Di Bawah Pohon Bulan dan Bintang (part 1)

aku gak tahu mau nulis apa lagi ini. yaudah, silahkan membaca :D




Di Bawah Pohon Bulan dan Bintang
(Dinda Ayu Salsabila)

Bulan

      Hari ini adalah hari memuakkan menurutku. Tadi itu, aku benar-benar jadi bad mood sendiri di sekolah. Untungnya, aku bisa melewati hari ini. Meski menurutku waktu berjalan sangat lama tadi. Tapi, setidaknya aku terbebas dari beban yang aku tumpuk di sekolah tadi. Tentunnya terlepas dari tugas sekolah. Ini masalah batin.

      Aku benar-benar lega bisa segera ke tempat ini. Di bawah pohon rindang belakang sekolah. Ya, di tempat ini aku bisa merenungkan semua yang menjadi beban pikiranku. Biasanya, aku akan tertidur setelah menceritakan semuanya. Entah pada siapa. Pada diriku sendiri mungkin. Bisa dibilang aku mendongengkan diriku sendiri sebelum tidur siang. Tapi, setelah aku bangun, terkadang moodku menjadi lebih baik. Semoga.

      Siang ini, mentari bersinar terik sekali. Tapi di sini tak ‘kan terasa panas. Tapi tetap saja hatiku rasanya panas sekali. Mungkin, ini hati mau meleleh. Atau mungkin, sudah hampir ludes terbakar. Sebenarnya, bisa dibilang masalah ini bukan masalah besar. Bahkan bisa dibilang masalah kecil. Tapi, aku benar-benar kesal karena ini semua. Bagaimana tidak, lagi-lagi karena ini aku jadi membenci namaku. Tepatnya nama pemberian orang tuaku. Bulan. Ya, itu nama yang menjijikkan menurutku. Yaiyalah aku jadi sebel banget sekarang dikasih nama itu. Mungkin orang tuaku memberi nama Bulan padaku karena mereka berharap aku akan bersinar terang bahkan paling terang di antara bintang-bintang dan langit. Tapi ayolah, apa mereka tidak sadar akan kenyataannya. Secara ilmiah kan sudah dijelaskan bahwa bulan sama sekali tidak bisa memancarkan cahaya sendiri. Seterang apapun dia bersinar, tetap saja cahayanya berasal dari bintang. Dengan kata lain, bulan sama sekali tidak akan terlihat indah tanpa bintang. Penjelasan ini sangat pas untuk kehidupan Bulan sesungguhnya. Kehidupanku tepatnya.

      Entah karena suatu kebetulan atau apa hingga karakter dan kehidupanku sangat mirip dengan bulan di luar angkasa sana. Oke, di sini ceritanya aku yang bernama Bulan suka sama cowok yang bernama Bintang. Dia teman satu kelas SMA ku. Aku gak tahu pastinya, kenapa aku suka sama dia. Tapi yang pasti, dia selalu bersikap baik padaku. Aku juga tidak tahu pastinya, kapan aku mulai suka padanya. Padahal sejak awal aku kenal dia, sikapnya selalu sama. Ya, tetap baik. Tapi, aku pikir dia selalu bersikap baik pada siapa saja. Jadi, bukankah itu sama sekali tidak istimewah?

      Awalnya, aku tidak tahu sama sekali kalau aku suka padanya. Tapi semakin lama, semakin aku kenal dia, rasanya semua berbeda. Aku jadi lebih suka berada di dekatnya. Apalagi kalau dia mau mendengarkan ceritaku. Padahal, aku tidak terlalu dekat dengannya. Aku hanya menceritakan pada dirinya yang lain. Dirinya yang selalu menemani bulan di langit malam. Jadi intinya aku hanya merasa dekat pada dirinya yang lain, bukan dirinya yang sesungguhnya. Jelas saja aku tidak dekat dengan dirinya yang sesungguhnya. Karena aku terlalu malu untuk memulai pembicaraan dengannya. Dengan kata lain, aku jarang sekali berbicara apalagi bergurau dengan dirinya. Kami hanya berbicara kalau ada hal penting saja.

      Sampai suatu saat aku melihatnya berjalan menuju suatu tempat lapang yang terlihat jelas dari tempatku sekarang. Aku ingat, waktu itu kami masih duduk di kelas sepuluh. Waktu itu aku hanya duduk sambil mendengarkan lagu di sini. Aku melihatnya duduk sambil membaca buku di sana. Di sana juga terdapat pohon, tapi pohonnya tidak serindang di sini. Sehingga cahaya mentari tetap masuk dan menghangatkan bahu kanannya. Tak lama setelah dia datang dan membaca buku, datang dua orang anak kecil yang terlihat kumuh dengan kaos abu-abu itu. Aku melihat anak-anak tersebut membawa kaleng bekas dan kecek-kecek yang terbuat dari tutup botol minuman. Mereka terlihat seperti pengamen. Tapi waktu itu aku berpikir, ah masa iya Bintang bermain dengan pengamen. Tapi, ada yang aneh aku rasa. Anak-anak tersebut membawa buku tulis yang tergulung dalam genggaman mereka. Astaga, ternyata si Bintang mau mengajari anak-anak tersebut membaca dan menulis. Mungkin, sejak dari itu aku mulai semakin suka padanya dan semakin sering datang ke tempat ini. Untuk melihatnya.

