubah. Sekalipun
bisa-bisanya dia nembak sahabatnya sendiri dan mulai menyakitinya.
Malam pun tiba, langit berubah menjadi
gelap. Perasaanku masih tidak karuan. Rasa khawatir dan terus memikirkannya
datang bertubi-tubi. Aku tidak bisa menahannya lagi. Ini sudah terlalu
menyakitkan. Aku tidak kuat. Ahh!
“Rachel! Woi, Rachel! Keluar dong!”
Gila! Benar-benar gila! Kenapa Vino datang
kesini? Ini benar-benar waktu yang tidak tepat. Ah, kenapa di saat perasaanku
kacau balau dan tidak siap untuk melihatnya sih?
“Apaan sih, Vin? Jangan teriak-teriak
dong!” kataku saat keluar menemuinya.
“Chel, aku bener-bener gak kuat. Nyerah
aku, Chel,” katanya sambil menepuk pundakku. Apaan sih? Kenapa malah jadi dia yang bilang gak kuat ke aku?
“Gak kuat kenapa sih?”
“Aku suka sama kamu. Jawab sekarang, ya?
Aku pusing di rumah karena terus-terusan nebak jawaban kamu. Jangan buat aku
bingung, Chel!”
“Hei, Vin! Harusnya aku yang bilang gitu.
Jangan buat aku bingung dong, Vin. Aku capek. Aku capek terus-terusan mikirin
kamu. Kenapa aku harus suka sama kamu juga? Aku gak mau jadi cewek gila yang
mau-maunya sama kamu. Aku tahu betul kamu,Vin. Aku tahu semua kekuranganmu.
Terus, kenapa aku masih suka sama kamu? Bodoh aku, Vin.”
Tiba-tiba, air mataku menetes. Aku memeluk
tubuhnya dengan bau parfum yang aku kenal betul juga. Aku merasakan Vino mulai
mengusap kepalaku dengan lembut.
Inilah
kebodohanku yang membiarkan penyakit aneh ini terus menyebar dan
menggerogotiku.

Komentar
Posting Komentar