      Tapi yang namanya cerita kehidupan gak akan lengkap tanpa adanya konflik meski peran utamanya gak pernah dekat dengan peran kedua. Tapi tetap saja, aku sebaga peran utama dalam kehidupanku merasa mulai semester kemarinlah konflik dimulai. Saat itu aku yang menjadi secret admirernya memberanikan diri untuk memulai menyatakan perasaanku padanya. Ya, secara langsung saat kami pulang sekolah. Tepat dibawah pohon ini. Waktu itu aku gak tahu mau bilang apa kepadanya. Tapi, aku langsung bilang to the point ke dia. Dengan menundukkan kepalaku aku bilang, “Tang, aku suka sama kamu. Sst, sudah jangan bilang apa-apa. Aku gak mau kamu menjawab apa-apa”. Aku pun langsung lari meninggalkannya tanpa melihat ekspresinya setelah aku menyatakan kepadanya. Aku memang tidak mau melihat wajahnya saat itu. Karena aku tidak mau mendapat respon apa-apa darinya. Ya, semoga aja besok dia bersikap biasa saja dan melupakan apa yang barusan aku katakan. Itu yang aku pikirkan saat itu.

      Setelah kejadian itu semua, dia memang bersikap biasa saja seolah semua itu tak terjadi. Apa itu mimpi? Ataukah khayalanku semata? Suatu hari, kelasku kedatangan murid baru. Dia pindahan dari luar kota. Namanya Titan. Dia anaknya baik. Dia juga lumayan dekat denganku. Dan juga dekat dengan Bintang. Entahlah, semenjak kehadiran Titan, Bintang jadi semakin aneh. Dia cenderung jauh lebih dekat dengan Titan ketimbang denganku. Jelas saja aku sewot banget. Selama ini aku tidak pernah sedekat itu dengannya. Eh, Titan yang baru pindah ke sekolah ini langsung dekat banget dengan Bintang. Oke, ini memang bukan salah Titan, ini salahku. Ya, salah siapa aku tidak mau dekat dengannya selama ini. Tapi aku kan sudah bilang, aku malu. Tapi anehnya, kenapa aku gak malu ya saat itu? Ah, sudahlah.

      Hari ini, mungkin adalah puncaknya. Mungkin mulai hari ini dia akan semakin dekat dengan Titan. Karena apa, Titan tadi menyatakan perasaannya pada Bintang. Huh, kenapa aku sebel sih. Padahal aku kan sudah menyatakannya lebih dulu kepada Bintang. Tapi entah mengapa aku merasa hari ini bakalan sukses pernyataan cinta Titan kepada Bintang. Jelas saja aku bilang seperti itu, Titan kan baik banget. Belum lagi, selama ini Bintang memang dekatnya dengan Titan, bukan denganku. Trus, kenapa aku marah? Aku kan gak berhak. Tadi, aku malah pergi ke perpus dan tidak melihat kejadian itu semua. Aku takut untuk mendengar dan melihatnya. Tapi untungnya bel segera berbunyi, sehingga aku bisa cepat-cepat keluar dari sekolah dan segera menuju ke tempat ini.

      Setetes demi setetes air mataku turun membasahi pipiku. Dadaku juga naik turun mengulang ceritaku tadi. Mataku semakin tertutup rapat dan berharap aku tak ‘kan bangun nanti. Jadi, karena inilah aku membenci nama dan diriku. Aku yang terlalu iri kepada orang baik seperti Titan. Dan juga, aku yang tidak berani mendekati Bintang. Aku kesal sekali. Kenapa aku tidak bisa apa-apa? Kenapa aku tidak bisa dekat dengan Bintang? Aku kesal dengan diriku sendiri yang tak mampu berbuat apa-apa lagi tanpa Bintang. Hanya bisa menangis seperti ini.

      Aku hanyalah bulan. Yang tidak bisa memancarkan cahaya sendiri seperti bintang. Yang selalu tergantung pada bintang. Yang hanya akan terlihat ceria ketika bintang ada. Yang hanya selalu bisa memandangi bintang tanpa berani mendekatinya.

      Aku hanyalah bulan. Tidak seperti titan yang terlihat cantik disamping bintang. Terlihat serasi ketika mereka bersama. Tidak seperti aku, ketika bulan ada untukku. Aku malah bersinar terang dan malah membuatnya terlihat redup.

      Benar, aku hanyalah bulan yang tak berarti apa-apa tanpa bintang.

Komentar